Para Perempuan Penjaga Asa
Ayu Prawitasari (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Televisi di ruang belakang masih memperdengarkan suara Christina Aguilera yang khas. Film Mulan telah sampai pada bagian ujung. Di tengah lagu Loyal, Brave, and True, saya meninggalkan televisi dengan pikiran penuh.

Ada sesuatu dalam lagu itu yang membuat saya bergetar, mengingat lagi seorang Mulan dengan penyimbolan burung phoenix serta Xianning, perempuan tukang sihir jahat yang akhirnya membantu Mulan di tengah perjuangan membela negara, dengan simbol burung elang.

Dua perempuan yang sama-sama kuat. Keduanya adalah kata kunci tentang penyelamatan Tiongkok pada saat itu. Tanpa Xianning, narasi film tersebut mengarahkan pada kegagalan Mulan menyelamatkan kaisar.

Saya menangkap pesan feminisme yang amat kuat dalam film tersebut. Pesan itu mengambil posisi dengan jelas di gelombang ketiga gerakan feminisme dunia, sebuah gerakan yang saya nilai paling ideal.

Gerakan itu mengingatkan saya tentang pentingnya perempuan saling membantu demi peningkatan kualitas hidup para perempuan sendiri. Feminisme gelombang ketiga mengajarkan kepada perempuan bahwa keberhasilan mereka bukan ditentukan karier personal, melainkan bagaimana kiprah mereka dalam membantu perempuan lain.

Pesan itu menjadi sangat terasa di tengah kondisi Indonesia yang masih menghadapi pandemi Covid-19. Laman covid19.go.id mencatat 13.869 orang meninggal per 31 Oktober 2020 akibat pandemi yang terjadi sejak Maret 2020 lalu.

Kematian-kematian tersebut tentu meninggalkan banyak luka. Saya tak hanya hendak bicara soal kematian, namun juga kesunyian yang mencekam akibat hilangnya ritual selamatan dan pertemuan keluarga serta warga yang merupakan bagian dari kultur Indonesia saat mengantarkan orang-orang kesayangan menuju alam baka.

Doa-doa menjadi sangat sepi, tak ada pelukan saling menguatkan, dan luka-luka lebih banyak disembuhkan sendiri. Lantas mengapa saya menyinggung perempuan? Sederhana. Itu karena saya berpikir perempuan memegang peran penting dalam pencegahan, pengendalian Covid-19, hingga perbaikan ekonomi di negeri ini.

Kita tentu masih ingat media sosial dipenuhi perdebatan tentang dua sektor krusial, yakni kesehatan dan ekonomi yang sangat terdampak virus corona baru ini. Masing-masing orang berargumentasi tentang sektor mana yang seharusnya dijadikan prioritas.

Belum lama ini Presiden Joko Widodo mengatakan keduanya harus berjalan seiring sejalan, tak boleh ada yang berat sebelah. Sejatinya hal tersebut telah dilakukan para perempuan. Resiliensi perempuan telah berjalan seiring sejalan di kedua sektor tersebut.

Dalam bidang kesehatan, misalnya, perempuan terlibat aktif dalam upaya penyembuhan pasien Covid-19. Seperti yang disampaikan dokter spesialis paru-paru RSUP Persahabatan, Erlina Burhan, dalam talkshow bertema Peran Para Kartini di Saat Pandemi Covid-19 yang digelar di Graha BNPB Jakarta, saat peringatan Hari Kartini pada April 2020 lalu.

Menurut dia, peran perempuan besar di bidang kesehatan. Perbandingan jumlah perawat di Indonesia adalah 80% perempuan dan 20% laki-laki, sementara perbandingan jumlah dokter adalah 50%: 50%.

Para perempuan dengan keterbatasan atau kelebihan mereka (tergantung bagaimana sudut pandang kita), dengan pengalaman menstruasi atau bahkan hamil, tetap bekerja di garis depan dalam pengobatan pasien. Jelas butuh upaya ekstra agar bukan mereka yang justru yang menjadi korban.

Dibandingkan laki-laki, perempuan menghapi lebih banyak penghalang yang harus mereka patahkan saat berada di garis depan. Penghalang itu adalah diskriminasi, stigma, hingga peran ganda perempuan yang menyangkut blunder dalam urusan profesionalisme dan domestik.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bahkan sampai menerbitkan surat edaran tentang persoalan yang dihadapi para perempuan tenaga medis pada masa pandemi serta bagaimana masyarakat seharusnya menyikapi.

Di sisi lain, para perempuan di luar bidang kesehatan juga berupaya sekuat tenaga melawan virus ini. Gerakan Ingat Pesan Ibu tentang perilaku 3M (memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, serta memcuci tangan dengan sabun) yang dikampanyekan pemerintah sejak September 2020 lalu menjadi refleksi besarnya solidaritas dan tanggung jawab perempuan melawan Covid-19.

Latar belakang gerakan itu adalah rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut 17% masyarakat masih percaya tak akan tertular virus corona. Gerakan Ingat Pesan Ibu juga dilatarbelakangi hasil survei BPS yang menunjukkan persentase perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki dalam hal kepatuhan terhadap protokol kesehatan.

Perempuan jauh lebih patuh memakai masker, tidak berjabat tangan, memakai disinfektan, menjauhi kerumunan, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Tingginya kepatuhan itu selaras juga dengan lebih tingginya persepsi perempuan bahwa protokol kesehatan efektif mencegah penularan Covid-19.

Para perempuan yang kehidupan mereka sangat dekat dengan unsur pengasuhan punya rasa tanggung jawab tinggi dalam melindungi keluarga. Mereka juga punya keyakinan Covid-19 bisa dilawan dengan mematuhi aturan pemerintah.

Fondasi Kemanusiaan

Tanggung jawab besar perempuan juga terlihat dari hasil survei yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan belum lama ini. Berdasarkan hasil evaluasi pembelajaran jarak jauh yang diterapkan sejak awal pandemi, terlihat peran perempuan jauh lebih besar dibandingkan laki-laki dalam hal pendampingan anak belajar.

Sebanyak 27.396 responden perempuan atau sebesar 66,7% menyatakan bertanggung jawab atas pendampingan anak belajar sementara hanya 13.686 responden laki-laki atau 33,3% yang melakukan peran itu. Survei tersebut menunjukkan betapa besar peran perempuan dalam hal pendidikan generasi masa depan.

Pandemi yang memberikan pukulan besar pada anak-anak, yang tidak bisa mendapatkan hak pendidikan mereka secara maksimal seperti hari-hari sebelumnya, mendapat perhatian besar dari para perempuan.

Para perempuan, baik ibu pekerja maupun yang ibu rumah tangga, bersama-sama memberikan waktu mereka lebih banyak untuk pendidikan anak di rumah, menggantikan peran para guru di sekolah.

Tekad perempuan untuk bangkit dari keterpurukan juga bisa dilihat dari sektor ekonomi. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah 2017-2018, dari total 64 juta unit usaha di Indonesia, 99,99% adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga, seperti dikutip dari laman kemenpppa.go.id mengatakan potensi dan peran perempuan dalam sektor ekonomi sebagai pelaku usaha sangatlah besar.

Dia mengacu survei Bank Dunia pada 2016 yang menunjukkan lebih dari 50% usaha mikro dan kecil dimiliki perempuan. Mengacu hasil survei usaha kecil dan menengah Indonesia yang melibatkan 237 responden selama Covid-19 (Juni 2020), para pelaku usaha yang bertahan dan bahkan mengalami peningkatan omzet adalah mereka yang menggunakan metode usaha online.

Temuan itu didukung survei MarkPlus yang melaporkan transaksi belanja ritel secara online meningkat porsinya, dari 4,7% menjadi 28,9% selama pandemi. Sulit mengatakan perempuan Indonesia benar-benar tidak punya kegiatan di rumah alias hanya sebagai ibu rumah tangga.

Web 2.0. telah membuat kehidupan perempuan berubah. Internet menjadikan aktivitas domestik lebih produktif. Banyak perempuan yang bertekad membantu para suami dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari lewat perdagangan online yang memungkinkan mereka bekerja di rumah sekaligus menjalankan pengasuhan.

Di perdesaan, semangat para perempuan bangkit dari pandemi juga ditunjukkan Kelompok Wanita Tani Matahari di Dukuh Kebonagung, Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Para perempuan yang mayoritas bersuami buruh tani dan buruh bangunan tersebut berhasil mengangkat ekonomi keluarga melalui serbuk jahe instan yang dikirim hingga Jakarta, Surabaya, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Hong Kong.

Ampas empon-empon juga mereka manfaatkan untuk pakan ternak. Mereka kini juga mengembangkan penanaman sayur dengan polybag di rumah untuk gerakan menghemat uang belanja.

Tahun 2020 memang membawa banyak kabar mengejutkan, kebanyakan menyedihkan, namun kabar baik soal kemanusiaan juga berumur panjang, terutama yang digaungkan para perempuan.

Asa para perempuan itu mengantarkan kita pada sebuah harapan dan keyakinan tentang tahun 2021 yang lebih baik dengan fondasi kemanusiaan yang kuat yang dibangun selama pandemi.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom