Tutup Iklan
Pasien Positif Covid-19 Tidak Jujur, Satu Desa di Ponorogo Ditutup
Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, menyampaikan penjelasan terkait perkembangan kasus Covid-19 di Ponorogo kepada wartawan, Jumat (10/4/2020). (Istimewa-Pemkab Ponorogo)

Solopos.com, PONOROGO -- Desa Panjeng, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, kembali ditutup setelah satu warganya terkonfirmasi positif Covid-19. Desa ini ditutup setelah seorang pasien tidak jujur dalam memberikan keterangan kepada tim medis.

Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, mengatakan ada satu warga di Desa Panjeng yang tidak jujur saat ditanya oleh tim medis. Hingga akhirnya pasien berjenis kelamin laki-laki berinisial RN itu meninggal dunia.

Ipong mengatakan sebelumnya RN datang ke Puskesmas Jenangan dengan kondisi demam suhu tubuh mencapai 39 derajat Celcius. Petugas medis kemudian mencecar pasien ini terkait riwayat perjalanannya dari luar kota.

"Tim medis berulang kali menanyai riwayat perjalanan dari luar kota. Tetapi pasien ini menjawabnya tidak pernah dari luar kota. Pasien kemudian diberi injeksi pereda nyeri. Dan dikatakan kalau ada keluhan belum berkurang segera ke rumah sakit," jelas Ipong, Sabtu (4/7/2020) malam.

Selang dua hari, kata bupati, kondisi kesehatan pasien menurun lagi. Kemudian pasien datang ke RS Darmayu Ponorogo. Pasien ini didiagnosis mengalami gangguan pencernaan dan sempat dirawat di rumah sakit selama lima hari.

Tim medis rumah sakit itu pun sempat melakukan rapid test terhadap pasien. Tetapi hasilnya non-reaktif. Selain itu, hasil rontgen juga normal. Atas bukti-bukti kesehatan itu, pasien tidak dilakukan pengambilan swab untuk tes PCR. Setelah beberapa hari dirawat, pasien ini pun pulang karena dinyatakan sudah sembuh.

Dua hari di rumah, lanjut Ipong, pada  30 Juni 2020 pasien kembali mengalami lemas. Tiba-tiba pada malam harinya pasien tisak sadarkan diri. Pasien langsung dibawa ke rumah sakit. Tetapi, tidak sampai di UGD rumah sakit pasien pun telah dinyatakan meninggal dunia.

"Saat itu, dokter menyimpulkan pasien meninggal dunia karena penyakit jantungnya. Sehingga pemakaman dilakukan dengan cara biasa [tanpa protokol pemakaman jenazah Covid-19]," jelasnya.

 

Curiga

Satu hari setelah meninggal dunia, ada warga yang mencurigai pasien meninggal karena Covid-19. Warga tersebut curiga karena pasien sering bepergian keluar kota.

Atas informasi itu, Dinkes setempat melakukan tes swab kepada tiga orang yang berkontak erat dengan pasien tersebut. Hasil yang pertama keluar pada tanggal 3 Juli menunjukkan istri pasien itu dinyatakan positif Covid-19.

Anak pasien ini yang sebelumnya dikabarkan telah kembali ke Pondok Pesnatren Al Muqoddasah Nglumpang, Kecamatan Mlarak, ternyata masih di rumah. Rencananya remaja ini akan kembali ke pondok pesantren pada 4 Juli untuk daftar ulang. Tetapi ternyata tidak jadi. Tim medis kemudian melakukan pengambilan spesimen swab terhadap anak pasien beserta enam orang yang kontak erat lainnya.

"Sehingga total kontak erat yang sudah dilakukan pengambilan swab sebanyak 10 orang. Baru satu orang yang dinyatakan positif yaitu istri dari RN," kata Ipong.

Dinkes masih terus melakukan tracing terhadap kontak erat kasus tersebut. Selanjutnya mereka akan langsung dites swab.

Atas kondisi itu, akses masuk desa tersebut ditutup dan dijaga ketat. Masyarakat luar desa tidak boleh masuk ke desa itu. Begitu pun sebaliknya warga desa yang akan keluar desa pun siperketat.

"Kami membuat surat edaran yang berisi tentang imbauan untuk isolasi mandiri bagi masyarakat yang kontak langsung dengan pasien," jelasnya.

Sedangkan warga yang memiliki kontak erat langsung dengan pasien wajib melakukan isolasi di fasilitas yang ada di desa. Saat ini sudah ada empat orang yang diisolasi di kantor desa setempat.

"Seluruh rumah di Desa Panjeng disemprot disinfektan. Petugas juga mendata kembali masyarakat tracing apabila terdapat warga yang belum terdata dan berhubungan dengan pasien," jelasnya.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho