Kategori: Klaten

Pasar Cokro Kembang Klaten Sudah Steril dari Kasus Covid-19, Tapi Masih Sepi


Solopos.com/Ponco Suseno

Solopos.com, KLATEN – Pasar Cokro Kembang di Desa Daleman, Kecamatan Tulung, Klaten, diyakini sudah steril dari kasus Covid-19. Sejumlah pedagang berharap suasana di pasar setempat kembali bergeliat pascapenutupan pasar gara-gara Covid-19, pertengajan Juli 2020 lalu.

Berdasarkan data yang dihimpun Solopos.com, Pasar Cokro Kembang Klaten sempat ditutup selama tiga hari, pada 16-18 Juli 2020. Penutupan pasar dilakukan untuk mencegah persebaran virus corona.

Penutupan pasar tradisional itu disebabkan sejumlah pedagang dinilai berkontak erat dengan pasien positif Covid-19 asal Cokro Kembang, beberapa waktu sebelumnya.

Klaster Keluarga Nusukan Solo Berawal dari Sales Paket Data Positif Covid-19 

Hasil awal tracing tim medis menyebutkan, sebanyak 56 orang telah kontak dengan pasien positif Covid-19. Dari jumlah tersebut, tujuh di antaranya merupakan pedagang di Pasar Cokro Kembang Klaten. Satu pedagang sempat dipastikan positif Covid-19, sedangkan sisanya negatif.

"Kami sebenarnya sudah membuka pasar sejak 23 Juli 2020. Tapi, kondisi di pasar ini masih sepi pengunjung. Masih banyak yang takut berkunjung ke Pasar Cokro Kembang karena virus corona itu. Padahal, di sini sudah tidak ada [sudah steril dari virus corona]," kata Pengelola Pasar Cokro Kembang, Yeni Tri Astuti, saat ditemui wartawan di kompleks pasar setempat, Sabtu (12/9/2020).

Yeni Tri Astuti mengatakan kondisi Pasar Cokro Kembang Klaten hingga sekarang belum bergeliat. Sejumlah pedagang pasar masih mengeluhkan sepinya pengunjung.

Buka Sejak Juli

Upaya pengelola pasar agar para pengunjung bersedia berbondong-bondong ke pasar melalui sistem getok tular, media sosial (medsos), dan Whatsapp Group (WAG) dinilai belum membuahkan hasil optimal.

"Pasar ini hanya buka saat pasaran Legi dan Pon. Sejak dibuka 23 Juli 2020 hingga sekarang, pengunjungnga belum optimal. Masih ada penurunan pengunjung hingga 60 persen dibandingkan saat sebelum pandemi Covid-19 [saat normal pengunjung bisa mencapai 700-an orang]. Retribusi pasar juga menurun karena baru 90 persen dari pedagang yang berjualan di sini," katanya.

Dory Harsa Nikah, Penggemar Ambyar Unfollow Berjemaah 

Yeni Tri Astuti mengatakan jumlah pedagang di Pasar Cokro Kembang mencapai 390 pedagang. Biasanya hasil retribusi yang berhasil ditarik dari para pedagang di setiap pasaran senilai Rp600.000.

"Saat ini masih di bawah angka itu. Para pedagang meminta lima pintu di pasar dibuka semua, kami pun sudah membukanya. Tapi pengunjungnya belum optimal juga. Kami pun juga rutin menyemprot disinfektan sekali dalam satu pekan," katanya.

Masih Sepi

Salah seorang pedagang jajanan pasar di Cokro Kembang Klaten, Tintin Susilowati, 47. Beberapa pelanggannya mengaku masih belum datang ke pasar karena takut dengan Covid-19.

"Biasanya itu, saya bisa menjual sosis hingga lima kilogram setiap pasaran. Saat ini, hanya dua kilogram saja. Kalau usulan kami agar pasar kembali ramai, seluruh pintu dibuka saja tanpa harus disekat [meski sudah dibuka, pintu di sebelah barat, selatan, dan timur hanya bisa dilalui satu orang]," katanya.

Niatnya Melerai, Seorang Pemuda di Purwodadi Malah Dicelurit 

Hal senada dijelaskan penjual soto dan minuman di Pasar Cokro Kembang Klaten, Sri Rahayu. Salah satu kunci utama guna meramaikan kondisi pasar, yakni seluruh pintu perlu dibuka seluas-luasnya tanpa perlu disekat.

"Dengan dibukanya seluruh pintu tanpa perlu disekat itu dapat menunjukkan citra Pasar Cokro Kembang yang benar-benar sudah tidak ada Covid-19. Jika ditutup atau disekat, orang luar akan takut masuk ke pasar karena mikir virus corona itu," katanya.

Share
Dipublikasikan oleh
Chelin Indra Sushmita