Panen di Tengah Pandemi, Petani Sukoharjo Optimistis Surplus Padi
Sejumlah petani memanen padi saat masa tanam (MT) I di Kelurahan Sonorejo, Kecamatan Sukoharjo, Jumat (12/1/2018). (Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos)

Solopos.com, SUKOHARJO — Pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sukoharjo optimistis para petani mampu menjaga panen surplus padi di tengah gerusan pandemi Covid-19. Sektor pertanian dinilai menjadi pengaman ketahanan pangan masyarakat yang saat ini kesulitan mencari penghasilan.

Sejak merebaknya wabah Covid-19, tak ada lagi aktivitas impor komoditas pangan. Kondisi ini menjadi peluang para petani untuk menggenjot produksi padi.

Selama ini, Sukoharjo menjadi salah satu daerah lumbung padi dan penyangga ketahanan pangan di Jawa Tengah. Hampir setiap tahun, Sukoharjo selalu mencatatkan tren positif di sektor pertanian.

Siapa Pendamping Gibran dalam Pilkada Solo? Ini Kriteria Menurut Pakar

“Saat ini, para petani tengah memanen padi di lahan pertanian saat masa tanam (MT) I. Mereka siap menjaga surplus padi guna menjaga ketahanan pangan di tengah pandemi Covid-19,” kata Ketua KTNA Sukoharjo, Sukirno, saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (5/6).

Selama beberapa tahun terakhir, surplus padi di Kabupaten Jamu lebih dari 100.000 ton. Masa panen padi dilakukan tiga kali dalam setahun.

Kembangkan Minapadi

Menurut Sukirno, ada beberapa lokasi lahan pertanian yang menerapkan konsep minapadi seperti di Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari dan Desa Geneng, Kecamatan Gatak.

“Sawah minapadi berimplikasi positif terhadap produktivitas padi dan ikan. Petani mendapat double keuntungan dari memanen padi dan ikan,” ujar dia.

Tak hanya itu, hasil panen padi lebih berkualitas lantaran tak menggunakan obat pestisida. Karena itu, Sukirno mendorong para petani lainnya menerapkan konsep minapadi di areal persawahan. Para petugas penyuluh lapangan bakal mengajari penerapan konsep minapadi di areal persawahan.

Awas! 80% Pembawa Virus Corona di Indonesia Tanpa Gejala Covid-19

Pengurus KTNA Sukoharjo menggandeng Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah Muhammadiyah (LazisMu) dengan memberikan bantuan kepada warga terdampak pamdemi Covid-19. Bantuan itu berupa beras sebanyak 350 kilogram.

Sementara itu, seorang petani asal Desa Pojok, Kecamatan Nguter, Sahono, meminta agar instansi terkait memperhatikan kebutuhan pupuk bersubsidi saat awal masa tanam. Kala itu, tanaman padi sangat butuh nutrisi yang terdapat di pupuk.

Sahono meminta agar penyaluran pupuk bersubsidi merata di tingkat pengecer. “Penyaluran pupuk bersubsidi harus merata agar tak ada lagi petani yang kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi saat awal masa tanam,” kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho