SOLOPOS.COM - Kirab Boyongan Klewer mengawali operasional pasar darurat Klewer, Selasa (16/6/2015). (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos)

Pasar darurat Klewer dibangun di Alun-alun Utara Keraton Solo.

Solopos.com, SOLO — Pedagang yang berjualan di Pasar Sementara Pasar Klewer di Alun-alun Utara (Alut) Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat setidaknya menghadapi enam masalah yang mendesak dituntaskan.

Promosi Pegadaian Resmikan Masjid Al Hikmah Pekanbaru Wujud Kepedulian Tempat Ibadah

Untuk diketahui pasar darurat yang pembangunannya menelan dana Rp24 miliar tersebut diresmikan Wali Kota Solo, F. X. Hadi Rudyatmo, Selasa (16/6/2015) siang.

Setelah diresmikan, Pasar Sementara Pasar Klewer menghadapi sedikitnya lima masalah, yakni pertama, kehadiran pedagang kaki lima (PKL) yang membuka lapak dagangan di berbagai ruas jalan di kawasan Alut.

Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo mengatakan tidak satu pun PKL diizinkan melakukan aktivitas di sekitar Pasar Sementara Pasar Klewer.

“Nanti tidak satu pun PKL yang diperbolehkan untuk mendirikan lapak atau berjualan di kanan-kiri jalan [di dalam Alut],” kata Rudy saat dijumpai wartawan setelah meresmikan pasar sementara Klewer, Selasa.

Kedua, pedagang yang menggunakan mobil untuk menawarkan barang dagangan di jalan lingkar Alut juga perlu diwaspadai. Selain juga mengancam pangsa pasar bagi pedagang Pasar Sementara Pasar Klewer, pedagang bermobil juga dikhawatirkan mengganggu arus lalu lintas hingga menyebabkan macet.

“Tidak hanya itu, di lingkaran jalan Alut juga tidak boleh ada pedagang bermobil. Pedagang [di Pasar Sementara Pasar Klewer] diharapkan dapat melaksanakan aktivitas jual-beli secara normal untuk melayani pengunjung yang pasti membludak jelang Lebaran nanti,” ujar Rudy.

Ketiga, terkait keberadaan selter yang masih berdiri di kawasan Alut atau tepatnya di kantong parkir yang disediakan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo untuk aktivitas pedagang maupun pengunjung di Pasar Sementara Pasar Klewer. Menurut Rudy, Alut telah disewakan kepada Pemkot Solo selama dua tahun untuk pengelolaan pedagang Pasar Klewer.

“Kamis [18/6/2015] nanti kami minta [pedagang selter di Alut] pindah. Begini, perjanjian di akte notaris Alut disewa Pemkot selama 2 tahun untuk pedagang Pasar Klewer. Bukan saya arogan. Kebijakan ini bentuk ketegasan Pemkot untuk mengelola Alut. Kawasan itu untuk kantong parkir,” jelas Rudy.

Keempat, keamanan Pasar Sementara Pasar Klewer yang berada di lingkungan terbuka juga menjadi perhatian. Rudy menyampaikan, Pemkot Solo segera menerjunkan tim gabungan guna melakukan pengamanan di kawasan Alut.

Menurut dia, tim gabungan terdiri dari personel TNI, Polri, Satpol PP Solo, dan Dishubkominfo Solo. Tim gabungan, lanjut Rudy, dijawalkan melakukan operasi di Alut setiap hari.

“Satpol PP nanti bakal terjun setiap hari memberikan rasa aman dan nyaman di Pasar Sementara. Setiap hari tim gabungan akan dibagi menjadi tiga sif penjagaan. Nanti Satpol PP tinggal koordinasi dengan TNI dan Polri terkait teknis pengamanan itu,” terang Rudy.

Masalah kelima, yakni kehadiran atau aktivitas dari kelompok pengemis, gelandangan, dan orang telantar (PGOT).

Kepala Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Solo, Subagiyo, menilai kehadiran PGOT dikhawatirkan mengganggu aktivitas jual-beli di Pasar Sementara Pasar Klewer. Menjelang Ramadan, lanjut dia, jumlah PGOT sangat mungkin meningkat.

“Kami memberi waktu dua pekan kepada pedagang untuk bisa masuk kios. Jika tidak, SHP kios terpaksa dihanguskan dan tidak mendapat jatah kios di Pasar Klewer nanti. Jika tidak menggunakan kios, kasihan pedagang lain yang sudah bersusah payah membuka kios sejak saat ini,” kata Subagiyo, Selasa.

Keenam, kemacetan membayangi kawasan Alut seiring peningkatan aktivitas di Pasar Sementara Pasar Klewer. Kegiatan bingkat muat barang setelah beroperasinya Pasar Sementara Pasar Klewer menjadi pemicu kemacetan lalu lintas.

Ketua Komunitas Pedagang Pasar Klewer (KPPK) Solo, Suhardi, mengimbau pedagang Klewer yang bertempat tinggal di Kota Bengawan untuk tidak memakirkan mobil area Alut setelah menempati kios darurat.

“Pedagang Klewer yang berdomisili di Solo bisa menerapkan sistem antar jemput saat bongkat muatan barang dagangan di pasar sementara. Selain keamanan, kami berharap pemerintah juga menyediakan petugas khusu untuk mengatur lalu-lintas. Selain itu, pemerintah juga bisa mempertimbangkan tarif parkir di Alut untuk bisa murah,” ujar Suhardi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya