Paradoks Olahraga Aman
Agus Kristiyanto (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Olahraga aman di ruang publik menjadi sorotan tersendiri pada saat setiap orang kini seakan-akan tak terbendung bereuforia meningkatkan imunitas. Memelihara dan meningkatkan imunitas merupakan ikhtiar yang menjadi pilihan preventif memperkecil kemungkinan infeksi virus apa pun, termasuk Covid-19.

Jalan raya kini penuh dengan orang bersepeda tiap hari. Demikian pula di berbagai tempat olahraga terbuka, kini mulai dikunjungi banyak orang. Ketika kesempatan berolahraga di lingkungan luar mulai dibuka, masyarakat menyambut dengan suka cita.

Setelah selama empat bulan penuh ”terkungkung” dalam imbauan  olahraga di rumah saja, mereka mengekspresikan olahraga di luar rumah dengan eskalasi sangat tinggi. Pembukaan kesempatan berolahraga di lingkungan luar rumah bersamaan dengan pembukaan sektor lain seperti tempat perbelanjaan, pasar, kantor, hotel, dan restoran.

Sepekan setelah pembukaan kesempatan tersebut, jumlah harian orang terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia menembus angka empat digit, bahkan sempat melonjak kasus harian hampir 3.000 orang. Memang tak boleh langsung memvonis korelasi dan sebab akibat, tetapi hal tersebut mengharuskan semua pihak makin waspada.

Makin waspada dalam pengertian umum berolahraga di luar lingkungan rumah menyangkut pada telaah situasi paradoks yang meliputi pengetahuan risiko olahraga berdasarkan jenisnya, fenomena open window dalam olahraga, dan mewaspadai deindividuasi pelaku olahraga dalam kerumunan. Ketiga hal tersebut menjadi formula penting dalam telaah paradoks olahraga aman pada masa pendemi.

Risiko

Olahraga pada masa lalu banyak berkutat pada topik risiko berolahraga bagi para pengidap penyakit tertentu, ibu yang sedang hamil, termasuk bagi para lanjut usia. Sebagian juga memetakan jenis olahraga terhadap ancaman terjadinya cedera fisik atau gangguan kekurangan asupan oksigen (hipoksia).

Sebagian besar ilmuwan kini berusaha menggeser fokus penelitian ke persoalan risiko olahraga berdasarkan peluang penularan Covid-19. Hal yang utama yaitu memetakan risiko penularan Covid-19 pada cabang-cabang olahraga populer.

Sambil menunggu rujukan hasil riset versi lain, semua pihak dapat mengacu hasil riset yang telah dipublikasikan oleh Texas Medical Association. Setiap cabang olahraga memiliki derajat risiko yang berbeda dari kemungkinan infeksi virus penyebab Covid-19.

Risiko itu terbagi dalam tingkatan risiko rendah (1 dan 2), risiko agak rendah (3 dan 4), risiko sedang (5 dan 6), risiko agak tinggi (7), dan risiko tinggi (8 dan 9). Cabang yang berisiko rendah adalah bermain tenis (2), sedangkan bermain basket dan sepak bola termasuk grade tingkat berisiko tinggi (7).

Tingkat risiko penyebaran virus menurut cabang olahraga tersebut tentu saja tidak bersifat mutlak. Cabang olahraga yang berisiko tinggi tetap cenderung berpotensi tinggi walaupun diatasi dengan cara-cara apa pun karena dasarnya adalah karakteristik inti aktivitas bermain.

Disiplin menjaga jarak antarindividu, tidak berhadapan, tidak bersentuhan, tidak bertubrukan, tidak bersalaman, tidak berpelukan, dan tidak bertukar properti adalah sesuatu yang sulit dihindari saat bermain basket maupun sepak bola.

Cabang olahraga yang berisiko rendah (1 dan 2) justru berpeluang menjadi risiko tinggi bergantung pada pernik aktivitas penopang yang lainnnya. Bermain tenis dan bersepeda perorangan (2, risiko rendah) tidak serta-merta tetap sebagai olahraga aman ketika di tengah aktivitas diselingi dengan makan bersama gaya prasmanan (8). Olahraga yang aman tetapi dalam aktivitas besar yang tidak aman akan menghasilkan sesuatu yang berisiko tinggi.

Fenomena Open Window

Euforia olahraga kadang-kadang mewujud bagai aktivitas kolektif  ”balas dendam” pada sekelompok masyarakat tertentu. Ada semacam keyakinan-keyakinan subjektif individual, bahkan sedikit berbau takhayul, yang kemudian gampang menular ke cara hidup dan cara berpikir orang lain.

Balas dendam dilampiaskan dengan moto berolahraga yang supermilitan: semakin banyak berkeringat semakin bagus. Akhirnya banyak pelaku olahraga pemula pada sebelum masa pandemi tiba-tiba menjadi maniak melakukan aktivitas olahraga pada masa pandemi dengan cara membabi buta.

Imunitas sebenarnya berhubungan dengan banyak hal yang bisa dijelaskan dalam telaah fisiologi dan biokimia. Hal yang perlu dicemaskan di balik supermaniak olahraga masyarakat era pandemi adalah persoalan overdosis aktivitas fisik.

Aktivitas fisik yang acap kali melampau kapasitas maksimal yang bersangkutan kemudian menimbulkan ekses yang justru memerosotkan imunitas, kesehatan, dan keselamatan. Kecenderungan tersebut terjadi di masyarakat seantero dunia pada masa pandemi.

Hal tersebut kemudian menjadi sorotan para periset di Universitas Bond Australia yang menelaah kembali hasil riset tahun 2010 untuk mengingatkan fenomena open window masa pandemi yang terjadi sekarang ini.

Setelah orang melakukan olahraga intensitas tinggi, yang bersangkutan akan mengalami fase open window selama tiga jam hingga 84 jam. Pada masa tersebut seseorang berada dalam titik imunitas terendah dan sangat rentan berisiko terinfeksi aneka virus dan bakteri.

Pesan moral dari open window ini adalah bahwa setiap orang harus bisa mengendalikan diri dan teman-temannya. Cukup melakukan olahraga intensitas rendah hingga sedang. Aktivitas olahraga yang baik dan aman untuk penguatan imunitas di samping mengatur intensitas adalah memenuhi frekuensi minimal tiga kali per pekan. Waspadai open window dan hindari over training syndrome pada saat euforia berolahraga sedang menggila di masyarakat.

Permisif

Deindividuasi merupakan situasi terkalahkannya sifat individu pada saat berada di tengah kerumunan. Individu saat sendiri kukuh memakai masker pelindung mudah melepaskannya pada saat berada di tengah teman-teman akrab yang tak mamakai masker.

Keberanian bersama menjadi faktor hilangnya sifat-sifat tertib individu. Antarindividu bersifat permisif dan ini menyebabkan betapa sangat longgarnya pemberlakuan protokol kesehatan saat bersama-sama. Relasi sosial dalam berolahraga bersama teman dan kolega memiliki magnet yang sangat kuat.

Dalam situasi yang normal, hal tersebut selalu dirindukan para pelaku olahraga. Pada saat deindividuasi ”menyerang” mereka, berpotensi mengalami ”lupa daratan” bahwa kini mereka sebenarnya sedang berada pada situasi yang sama sekali baru dan berbeda. Kontak sosial seperti jabat tangan, ber-cipika cipiki dilakukan secara spontan dan permisif.

Sikap permisif dan saling memaklumi pelanggaran protokol kesehatan merupakan ancaman deindividuasi pada para pelaku olahraga. Hal tersebut tentu bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Sesuatu yang pantas dikhawatirkan dalam rangka meningkatkan kewaspadaan adalah jangan sampai olahraga yang jelas menyehatkan justru tidak aman karena berpotensi menjadi klaster baru persebaran Covid-19 sebagaimana tempat-tempat kerumunan yang lainnnya.

Terdapat beberapa sisi paradoks olahraga aman. Memang betul olahraga itu meningkatkan imunitas untuk menangkal virus, tetapi anggapan bahwa orang pasti selamat dari ancaman virus ketika dalam keadaan berolahraga adalah logika yang harus sama-sama dengan serius untuk diluruskan. Tetaplah berolahraga secara sehat dan aman.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom