PB X Pahlawan Nasional
Paku Buwono (PB) X (karatonsurakarta.com)
Paku Buwono X (karatonsurakarta.com)

Solo (Solopos.com)--Paku Buwono (PB) X bakal mendapat gelar Pahlawan Nasional, Selasa (8/11/2011). Pemberian gelar Pahlawan Nasional itu dinilai sebagai kemenangan warga Kota Bengawan.

Rencananya, pemberian gelar Pahlawan Nasional itu diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara.

Seorang Panitia Penyiapan Penganugrahan Gelar (PPPG) Pahlawan Nasional untuk PB X, Sri Danardono, mengungkapkan setelah penghargaan itu diterima oleh keluarga, penghargaan itu akan diserahkan kepada Walikota Solo.

”Nantinya penghargaan itu akan kami serahkan kepada Walikota Solo supaya bisa menjadi milik bersama masyarakat. Sebab yang namanya penghargaan itu kan bukan milik kami sendiri melainkan milik bersama,” tegasnya melalui sambungan telepon.

Dengan adanya gelar Pahlawan Nasional bagi PB X, Danardono berharap masyarakat Kota Bengawan bisa lebih meneladani kiprahnya dalam membangun bangsa dan negara. ”Jangan hanya diingat tapi dicontoh segala perjuangannya.”

Dengan diberikannya gelar Pahlawan Nasional untuk PB X, Danardono berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Solo bisa memberikan perhatian lebih kepada para pahlawan.

”Setelah Slamet Riyadi sekarang berganti PB X. Artinya di Solo itu kan banyak Pahlawan Nasional. Kami berharap nantinya bukan hanya sebagai Kota Budaya Solo dikenal melainkan juga Kota Pahlawan,” ujarnya.

Supaya Solo bisa menjadi Kota Pahlawan, Danardono menambahkan Pemkot bisa membuat semacam museum untuk menghormati jasa-jasa para pendahulu. Khususnya, para tokoh-tokoh Solo yang kiprahnya sampai di tingkat nasional.

Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada PB X disambut rasa bahagia sejumlah kalangan di Kota Bengawan, di antaranya Pejabat Humas Paku Buwono (PB) XIII Tedjowulan, KRH Bambang Pradotonagoro serta Ketua DPRD Solo, YF Sukasno.

Mereka berharap masyarakat Solo bisa mengekspresikan kegembiraan atas keputusan pemerintah pusat tersebut dengan cara memelihara serta merawat peninggalan PB X di berbagai bidang.

”Pemberian gelar pahlawan untuk PB X kami nilai memang sudah saatnya. Sekian lama kami berjuang akhirnya usaha tersebut sekarang ini membuahkan hasil. Dan yang perlu dicatat, ini sebenarnya bukan keberhasilan Keraton semata melainkan keberhasilan seluruh masyarakat Solo,” tutur Bambang.

Menilik kiprah PB X, lanjut Bambang, yang bersangkutan memang layak dan pantas mendapat gelar Pahlawan Nasional.

”Peninggalan PB X sangat banyak dan beragam. Memang masyarakat lebih mudah melihat peninggalan beliau yang berupa bangunan fisik. Namun sebenarnya di bidang pendidikan, peran beliau juga tidak kalah besar, salah satunya melalui program beasiswa,” tandasnya.

Lewat program beasiswa, lanjut Bambang, PB X berhasil mencetak sejumlah tokoh penting bagi Bangsa Indonesia. Salah satunya adalah Dr Radjiman Wedyoningrat.

”Kami berharap supaya kegembiraan dan kebanggaan masyarakat itu bisa diwujudkan dengan cara merawat serta memelihara segala peninggalan beliau,” tegasnya.

Upaya merawat peninggalan PB X, disebut Bambang salah satunya dengan memelihara dan mempertahankan Stadion Sriwedari.

”Bayangkan saja di saat pemerintahan beliau, Solo punya stadion bertaraf internasional yaitu Stadion Sriwedari. Kenapa dikatakan bertaraf internasional karena Sriwedari adalah satu-satunya stadion yang punya lampu sebagai penerangan serta drainase. Untuk pembangunan stadion itu, PB X menghabiskan dana sekitar 30.000 gulden,” ujarnya.

Hal senada diungkap Ketua DPRD Solo, YF Sukasno. Dikatakannya, keputusan pemerintah pusat yang memberikan gelar pahlawan nasional kepada PB X sangatlah tepat. ”Keputusan itu sudah sesuai dengan aspirasi masyarakat Solo. Jadi ini merupakan kemenangan kita semua,” tuturnya.

Kasno mengaku lega dengan pemberian gelar pahlawan nasional kepada PB X. ”Gelar pahlawan nasional untuk PB X sudah beberapa kali diusulkan Walikota maupun DPRD secara tertulis kepada pemerintah pusat. Yang saya ingat persis, terakhir usulan itu kami sampaikan kepada DPR pada 2010 lalu. Kalau tidak salah awal perjuangan ini dimulai pada 2006,” bebernya.

(Ayu Prawitasari)



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom