Isro, pemilik Kopi Gunung Api, meracik minuman kopi khas Temanggung. (Bisnis)

Semarangpos.com, SEMARANG — Suguhan kopi dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah turut menyemarakkan pergelaran Jateng Fair 2019 di kompleks Pusat Rekreasi Promosi Pembangunan (PRPP) Jateng di Kota Semarang.

Aroma wangi menyerbak dari stan-stan kabupaten dan kota dalam acara Jateng Fair 2019. Stan tersebut menampilkan berbagai potensi khas daerah, salah satunya kopi.

Masing-masing kopi dari setiap kabupaten memiliki keistimewaan tersendiri, baik dari segi rasa maupun aroma. Hal ini disebabkan setiap biji kopi berasal dari wilayah yang berbeda, dengan cara pengolahan yang juga berlainan.

Salah satu stan yang menarik minat pengunjung ialah kopi khas Temanggung. Isro, pemilik Kopi Gunung Api, tampak lincah meracik minuman sambil menjelaskan keunggulan kopinya.

“Kopi Temanggung termasuk lengkap, semua varietas ada seperti robusta, arabika, dan excelsa. Kita juga sudah melakukan ekspor,” tuturnya.

Secara garis besar, ada empat cara pengolahan kopi yang dilakukan Isro. Pertama, teknik fullwashed, yakni biji kopi setelah dipetik maksimal delapan jam kemudian dikupas, dan direndam 24 jam.  Kedua, teknik honey atau hanya mengupas saja, setelah itu dijemur. Ketiga, teknik natural, yakni biji yang masih merah langsung dijemur. Keempat, proses wine atau fermentasi selama 21-30 hari, sehingga menghasilkan kopi yang beraroma kuat seperti buah anggur.

“Ciri khas masing-masing rasanya berbeda. Kopi honey ada manisnya, fullwashed cenderung ringan, sedangkan natural relatif kuat. Tapi, lebih kuat lagi yang wine [kalau] dari sisi aromanya,” imbuh Isro.

Arief, salah satu pengunjung tampak menikmati saat menyesap kopi wine. Menurutnya, rasa minuman tersebut lebih asam dengan aroma yang kencang. Efeknya membuat badan terasa lebih segar.

Di sebelah stan Kabupaten Temanggung, ada stan Kabupaten Pati, yang juga menawarkan berbagai ragam kopi. Naelul Muna, Founder Kopi Konang, menjelaskan racikan minuman itu berasal dari perkebunan kopi di lereng Gunung Muria.

“Kopi unggulan Pati berasal dari lereng Pegunungan Muria. Di sana rata-rata masih melakukan roasting dengan proses tradisional,” ujarnya.

Ciri khas biji kopinya berukuran besar, sehingga rasanya menjadi lebih tebal. Dengan keunikan rasanya, kopi Pati masuk ke dalam jajaran lima besar kopi robusta terbaik se-Indonesia pada 2018.  

Menurut sejumlah pengunjung, sambung Naelul, kopi Pati dengan roasting tradisional lebih nikmat bila dicampur susu. Dengan demikian, tercipta paduan rasa asam dan manis dari segelas kopi.

Teknik pengolahan tradisional inilah yang menginspirasi Naelul menamakan produknya Konang, yang berasal dari kata Kopi Nanangan. Nanangan ialah wajan yang terbuat dari tanah liat.

“Pada zaman dahulu, saya kenal kopi dari nenek saya. Saat itu, nenek menggoreng kopi pakai nanangan, dicampur beras, jagung, atau terkadang kelapa untuk mengurangi kafein,” tuturnya.

Selain robusta, Pati juga menawarkan kopi arabika. Minuman jenis arabika cocok untuk penikmat kopi yang punya keluhan sakit mag, karena kadar kafein yang rendah. Lain Pati, lain pula Magelang. Wilayah kabupaten dan kota tersebut dikeliling 7 gunung, sehingga menghasilkan cita rasa kopi yang berbeda.

“Uniknya kopi daerah kita tidak satu rasa. Dari Magelang sebelah utara, selatan, dan timur mungkin ada perbedaan masing-masing rasa,” kata Ahmad Izudin Ali, anggota Kelompok Agro Jaya Magelang.

Magelang terbilang baru memulai bisnis kopi dibandingkan kabupaten dan kota di Jateng lainnya. Tahun lalu, asosiasi setempat sukses membuat festival kopi untuk pertama kalinya.

Jadi, untuk Anda penikmat kopi, berwisata ke Jateng Fair 2019 dapat menjadi pilihan yang tepat. Selamat menyesap berbagai kopi khas daerah.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten