Pandemi Covid-19 Tak Kunjung Kelar, Apa Kabar Program Buy The Service Bus BST Solo?
Petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo menyemprotkan cairan disinfektan pada armada bus Batik Solo Trans (BST) di halaman kantor Dishub Solo, Selasa (17/3/2020). (Solopos/Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO -- Lelang pengelolaan bus Batik Solo Trans atau BST dengan skema buy the service atau pembelian layanan transportasi massal perkotaan tetap berjalan di tengah pandemi Covid-19.

Lelang itu dijadwalkan rampung akhir Mei ini. Saat ini, proses lelang tengah memasuki masa sanggah. Pagu anggaran untuk menyubsidi operasional bus BST itu senilai Rp53 miliar.

Kendati pemenangnya sudah diketahui, pelaksanaan buy the service paling cepat baru bisa dimulai pada September 2020. Pandemi Covid-19 membuat rencana pemerintah pusat itu molor.

Masih KLB Covid-19, Kapolresta Solo Takkan Beri Izin Penggunaan Tempat Umum Untuk Salat Id

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo, Hari Prihatno, mengatakan sedianya pelaksanaan buy the service bus BST dimulai pada Juni. Pemenang lelang diminta menyediakan bus sesuai standar yang ditetapkan Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

“Mereka harus menyediakan bus baru untuk koridor I dan II. Nah, bus baru itu belum dibuat. Makanya, belum bisa diterapkan,” kata dia kepada wartawan, pekan lalu.

Pemenang Lelang

PT Bengawan Solo Trans (BST) menjadi pemenang lelang menyingkirkan 25 peserta lain, salah satunya Perum Damri Cabang Solo. Direktur PT BST, Sri Sadadmodjo, mengaku segera berburu perlengkapan operasional, termasuk bus baru.

Namun, dia membutuhkan suntikan dana dari investor mengingat dana dari pusat untuk subsidi layanan bus BST Solo itu belum turun.

Kasus Positif Corona Sragen Dari Klaster Temboro Bertambah 1 Laki-Laki Asal Kedawung

“Masa berkontrak buy the service sekitar delapan bulan dihitung dari Juni. Tapi, karena pandemi, penumpangnya anjlok. Paling hanya satu-dua penumpang sehingga tidak memungkinkan peluncurannya,” kata dia.

Jika operasionalnya dimulai September, Sri Sadadmojo mengatakan paling tidak tiga bulan ke depan harus rampung busnya, terutama pendanaan. Sadad mengaku kesulitan berburu investor mengingat tak banyak lembaga pendanaan yang bersedia menyalurkan kredit di tengah pandemi.

10 Orang di Joyotakan Solo Reaktif Rapid Test, 2 Anak Balita Positif Corona, Karantina Wilayah Diperluas?

“Nanti kesepakatannya dengan investor. Kami sudah bertemu dengan finance [lembaga pendanaan] dan sudah banyak yang angkat tangan. Tapi kami tetap akan berusaha,” tandasnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho