Pasokan Air dari Waduk Cengklik Boyolali Menyusut, Petani Berhemat
Nelayan, pemilik perahu wisata, dan warga menggelar upacara bendera di tengah Waduk Cengklik, Ngemplak, Boyolali, Kamis (16/8/2018). (Solopos-Sunaryo Haryo Bayu)

Solopos.com, BOYOLALI -- Debit air di Waduk Cengklik, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, semakin menyusut.

Dalam tiga hari, aliran air dari Waduk Cengklik ke saliran irigasi semakin berkurang hingga 100 liter per detik.

Untuk diketahui, aliran air Waduk Cengklik Boyolali pada Senin (15/10/2018) berada pada angka 300 liter per detik.

Air mengalir lewat Bendung Irobayan di Desa Gagaksipat dan mampu menjangkau aliran di sejumlah desa di antaranya Sindon, Gagaksipat, dan Dibal.

Namun sejak Kamis (18/10/2018) debit air yang mengalir maksimal hanya 200 liter per detik dengan jangkauan lahan pertanian di tiga desa yang sama.

"Sebisa mungkin kami melakukan penghematan agar musim tanam pertama (MT 1) ketersediaan air cukup," ungkap Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Tri Mandiri, Samidi, ketika berbincang dengan solopos.com, Sabtu (20/10/2018) siang.

Sejauh ini total ketersediaan air di Waduk Cengklik tinggal 2,3 juta meter kubik (m3).

Dari jumlah total tersebut hanya 1,2 juta m3 yang dapat digunakan sebagai irigasi pertanian, sisanya 1,1 juta m3 digunakan sebagai cadangan pengaman bendung dan penguapan.

Samidi menambahkan kini satu-satunya cara meningkatkan debit air di Waduk Cengklik adalah dengan menunggu hujan.

Padahal sejak MT 1 dimulai awal September lalu hujan baru terjadi dua kali, yaitu pada Jumat (21/9/2018) dan Senin (15/10/2018).

Dampaknya kini keterjangkauan irigasi menjadi sangat terbatas. Pada kondisi debit normal sekitar 12 juta m3 irigasi Cengklik dapat menjangkau 19 desa di tiga kecamatan yaitu Ngemplak, Simo, dan Sambi.

Sementara kini daerah irigasi hanya meliputi desa-desa terdekat seperti Donohudan, Dibal, Gagaksipat, Sindon, dan Sobokerto.

Sebelumnya, Saluran Irobayan sepanjang 3 km dibersihkan pada Selasa (16/10/2018) lalu.

Salah satu petani asal Desa Pandeyan, Widodo, yang saat itu ikut dalam kerja bakti berharap upaya ini mampu memperlancar musim tanam di Ngemplak.

"Biasanya saat hujan atau air melimpah tanaman dibiarkan begitu saja, tapi ini sedang kemarau, semoga pengairan ke sawah-sawah bisa lancar," kata Widodo. 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom