Para aktivis lingkungan saat berdemo menolak pembangunan pabrik semen Pegunungan Kendeng di Kantor Gubernur Jateng, Kota Semarang, beberapa waktu lalu. (Semarangpos.com)

<p><strong>Solopos.com, SEMARANG &mdash;</strong> Pakar lingkungan dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof. Sudharto, mengaku tak puas dengan pemaparan kedua pasangan calon (paslon) pilkada atau tepatnya Pilgub Jateng 2018 terkait penataan lingkungan hidup saat <a title="Debat Pilgub Jateng: Paparan Kedua Paslon Puaskan Panelis" href="http://semarang.solopos.com/read/20180621/515/923558/debat-pilgub-jateng-paparan-kedua-paslon-puaskan-panelis">Debat Publik </a>&nbsp;di Hotel Patra, Kota Semarang, Kamis (21/6/2018).</p><p><span>"Saya rasa aspek yang dipaparkan kedua paslon terkait lingkungan jauh dari substansi. Saya enggak tahu? Apa itu karena kedua paslon yang kurang paham dengan permasalahan lingkungan di Jateng atau memang materi yang diberikan tim perumus [panelis] kurang mengena," ujar guru besar Ilmu Lingkungan Undip itu saat dihubungi Solopos.com, Jumat (22/6/2018).</span></p><p>Sudharto menyebutkan kedua paslon pilkada atau Pilgub Jateng 2018, baik Ganjar Pranowo-Taj Yasin maupun Sudirman Said-Ida Fauziyah, justru banyak mengupas pengembangan kawasan saat Debat Pilgub Jateng tahap ketiga itu. Padahal, tema yang diusung dalam <a title="Demokrasi Hukum dan Kawasan Jadi Tema Debat Terakhir Pilgub Jateng" href="http://semarang.solopos.com/read/20180621/515/923241/demokrasi-hukum-dan-kawasan-jadi-tema-debat-terakhir-pilgub-jateng">debat terakhir </a>&nbsp;itu juga meliputi lingkungan hidup.</p><p><span>"Kalau soal lingkungan harusnya yang dibicarakan meliputi IKLH [Indeks Kualitas Lingkungan Hidup], seperti kualitas air, udara, dan lahan. Tapi, itu semua enggak disinggung sama sekali," tuturnya.</span></p><p><span>Menurut Sudharto, pengembangan lingkungan hidup sangat signifikan bagi pembangunan Jateng ke depan. Bencana alam seperti banjir, longsor, bahkan abrasi pesisir pantai sangat dipengaruhi kondisi lingkungan hidup.</span></p><p><span>"Sekarang dari 35 daerah di Jateng, 23 di antaranya rawan bencana banjir. Tapi ini enggak sama sekali disinggung. Kalau soal lingkungan hidup yang dibicarakan hal itu seharusnya mengemuka," beber Sudharto.</span></p><p>Senada juga diungkapkan anggota <a title="Debat Bahas Tema Lingkungan, Ini Kata Aktivis" href="http://semarang.solopos.com/read/20180621/515/923461/debat-bahas-tema-lingkungan-ini-kata-aktivis">Jaringan Masyarakat Sipil untuk Keadilan Lingkungan dan Agraria (Jamaskeling) Jateng,</a> Ivan Wagner Bakar. <span>Ivan menilai apa yang disampaikan kedua paslon dalam Debat Pilgub Jateng menunjukkan pemahaman yang dangkal soal lingkungan hidup.</span></p><p><span>"Saat ditanya soal Kendeng [pembangunan pabrik semen] keduanya justru saling beragumen tentang embung dan jalan buatan. Malah ada yang bilang missinformasi kepada masyarakat," ujar Ivan.</span></p><p><span>Ivan menyebutkan logika kedua paslon soal Kendeng salah. Mereka berencana membangun embung dan sumur sebagai solusi perairan di Pegunungan Kendeng. "Padahal yang diinginkan adalah penolakan pabrik semen di Kendeng. Tapi, yang ditawarkan justru embung. Logika kedua paslon salah," tegas Ivan.&nbsp;</span></p><p><strong><em><a href="http://semarang.solopos.com/">KLIK</a> dan <a href="https://www.facebook.com/SemarangPos">LIKE</a> di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya</em></strong></p>


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten