Pandemi Covid-19, Terbelo di Wonogiri Laris
Pekerja memberi ornamen kain mori pada peti mati di tempat usaha penjualan peti mati Lingkungan Brajan, Kelurahan Kaliancar, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Sabtu (16/1/2021). (Solopos/Rudi Hartono)

Solopos.com, WONOGIRI — Penjualan peti mati atau terbelo selama pandemi Covid-19 pada 2020 di Wonogiri meningkat dibanding pada kondisi normal.

Ada tidaknya hubungan antara kondisi tersebut dengan terus bertambahnya pasien Covid-19 yang meninggal dunia, belum dapat dipastikan. Namun, faktanya kedua fenomena itu terjadi beriringan.

Pusat penjualan nisan atau kijing dan peti mati di Wonogiri terdapat di kawasan Singodutan dan Kaliancar, Kecamatan Selogiri tak jauh dari Terminal Giri Adipura Wonogiri. Pengelola tempat usaha penjualan nisan dan peti mati Ratna Jaya, Maryadi, 43, saat ditemui Solopos.com, Sabtu (16/1/2021), menginformasikan penjualan peti mati selama pandemi Covid-19 naik.

Geger Ramalan Mbak You Soal Jokowi Lengser 2021, Ini Penjelasannya

Peningkatan permintaan terbelo paling banyak dari sejumlah rumah sakit di Wonogiri, yakni RSUD Soediran Mangun Sumarso, RS Medika Mulya, dan RS Mulia Hati. Pada masa pandemi Covid-19 tahun lalu setiap hari ada permintaan dari rumah sakit dan masyarakat sebanyak empat hingga lima unit peti mati. Pada kondisi normal setiap hari ada ada permintaan juga, tetapi jumlahnya tidak terlalu banyak.

“Pada kondisi normal peti mati yang terjual lebih kurang 30 unit/bulan. Selama 2020 naik menjadi sekitar 50 unit/bulan. Penjualan naik karena permintaan dari rumah sakit juga meningkat. Tapi peti mati itu untuk jenazah pasien Covid-19 atau tidak kami tidak tahu. Kami sekadar melayani permintaan,” kata Maryadi.

RSUD Wonogiri, RS Medika Mulya, dan RS Mulia Hati sudah lama menjadi pelanggan tempat penjualan nisan dan terbelo Ratna Jaya. Kenaikan permintaan khusus dari RS Medika Mulya dan RS Mulia Hati terjadi sejak awal Desember 2020. Maryadi pun tidak mengetahui penyebabnya.

Cibeby, Miyabi Versi Indonesia

Pasien Covid-19

Informasi yang dihimpun Solopos.com, kedua RS tersebut mulai membuka layanan perawatan pasien Covid-19 di ruang isolasi setelah kasus Covid-19 meningkat pada Desember 2020 lalu. Bahkan, keduanya membuka tempat tidur isolasi pasien Covid-19 cukup banyak.

RS Medika Mulya tercatat membuka 16 tempat tidur isolasi, sedangkan RS Mulia Hati memiliki 14 tempat tidur isolasi. Tingkat keterisian kedua RS itu tinggi.

Berdasar data ketersediaan tempat tidur isolasi pasien Covid-19, Jumat (15/1/2021), tempat tidur isolasi di RS Medika Mulya hanya kosong satu unit. Sementara, seluruh tempat tidur isolasi di RS Mulia Hati penuh.

19 Tahun Keajaiban Serenan Klaten: Duit Sekoper Milik Penumpang Garuda Bikin Warga Melongo  

Lantaran tren penjualan naik Maryadi meningkatkan stok. Selama pandemi Covid-19 tahun lalu setiap hari harus ada tambahan tiga unit terbelo yang sudah diberi ornamen kain mori. Pada kondisi normal pengadaan peti mati berkain mori biasanya hanya satu/hari.

Sejak beberapa hari lalu Maryadi sudah memasan peti mati polos atau belum diberi ornamen kain mori dari Solo. Namun, hingga hari itu pesanan belum datang. Informasi yang dia peroleh itu terjadi karena terkendala pengadaan kayu. Di sisi lain pesanan dari berbagai tempat usaha penjualan peti mati di Soloraya juga meningkat.

“Kami tak menaikkan harga. Peti mati biasa kami jual Rp700.000/unit komplit dengan isinya, seperti kain kafan, payung, bedak, sabun, dan lainnya. Kalau yang ukuran jumbo kami jual Rp800.000/unit komplit,” imbuh Maryadi.

Sementara itu, pemilik tempat usaha penjualan peti mati lainnya, Dewi, 45, mengatakan hal senada. Peningkatan permintaan terbelo paling banyak dari RSUD Wonogiri. Pada kondisi normal penjualan rata-rata dua hingga tiga unit/pekan.

Deretan Bencana di Awal 2021: Pesawat Jatuh hingga Gunung Meletus, #PrayforIndonesia

RSUD

Permintaan dari RSUD belum tentu ada setiap pekan. Selama pandemi Covid-19 tahun lalu permintaan mencapai lima hingga enam unit/pekan. Permintaan dari RSUD naik. Hampir setiap pekan ada permintaan dari RSUD. Dewi memasang harga sesuai harga pasaran.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Wonogiri mencatat hingga Sabtu pekan lalu ada lebih dari 190 jenazah yang dimakamkan dengan prosedur pemakaman pasien Covid-19. Pada 26 November 2020 lalu jenazah pasien Covid-19 tercatat 53 jenazah. Itu berarti hingga Rabu lalu jenazah bertambah 137 jenazah.

Pria Jadi Korban Begal Payudara, Malah Viral di Medsos…

Sesuai data kasus Covid-19 yang dipublikasi Pemkab Wonogiri, hingga Jumat pekan lalu, jumlah kumulatif warga terkonfirmasi positif mencapai 1.960 orang. Sebanyak 78 orang di antaranya meninggal dunia. Warga terkonfirmasi positif Covid-19 yang meninggal dunia bertambah 33 orang sejak 26 November tahun lalu. Saat itu angka kematian tercatat 45 kasus.

Sementara, jumlah kumulatif warga berstatus suspek dan probable hingga hari yang sama ada 197 orang. Sebanyak 45 orang di antaranya meninggal dunia. Total pasien Covid-19 meninggal dunia 123 orang.

Jumlah jenazah yang dimakamkan dengan prosedur pemakaman jenazah pasien Covid-19 lebih banyak dari data itu, lantaran banyak kiriman dari daerah lain. Jenazah dimakamkan di Wonogiri karena Wonogiri tempat kelahiran mereka.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom