Langit merah di Muarojambi akibat kabut asap dan karhutla, Sabtu (21/9/2019). (Twitter @filsuflogic)

Solopos.com, SOLO -- Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia bahkan diperkirakan menghasilkan emisi gas rumah kaca atau karbondioksida (CO2) yang jauh lebih besar daripada kebakaran hutan Amazon di Brasil. Hal itu terlihat dalam laporan Koalisi Anti Mafia Hutan yang dirilis hari ini, Senin (18/11/2019).

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang sangat buruk selama 2019 menjadi sorotan dalam laporan tersebut. Pada 2019, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah membakar lebih dari 850.000 hektare dan menimbulkan risiko kesehatan bagi jutaan di seluruh wilayah.

Hampir 1 juta orang di Indonesia menderita infeksi saluran pernafasan akut sebagai akibat dari asap pekat. UNICEF memperkirakan 10 juta anak di Asia Tenggara terkena dampaknya.

"Menurut perkiraan Copernicus Atmosphere Monitoring Service di Uni Eropa, terhitung hingga 14 November 2019, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah melepaskan sekitar 708 megaton karbondioksida (CO2), atau hampir dua kali lipat emisi CO2 dari kebakaran di hutan Amazon, Brasil," demikian pernyataan Koalisi Anti Mafia Hutan yang diterima Solopos.com, Senin (18/11/2019).

Koalisi yang terdiri atas sejumlah organisasi yaitu Auriga, Hutan Kita Institute, Environmental Paper Network, dan Rainforest Action Network, menemukan sebagian besar titik api yang parah terjadi di lahan konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI).

Pabrik Bubur Kertas Pemilik HTI Diduga Terlibat Kebakaran Hutan 2019

Lebih dari 40,000 titik panas terdeteksi di wilayah konsesi, termasuk milik sejumlah perusahaan HTI yang menyuplai bahan baku kepada produsen pulp. Dalam delapan konsesi HTI yang paling parah, 60% dari titik panasnya terjadi di lahan gambut.

Koalisi menyoroti peran pemilik konsesi HTI itu, terutama pemasok kayu ke industri milik dua produsen bubur kertas terbesar di Indonesia – yaitu Grup Asia Pulp & Paper (APP) dan Asia Pacific Resources International Limited (APRIL). Sejak kebakaran 2015, dua produsen pulp tersebut berinvestasi besar untuk memasang kapasitas pengolahan baru.

Dari delapan kebakaran terparah di konsesi HTI, enam di antaranya merupakan pemasok APP dan satu lainnya pemasok APRIL. Koalisi mengungkapkan APP membuka salah satu pabrik bubur kertas terbesar di dunia di Sumatra Selatan akhir 2016. Sebagian besar bahan baku kayunya berasal dari areal HTI di lahan gambut yang dikeringkan, termasuk sebagian areal yang mengalami kebakaran terparah pada 2015.

Warga Sunter Digusur, Wali Kota Jakarta Utara: Mereka Bukan Pemilih Anies Baswedan

APRIL mulai memproduksi jenis pulp baru yang diduga memakai proses produksi khusus dengan bahan bakunya kayu acacia dan crassicarpa -- spesies pohon yang hanya ditanam di lahan gambut.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten