Para pedagang bergotong-royong memperbaiki kios dan los mereka yang rusak akibat kebakaran di Pasar Nglangon, Karangtengah, Sragen Kota, Sragen, Rabu (2/10/2019). (Tri Rahayu/Solopos)

Solopos.com, SRAGEN - Sejumlah pedagang korban kebakaran Pasar Nglangon mulai berbenah. Mereka membersihkan sisa-sisa material kayu dan bambu yang masih bisa dimanfaatkan.

Ada pula yang memengganti genting kios yang rusak akibat kebakaran dan proses pemadaman api. Beberapa pedagang lainnya sibuk membangun kerangka bangunan dengan menggunakan bambu dan membangun los-los kayu dengan sisa kayu yang masih terpakai.

Garis polisi atau police line masih terpasang mengelilingi los penggilingan daging dan beberapa los kayu lainnya. Rukiman, 69, tenaga buruh di los kayu milik Agung Sengon Nglangon, memilah kayu belabak yang tersisa dari tumpukan kayu di tiga los yang sudah rata tanah.

Kakek-kakek asal Kampung Bangak RT 001/RW 001, Kelurahan Sine, Sragen Kota, tak menghiraukan aktivitas pedagang lainnya. Ia tak bisa menyembunyikan raut mukanya yang sedih karena lima los milik juragannya ludes dilalap api.

“Kerugiannya mencapai miliaran rupiah. Tiga los di pasar sisi barat ini penuh dengan kayu dan habis terbakar. Yang dua los lainnya di sebelah utara juga habis. Sisa-sisa kayu yang bisa digunakan dikumpulkan,” ujar Rukiman yang bekerja sejak juragannya masih perjaka saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu (2/10/2019).

Rukiman berencana membangun bangunan los kayu milik juragannya itu semampunya. Kayu-kayu Kalimantan, sengon, dan jenis lainnya itu berubah menjadi arang.

Rukiman tak mau mengurus arangnya tetapi lebih fokus mengurus sisa kayu yang ada. “Arangnya biar diambili mereka yang butuh. Ya, sebenarnya bisa dijual. Tapi lebih baik mengurus kayu yang ada,” ujarnya.

Tak jauh dari lokasi Rukiman, seorang nenek-nenek sibuk menggelar terpal bekas bewarna biru di sela-sela los yang terbakar. Kartini, 75, panggilan orang tua asal Poleng, Gesi, Sragen itu.

Ia berjualan arang dan kayu bakar di los kecil yang sudah rata tanah. Kartini mengambili arang-arang sisa kebakaran dan dijemur. Arang-arang yang sudah kering dikumpulan di tempat yang teduh dan dikemasi dengan menggunakan plastik.

“Kerugian saya catat ada Rp17 juta karena saya baru saja kulakan arang sebelum kebakaran itu. Ya, ini mengumpulkan yang masih bisa dijual. Saya sudah berhubungan dengan pengepul arang dan saya diminta untuk menyetok arang. Yang penting usaha bisa jalan dulu,” kata Kartini.

Mulai Bangkit

Kartini menunjukan kemasan arang dalam plastik dengan ukuran yang berbeda-beda. Ukuran plastik paling kecil dijual dengan harga Rp800.

Kartini menjualnya setiap 10 plastik senilai Rp8.000. Kemudian ada kemasan arang senilai Rp4.000/plastik dan Rp5.000/plastik. “Nanti yang sudah dikemas dikumpulan per 10 plastik dan disendirikan,” ujarnya.

Kartini, 75, pedagang arang asal Poleng, Gesi, panen arang sisa kebakaran di Pasar Nglangon, Sragen, Rabu (2/10/2019). Arang-arang itu dikemas dan dijual dengan harga variasi. (Tri Rahayu/Solopos)
Kartini, 75, pedagang arang asal Poleng, Gesi, panen arang sisa kebakaran di Pasar Nglangon, Sragen, Rabu (2/10/2019). Arang-arang itu dikemas dan dijual dengan harga variasi. (Tri Rahayu/Solopos)

Kepala Pengelola Pasar Nglangon, Karangtengah, Sragen Kota, Sragen, Margono, sibuk mendata pedagang bambu karena ada permintaan data dari atasannya.

Ia cukup lega karena para pedagang mulai bangkit. Ia melihat para pengusaha pemotongan unggas yang tutup total pada Selasa (1/10/2019) sudah mulai buka pada Rabu pagi. Ia khawatir kalau mereka tidak buka maka paguyuban bebek goreng pun jadi mengeluh karena tidak ada pasokan.

“Kemarin saya minta mereka membersihkan saluran limbahnya agar mereka bisa beraktivitas. Alhamdulillah mereka sudah bisa buka los dan kiosnya,” ujar Margono.

Untuk pembersihan material kebakaran, Margono sudah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Sragen. Margono mengakui pembersihan material belum bisa dilakukan dalam waktu dekat karena menunggu material bekas kebakaran itu dingin dulu.

“Kalau masih panas dan dibuang ke TPA [tempat pembuangan akhir] takutnya justru mengakibatkan muncul kebakaran di TPA. Sambil menunggu dingin, para pedagang bisa memilah barang-barang yang masih bisa digunakan,” katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten