Petugas operasional Waduk Lalung memotong rumput di pinggiran waduk, Kelurahan Lalung, Karanganyar, Kamis (25/7/2019). (Solopos/Wahyu Prakoso)

Solopos.com, KARANGANYAR -- Pintu air Waduk Lalung Karanganyar ditutup sejak sepekan lalu. Hal ini berdampak pada pasokan air irigasi ke lahan pertanian.

Untuk mengairi sawah, para petani memanfaatkan sumur bor yang berarti juga tambahan biaya produksi. Koordinator Petugas Bendungan Lalung Karanganyar, Agus Paryanto, menjelaskan penutupan pintu air sesuai kebijakan pola operasi Waduk Lalung.

Saat ini volume air Waduk Lalung tinggal sekitar 700.000 meter kubik dari total volume maksimal sesuai daya tampung sebanyak 4,44 juta meter kubik.

“Setelah masa tanam II sudah selesai kami tutup pintu air. Biasanya para petani beralih menanam palawija,” katanya kepada Solopos.com saat ditemui di kantornya, Kamis (25/7/2019).

Dia menjelaskan waduk yang dibangun pada tahun 1940 tersebut mengairi sawah seluas 2.000 hektare di tiga wilayah kecamatan di Karanganyar yaitu, Jaten, Tasikmadu, dan Karanganyar, serta Kecamatan Mojolaban di Kabupaten Sukoharjo.

“Kami menjaga batas minimal elevasi air. Saat ini elevasi 144,95 meter [di atas permukaan laut/mdpl] sedangkan elevasi maksimal sesuai daya tampung 152 mdpl. Apabila air waduk habis tubuh bendungan kering dan labil sehingga ketika ada air pada musim penghujan bendungan rawan rusak,” ujarnya.

Dia menjelaskan dua tahun lalu Waduk Lalung longsor di dua lokasi dan petugas operasional tidak berani mengambil risiko dengan mengisi hingga volume maksimal. Hal tersebut sudah dilaporkan oleh petugas operasional ke Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, saluran irigasi sudah tidak mengairi sawah ke tiga kecamatan. Sebagian tanaman padi pada lahan-lahan pertanian sudah dipanen. Sedangkan sebagian tampak siap panen.

Salah satu petani dari Desa Suruhkalang, Kecamatan Jaten, Sarimin, 68, mengatakan padi yang ia tanam di lahan seluas 3.000 meter persegi baru berusia 70 hari. Untuk mengairi sawah ia akan menggunakan air dari sumur terdekat.

“Satu pekan terakhir sudah tidak dapat pasokan air dari saluran irigasi. Untuk mengairi sawah saya akan menggunakan sumur bor. Kira-kira dua kali pengairan baru bisa panen. Sekali mengairi sawah menghabiskan Rp200.000. Kalau sejak awal mengairi sawah dengan sumur bor, bagi hasil panen satu banding tiga,” ujarnya.

Petani lainnya, Dalimin, 65, mengatakan sudah memanen padi di lahan seluas 3.000 meter persegi dengan hasil gabah kering panen sebanyak 17 kuintal pada pekan lalu. Walau sudah tidak ada pasokan air dari irigasi waduk, ia tetap menanam padi dengan memanfaatkan sumur bor milik petani lain.

“Saya tetap tanam walau hanya dapat untung sedikit. Petani membagi hasil panen dengan pemilik sumur. Hasil panennya satu banding tiga. Satu untuk pengelola air dan tiga untuk petani,” ujarnya.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten