Pasien Positif Covid-19 Boyolali Tambah 13 Orang dalam Sehari, Total Kasus Jadi 780
Ilustrasi penanganan pasien Covid-19. (Reuters)

Solopos.com, BOYOLALI - Pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Boyolali bertambah 13 orang pada Sabtu (26/9/2020) kemarin. Penambahan itu membuat jumlah kasus Covid-19 di Boyolali menjadi 780.

Seperti diketahui, pada Selasa (22/9/2020), kasus konfirmasi positif Covid-19 di Boyolali mencapai 753 orang. Artinya dalam empat hari terakhir ada tambahan 27 orang positif Covid-19.

Valentino Rossi Masih Balapan di Moto GP 2021 Dengan Petronas Yamaha SRT, Siap Nonton Di Mandalika?

Perinciannya adalah pada 23 September terdapat penambahan tiga kasus konfirmasi. Pada 24 September ada tambahan tujuh kasus. Pada 25 September kasus konfirmasi bertambah empat kasus. Kemudian pada 26 September bertambah 13 kasus.

Dari total 780 kasus Covid-19 di Boyolali, sebanyak 94 pasien masih dirawat dan 41 pasien menjalani isolasi mandiri. Kemudian sebanyak 590 kasus sudah selesai isolasi, dan 28 kasus meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, Ratri S. Survivalina, mengatakan berdasarkan hasil indikator yang ada, untuk penilaian status risiko wilayah, di Boyolali pada awal pekan lalu nilainya 2,10.

"Dari nilai tersebut Boyolali saat ini masuk daerah zona oranye atau risiko sedang," kata dia belum lama ini.

Pembelajaran Tatap Muka

Meski sudah berstatus zona oranye, Boyolali masih belum bisa menjalankan pembelajaran tatap muka. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Boyolali belum akan mengambil risiko.

Hal tersebut ditegaskan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Boyolali, Darmanto, pada Minggu (27/9/2020). "Pembelajaran tatap muka belum dulu. Akan kami pantau terus perkembangannya," kata dia kepada Solopos.com, Minggu.

Telan Rp13 Miliar, Proyek Jembatan Lama Wonogiri-Sukoharjo Butuh Waktu 9 Bulan

Menurutnya untuk saat ini masih sangat berisiko untuk membuka pembelajaran tatap muka bagi siswa di sekolah. Meski secara umum di Kabupaten Boyolali sudah zona oranye, namun kondisi per kecamatan masih berbeda-beda.

Untuk itu pihaknya memilih untuk tetap menunda pelaksanaan pembelajaran tatap muka, hingga batas waktu yang belum bisa ditentukan. Pihaknya akan menunggu momentum yang pas untuk menjalankan kebijakan oembelajaran tersebut. "Dari pada nanti dibuka [pembelajaran tatap muka] ternyata nanti drop lagi, nanti berisiko," lanjut dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom