Panti Asuhan Siwi Mekar Klaten Bertahan Mengandalkan Donasi dan Unit Usaha Untuk Menghidupi 50 Anak Asuh
Perwakilan Yayasan Baitul Maal PT PLN UP3 Klaten, Margono, menyerahkan santunan secara simbolis kepada Kepala Panti Asuhan dan Yayasan Pemeliharaan Bayi Terlantar (YPBT) Siwi Mekar, Jumat (23/10/2020). (Espos/Taufiq Sidik Prakos)

Solopos.com, KLATEN -- Puluhan anak bermain di bagian tengah Panti Asuhan dan Yayasan Pemeliharaan Bayi Terlantar (YPBT) Siwi Mekar. Yayasan itu berada di Jl. Wijaya Kusuma, Kelurahan Gayamprit, Kecamatan Selatan, Kabupaten Klaten. Sesekali tangis terdengar ketika ada anak yang kalah rebutan mainan.

Berulang kali suara pengasuh terdengar menegur anak yang berbuat jahil kepada temannya atau berlarian tak karuan hingga ke tepian jalan. Saban ada tamu datang, sebagian bocah bergegas menghampiri, sekadar menyapa dengan senyum ramah mereka hingga penasaran melihat barang apa yang dibawa. Setiap hari, panti asuhan dan YPBT Siwi Mekar tak pernah sepi dari keriuhan bocah yang ceria bermain.

Di balik keceriaan bocah-bocah itu, ada para pengasuh yang bekerja keras membesarkan mereka. Tak hanya memberikan kasih sayang selayaknya orang tua bagi anak-anak yang sebagian terlantar sejak lahir, pengelola panti juga harus mengatur dan mencukupi kebutuhan hidup mereka.

Perjuangan Belasan Panti Asuhan di Klaten Tetap Eksis Di Tengah Pandemi

Berat memang tugas mereka, terlebih di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini. Donasi yang menurun lantaran dampak ekonomi membuat pengelola memutar otak mengatur keuangan agar kebutuhan harian tetap terpenuhi. Menutup sementara pengoperasian panti tentu tak bisa dilakukan lantaran anak-anak yang mereka asuh kebanyakan adalah anak-anak telantar. Pengelola panti juga memiliki keteguhan untuk tak melayani adopsi anak.

Butuh Rp15 Juta/Bulan

Kepala Panti Asuhan dan YPBT Siwi Mekar, Sri Rejeki, mengakui donasi sempat menurun terutama pada awal pandemi. Sementara, kebutuhan harian anak seperti makan, susu, hingga popok sekali pakai harus tetap tersedia. Saat ini, Panti Asuhan yang didirikan dr Soeradji Tirtonegoro pada 1959 itu mengasuh 50 anak dengan usia paling muda berumur dua bulan.

Perlu dana hingga Rp15 juta untuk mencukupi kebutuhan pokok termasuk biaya operasional seperti listrik dan air setiap bulannya. Sementara, donasi di masa pandemi ini hanya berkisar Rp5 juta per bulan. “Sebelum pandemi itu bisa donasi mencapai Rp15 juta untuk menutup kebutuhan anak-anak dan operasional,” kata Rejeki saat ditemui Espos di Panti Asuhan YPBT Siwi Mekar, Jumat (23/10/2020).

Banyak Difabel di Klaten Masih Berpendidikan Rendah, Stigma Masih Jadi Masalah

Rejeki tetap bersyukur bisa bertahan merawat puluhan anak asuhnya meski pandemi Covid-19 memukulnya. Meski donasi dalam bentuk uang berkurang,  masih ada para donatur yang berdatangan memberikan santunan berupa bahan makanan seperti beras, sayuran, atau lauk pauk. Bantuan itu sangat membantu keberlangsungan panti untuk memenuhi kebutuhan makan dan gizi anak-anak yang tak bisa ditunda.

Kebutuhan juga bisa tertopang berkat usaha panti yang sudah rutin dijalankan sebelumnya. Panti Asuhan Siwi Mekar membuka usaha pangkalan gas elpiji 3 kg serta jualan es hingga makanan. Meski ada pandemi Covid-19, usaha-usaha itu tetap berjalan.

Jual Elpiji

Untuk mengelola panti, Rejeki dibantu 15 orang yang bertugas merawat anak hingga menjalankan usaha. Mereka membantu selayaknya sukarelawan alias tak ada bayaran pasti. Ketika kebutuhan pokok anak-anak sudah terpenuhi, kelebihan dana baru dibagi kepada para sukarelawan yang membantu. “Terus terang yang paling dibutuhkan saat ini adalah susu, diapers, dan kebutuhan pokok lainnya termasuk makanan,” kata Rejeki.

Tergusur Tol Solo-Jogja, Kompleks Makam Pudak Klaten Bakal Dipindah

Salah satu sukarelawan panti, Suharni, 55, mengaku sudah 37 tahun ikut membantu mengoperasikan panti asuhan tersebut. Dia bersyukur panti bisa bertahan merawat anak-anak di tengah keterbatasan dana akibat pandemi Covid-19 saat ini. “Pengalaman tentunya sangat banyak sekali. Kalau saya di sini bisa dibilang sukarelawan. Kalau ada rejeki yang diterima kalau tidak ya tidak apa-apa,” kata Suharni.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom