Tutup Iklan
Pandemi Covid-19 Pukul Bisnis Mal, Apa Kabar Saham Matahari dan Ramayana?
Ilustrasi mal (Maulana Surya/JIBI/SOLOPOS)

Solopos.com, JAKARTA -- Pandemi Covid-19 benar-benar memukul bisnis pusat perbelanjaan atau mal. Nilai saham 11 emiten mal di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini terjun bebas dibandingkan awal Januari 2020.

Mal sempat dihindari masyarakat lantaran dianggap berpotensi menjadi pusat penularan Covid-19. “”Sekitar 30% tenant memilih tutup lantaran sepi pengunjung. Pengunjung turunnya sangat drastis,” kata Public Relations Solo Grand Mall (SGM), Ni Wayan Ratrina, April 2020 lalu.

Kondisi serupa terjadi di hampir semua mal di Tanah Air sebagai dampak pandemi Covid-19. Sebenarnya seburuk apa penurunan nilai saham emiten mal?

Wajib Tahu! Ini Tipe Hotel Berdasarkan Bintang dan Penjelasannya

Berdasarkan data BEI, saham 11 emiten mal kompak terjun bebas. Penurunan nilai saham bervariasi dari hanya 30 persen hingga lebih dari 60 persen.

Saham PT Matahari Department Store Tbk., misalnya, pada perdagangan 29 Mei 2020 tercatat Rp1.450 per lembar. Nilai saham emiten berkode LPPF tersebut anjlok 65 persen dibandingkan 2 Januari 2020, sebesar Rp4.120 per lembar.

Kinerja Positif pada 2019

Padahal Desember 2019 lalu, kinerja tenant mal raksasa yang ada hampir di semua kota itu cukup bagus. Matahari sukses mencetak pendapatan Rp2,4 triliun. Laba bersih LPPF pun tembus Rp180,36 miliar pada akhir Desember 2019.

Rekomendasi Tempat Ibadah di Sragen, Camat Tunggu Perintah Bupati

Emiten mal lainnya, PT Plaza Indonesia Realty Tbk. (PLIN), juga mencatatkan penurunan nilai saham yang tajam. Pada 2 Januari 2020, saham pengelola Plaza Indonesia ini tercatat Rp3.300 per lembar.

Nilai saham lalu berangsur turun dan terakhir menjadi Rp2.200 per lembar pada 29 Mei 2020. Artinya, saham PLIN jeblok 33,3 persen dalam kurun waktu lima bulan.

Saham emiten mal atau pusat perbelanjaan lainnya, PT Ramayana Lestari Sentosa (RALS) juga turun tajam. Jika dibandingkan perdagangan saham 2 Januari 2020, nilai saham pada 29 Mei 2020 tercatat turun 47%.

Jangan Sampai Terpapar, Begini Cara Melindungi Anak-Anak dari Virus Corona

Pada awal Januari, saham emiten berkode RALS itu sempat menyentuh Rp1.070 per lembar. Sementara pada akhir Mei 2020 hanya Rp570 per lembar saham.

Kondisi yang tak jauh beda terjadi pada nilai saham emiten mal lainnya seperti PT Lippo Cikarang Tbk. (LPCK), PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON), dan PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA).

Saham PT Summarecon Agung Tbk. sempat naik tipis beberapa hari jelang akhir Mei 2020. Hal tersebut seiring kunjungan Presiden Joko Widodo ke mal milik SMRA yang ada di Bekasi, Selasa (26/5/2020). Namun, menghijaunya saham SMRA tidak sebanding dengan penurunan tajam akibat pandemi Covid-19.

Persiapan New Normal di Mal

Pada 29 Mei 2020, saham emiten berkode SMRA itu ditutup pada level Rp464 per lembar saham. Padahal, 2 Januari 2020 lalu, saham mal tersebut sempat menyentuh Rp1.000 per lembar. Dengan kata lain, nilai saham SMRA turun 54 persen.

Sementara itu, kunjungan Presiden dalam rangka mengecek persiapan penerapan new normal tersebut berdampak positif pada sektor properti. Analis Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada, mengatakan penguatan saham properti pada perdagangan 26 Mei 2020 didukung kunjungan Presiden ke mal.

Masjid Nabawi Dibuka Kembali, Ini Aturan Bagi Jemaah

“Sentimen itu menjadi trigger bagi pelaku pasar untuk melakukan spekulasi dan trading saham-saham properti atas kemungkinan pembukaan operasional mal-mal yang diyakini akan memperbaiki roda ekonomi dalam negeri,” ujar Reza saat dihubungi Bisnis.com, Selasa (26/5/2020).

Sebagai informasi, Asosiasi Persatuan Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DKI Jakarta mencatat 64 mal akan beroperasi. Puluhan mal itu bakal beroperasi setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jilid III rampung pada 4 Juni 2020.

Sebanyak 60 mal di Jakarta tersebut siap buka perdana pada 5 Juni 2020. Sementara empat mal di Jakarta lainnya pada 6 Juni 2020.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho