Warga melintas di depan bangunan Pasar Klewer sisi barat yang sudah selesai dibangun, belum lama ini. (Bayu Jatmiko Adi/JIBI/Solopos)

Pasar tradisional Solo, sebanyak 44 pasar di Solo akan berubah nama dengan penambahan kata "rakyat".

Solopos.com, SOLO -- Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Solo akan mengubah nama 44 pasar tradisional di Kota Bengawan dengan tambahan kata "rakyat" atau menjadi pasar rakyat. Penggantian nama dikerjakan secara bertahap mulai tahun ini.

Kepala Disdag Pemkot Solo, Subagiyo, menjelaskan penambahan kata "rakyat" pada nama-nama pasar tradisional itu untuk menindaklanjuti UU No. 7/2014 tentang Perdagangan. “Sesuai amanat UU Perdagangan, kami akan mengganti nama pasar dengan tambahan kata rakyat,” kata Subagiyo ketika berbincang dengan wartawan Balai Kota, Minggu (19/3/2017).

Penambahan kata "rakyat" pada nama pasar dimulai dari Pasar Klewer pada tahun ini. Bangunan baru pasar tekstil terbesar di Jawa Tengah yang dibangun dengan dana seratusan miliar rupiah ini telah menggunakan nama Pasar Rakyat Klewer.

Pasar tersebut kini tinggal menunggu peresmian oleh pemerintah pusat. Setelah itu, penambahan kata "rakyat" akan dilanjutkan ke pasar lain, seperti Pasar Rakyat Gede, Pasar Rakyat Legi, Pasar Rakyat Sangkrah, dan lain sebagainya. “Penggantian kami lakukan secara bertahap karena keterbatasan anggaran daerah,” katanya.

Dengan demikian, Subagiyo belum bisa menargetkan kapan penggantian seluruh nama pasar di Kota Bengawan rampung dilaksanakan. Kali ini Pemkot tidak bisa mengandalkan dana corporate social responsibility (CSR) untuk merealisasikan penggantian nama pasar tradisional menjadi pasar rakyat.

Menurut Subagiyo, dana CSR biasanya digunakan Pemkot untuk pembangunan selter pedagang kaki lima (PKL) dan lain sebagainya. “Penamaan pasar rakyat lebih tepat karena di sana anda interaksi rakyat dalam jual beli,” katanya.

Subagiyo mengatakan Pemkot berkomitmen menata pasar tradisional. Harapannya keberadaan pasar tradisional tak kalah dengan pasar modern. Selama ini Pemkot sudah fokus dalam penataan pasar. Salah satunya merevitalisasi pasar tradisional.

Subagiyo mengatakan pemberdayaan ekonomi warga merupakan salah satu program utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Dalam program ini pasar tradisional menjadi salah satu penopang penting karena keberadaan pasar ini menjadi salah satu tolok ukur kemajuan ekonomi kerakyatan.

“Revitalisasi bisa memengaruhi daya beli masyarakat yang biasa berbelanja di supermarket bisa beralih ke pasar tradisional,” katanya.

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo mengatakan melalui program revitalisasi, Pemkot ingin membuang kesan kumuh dan bau pada pasar tradisional. Pemkot mempercantik bangunan pasar sehingga terlihat bersih dan tertata rapi.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten