Tutup Iklan
Ilustrasi Pilkada. (Solopos/Dok)

Solopos.com, BOYOLALI -- Manuver politik Partai Golongan Karya (Golkar) ke kubu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk menghadapi Pilkada Boyolali 2020 masih menunggu restu dari DPP Golkar di Jakarta.

Untuk diketahui, isu bakal merapatnya Golkar ke kubu PDIP untuk menghadapi Pilkada 2020 sempat didengungkan oleh Ketua PAC Golkar Nogosari, Agus Ali Rosidi, Jumat (1/11/2019) lalu.

Sebagai kader Golkar yang duduk di kursi legislatif, Ali mengatakan bergabungnya Golkar ke PDIP dalam pilkada menjadi langkah realistis. Namun dirimya menolak jika Golkar hanya terseret arus partai dominan dan cenderung mengambil posisi yang aman.

Justru, menurut Agus Ali Rosidi, track record PDIP terbilang bagus dalam memimpin Boyolali, di antaranya bisa dilihat dari geliat pembangunan di Kota Susu dan peraihan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) untuk laporan keuangan selama delapan kali.

Menanggapi arah politik Golkar di Boyolali pada 2020 nanti, Ketua DPC Golkar, Fuadi, mengatakan belum bisa memastikan banyak hal. Pekan ini dirinya bersama beberapa kader Golkar akan berangkat ke Jakarta untuk meminta persetujuan dari DPP.

“Semuanya itu tergantung restu DPP, politik kan juga milik pusat, bukan hanya daerah,” ujar Fuadi, Minggu (3/11/2019). Fuadi mengatakan dirinya dipanggil ke Jakarta untuk memberikan paparan kepada DPP Golkar terkait kondisi perpolitikan di Boyolali.

Kendati belum pasti, Fuadi mengakui kemungkinan Golkar bergabung dengan PDIP tetap ada.

“Bisa saja condong ke PDIP, politik itu bisa berubah-ubah, kita tunggu saja pekan depan,” imbuh dia.

Sementara itu, legislator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang juga wakil Ketua DPRD Boyolali, Moh. Basuni, mengatakan PKS masih akan mempertimbangkan hasil musyawarah dan masukan dari beberapa tokoh, ormas, maupun arahan dari struktur DPW dan DPP.

“Yang jelas PKS akan berpartisipasi aktif dan mendorong demokrasi yang ada di Boyolali agar dapat berjalan fair,” ujar Basuni. Terkait manuver ke PDIP, Basuni tak memungkiri bakal ada kemungkinan ke sana tergantung hasil musyawarah.

Saat ini PKS lebih fokus pada edukasi politik kepada konstituen maupun masyarakat umum. Di antaranya terkait politik uang dan kasus mutasi ASN jika tidak memilih partai tertentu.

“Hasilnya suara PKS di pemilu kemarin naik signifikan walaupun kursinya berkurang satu,” imbuh Basuni.

Hal senada juga disampaikan Ketua DPC PKB, Supadi.

“Saat ini kami masih mempelajari aspirasi dari pengurus tingkat kecamatan,” tutur dia.

Hasilnya PKB, masih memiliki tiga kemungkinan, yakni memunculkan kandidat meskipun hanya memiliki dua kursi, menunggu dan melihat keadaan, namun ada juga yang menyarankan menjalin komunikasi dengan PDIP.

“Namun sampai saat ini partai-partai yang hanya memiliki sisa sepuluh kursi belum mengajak bertemu atau berkomunikasi terkait koalisi,” ujar Supadi.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten