PBB Sebut Sudan Selatan Tak Ramah Jurnalis

PBB Sebut Sudan Selatan Tak Ramah Jurnalis

SOLOPOS.COM - Perang saudara di Sudan Selatan (JIBI/Reuters/Goran Tomasevic)

PBB menyebut wilayah Sudan Selatan tidak ramah bagi jurnalis.

Solopos.com, JUBA – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut Sudan merupakan negara yang tidak ramah bagi jurnalis. Sebab, selama beberapa tahun terakhir ini ada sekitar 60 insiden kekerasan terhadap jurnalis di Sudan Selatan. Sejumlah jurnalis yang bertugas di wilayah itu mendapat kekerasan fisik yang mengancam kehidupan mereka.

Dikutip dari Reuters, Jumat (23/2/2018), Perwakilan PBB di Sudan (UNMISS) Selatan mengatakan, ada sekitar 102 wartawan dan aktivis yang mengalami kekerasan. Mereka diperlakukan sewenang-wenang ketika bertugas. Bahkan, kabarnya pemerintah setempat sering menolak visa untuk koresponden asing di sana.

“Wartawan sering menjadi korban kekerasan di Sudan Selatan. Pemerintah memberlakukan aturan yang terlalu ketat bagi jurnalis yang bertugas di wilayah Sudan Selatan. Akibatnya, mereka akan mendapat perlakuan tak menyenangkan jika menuliskan berita yang dianggap menghina pemerintah,” kata perwakilan UNMISS, David Shearer.

Peraturan dan kekerasan tersebut memberikan dampak buruk bagi masa depan media massa. Seorang jurnalis tidak bisa dengan leluasa menuliskan informasi, apalagi jika sifatnya merugikan pemerintah.

“Kekerasan ini memberikan efek buruk pada kebebasan berekspresi. Selain itu, peraturan yang ketat itu mempersempit ruang diskusi publik,” sambung David Shearer.

David Shearer menambahkan, ada sembilan perusahaan media massa yang ruang geraknya dibatasi. bahkan, ada sekitar 20 wartawan asing yang ditolak masuk ke negara itu setelah menerbitkan laporan yang tidak disukai pemerintah. Mereka dianggap sebagai wartawan yang berbahaya bagi pemerintah Sudan Selatan.

Maklum saja, selama ini wilayah Sudan memang dilanda konflik. Perang sipil yang terjadi selama empat tahun belakangan membuat jutaan penduduk negara ini terpaksa mengungsi. Hal inilah yang menjadi fokus utama para jurnalis. Sayang, pemberitaan soal krisis kemanusiaan ini dianggap sensitif sehingga tidak disukai pemerintah.

Berita Terkait

Berita Terkini

Setahun Proses Seleksi, 3 Jabatan Eselon II Pemkab Klaten Akhirnya Terisi

Bupati Klaten Sri Mulyani melantik tiga pejabat yang mengisi tiga jabatan eselon II yang selama setahun ini melewati proses seleksi.

Kisah ABG Klaten Terobos Penyekatan: Niat Beli Makan Ke Jogja, Pulang Jadi Tersangka

ABG Klaten yang nekat terobos penyekatan pemudik di Pospam Prambanan niatnya pergi ke Jogja untuk beli makan buat buka puasa.

Dikhawatirkan Picu Kerumunan, Pasar Tiban di Pekalongan Dibubarkan

Meningkatnya aktivitas warga menjelang Lebaran, terutama di Alun-alun Kota Pekalongan rawan memicu penyebaran virus corona.

Jadwal Imsak dan Magrib di Solo Hari Ini, Selasa 11 Mei 2021

Di bawah ini ada jadwal imsak dan magrib Kota Solo di Jawa Tengah hari ini, Selasa, 11 Mei 2021 dari Kementerian Agama atau Kemenag.

Warga di 12 Padukuhan di Sleman Dilarang Salat Id Berjamaah

Kalau sudah zona merah, salat Idulfitri baik di masjid maupun lapangan tidak dibolehkan.

Kemenag Jateng Sebut Sudah 300 Ulama Meninggal Akibat Covid-19

Data dari Kementerian Agama pusat ada 300 ulama yang meninggal akibat terpapar Covid-19 se-Indonesia.

Kemenhub Ungkap Potensi Warga Mudik Besok

Kemenhub memperkirakan aktivitas mudik bakal terjadi lagi, Selasa (11/5/2021) besok dan Rabu (12/5/2021) lusa.

Tambang Emas Longsor di Sumbar, 4 Meninggal

Asnedi mengatakan longsor di lokasi tambang itu bukan sekali ini terjadi. Sebelumnya, menurut Asnedi, lokasi tambang itu pernah longsor Januari lalu.

Ustaz Tengku Zulkarnain Meninggal, Dinkes Tracing Safari Dakwah

Dinkes Riau meminta puskesmas yang wilayahnya ketempatan safari dakwah Ustaz Tengku Zulkarnain segera melalukan tracing kontak fisik.

Mudik Dilarang, Pedagang di Madiun Ngeluh Pasar Sepi Jelang Lebaran

Jika dibandingkan dengan momen Lebaran tahun-tahun sebelumnya, tahun ini kondisi pasar menjadi paling sepi.

Usulan Liga 1 Tanpa Degradasi, Presiden Pasoepati: Ini Kompetisi atau Tarkam?

Presiden Pasoepati, Maryadi Gondrong, menyayangkan munculnya gagasan kompetisi tanpa degradasi di Liga 1 maupun Liga 2. Menurut Gondrong, liga tanpa degradasi sama saja mengebiri ruh kompetisi.