Pasien Tak Mampu Boleh Bayar Seikhlasnya di Klinik Aisyiyah Sragen
Ilustrasi warga miskin. (Solopos-dok)

Solopos.com, SRAGEN Bidang kesehatan menjadi salah satu dari lima pilar layanan yang dimiliki Lembaga Amil Zakat Infaq Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Sragen, selain pendidikan, ekonomi, sosial kemanusiaan, dan dakwah.

Di bidang ini ada tiga program yang dilaksanakan oleh Lazismu Sragen, yaitu layanan peduli kesehatan, layanan Indonesia Mobile Clinic (IMC) atau ambulans, serta pendampingan layanan kesehatan di Klinik Aisyiyah Sragen.

Layanan ambulans gratis Lazizmu Klinik Aisyiyah Sragen.
Layanan ambulans gratis Lazizmu Klinik Aisyiyah Sragen.

Bantuan Kesehatan Lazismu Sragen

Terhitung sejak November 2018 hingga November 2019, Lazismu Sragen telah menyalurkan bantuan kesehatan kepada 70 jiwa dengan total nilai Rp39,9 juta.

Bentuk layanan kesehatan itu meliputi bantuan pengurusan administrasi kartu Saraswasti, pembayaran premi BPJS Kesehatan, biaya pengobatan dan operasi.

“Pokoknya bantuan kesehatan itu harus diberikan secara tuntas kepada pasien,” terang Manajer Program Media Lazismu Sragen, Rizki Arif Hernawan, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Sabtu (1/2/2020).

Ambulans Gratis Lazismu Sragen

Guna menunjang pelayanan kesehatan, saat ini Lazismu Sragen mengoperasikan tujuh unit mobil ambulans selama 24 jam melalui program IMC.

Dalam setahun terakhir, sebanyak 517 jiwa telah mendapat layanan ambulans gratis dari Lazismu Sragen dengan biaya Rp180,8 juta.

Layanan ambulans itu bersifat gratis tanpa ada biaya antar, biaya bahan bakar minyak (BBM), biaya sopir, rokok dan lain sebagainya.

Tak Hanya di Sragen

“Ambulans ini melayani penjemputan jenazah dan antar-jemput pasien. Layanan kami tidak hanya di Sragen, tetapi juga luar Sragen. Mobil ambulans kami pernah menjangkau Jakarta dan Madura,” papar Rizki.

Layanan Kesehatan Biaya Seikhlasnya

Sejak 2013, Lazismu Sragen memberikan pendampingan kepada Klinik Aisyiyah Sragen. Klinik Asiyiyah tidak seperti klinik kesehatan pada umumnya yang berorientasi pada profit.

Klinik ini memberikan pelayanan kesehatan kepada kaum tidak mampu dengan biaya seikhlasnya atau sukarela.

Di klinik ini, pasien dari kalangan warga mampu disebut pasien donatur. Biaya pengobatan yang dikeluarkan orang itu disebut sedekah.

Sebab, sebagian dari biaya itu digunakan untuk menyubsidi pasien dari kalangan warga tidak mampu.

Pelayanan Kesehatan yang Maksimal

Guna memaksimalkan pelayanan kesehatan, Klinik Aisyiyah Sragen telah memindah ruang rawat inap menjadi satu kompleks dengan gedung utama.

Pada awalnya, Klinik Aisyiyah masih menyewa bangunan untuk gedung rawat inap. Antara gedung utama dengan gedung rawat inap berjarak sekitar 150 meter yang dipisahkan jalan umum.

Ruang rawat inap yang baru kini menempati bangunan bekas rumah warga yang sudah dibebaskan.

Uluran Tangan dari Donatur

“Untuk membebaskan tanah dan renovasi bangunan rawat inap itu, kami masih terbebani utang senilai Rp1,210 miliar. Kami berharap ada uluran tangan dari para donatur untuk meringankan beban itu. Kami juga berencana membangun IPAL [Instalasi Pengolahan Air Limbah] supaya bisa lolos akreditasi,” terang Rizki.

Direktur Klinik Aisyiyah Sragen, dr. Virani Rizatania, mengatakan terdapat 80-100 pasien yang berobat ke klinik yang dikelolanya.

Sebanyak 15-20% di antaranya merupakan pasien dari keluarga kurang mampu.

Menurutnya, bangunan yang sudah dibebaskan itu sudah direnovasi dan kini dipakai untuk enam kamar rawat inap dan satu kamar nifas.

Di belakang bangunan masih ada lahan kosong yang bisa dibangun empat kamar rawat inap.

“Dengan tambahan lahan itu, maka kami memiliki sekitar 900 meter persegi lahan. Sebelumnya, kami hanya menempati lahan seluas 470 meter persegi,” jelas Riza. (Adv)


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho