Pandemi Covid-19 Bikin Wisata Hutan Kota Kaki Gandul Wonogiri Bangkrut

Wisata Hutan Kota Kaki Gandul yang berada di Tempat Penimbunan Kayu (TPK) Perhutani Wonogiri, di Lingkungan Salak, Kelurahan Giripurwo, Kecamatan Wonogiri sudah tidak beroperasi.

 Kereta kelinci di Wisata Hutan Kota Kaki Gandul Wonogiri terlihat tak terawat, Senin (25/7/2022). Wisata tersebut tak lagi beroperasi sejak pandemi Covid-19 melanda. (Solopos.com/Muhammad Diky Praditia)

SOLOPOS.COM - Kereta kelinci di Wisata Hutan Kota Kaki Gandul Wonogiri terlihat tak terawat, Senin (25/7/2022). Wisata tersebut tak lagi beroperasi sejak pandemi Covid-19 melanda. (Solopos.com/Muhammad Diky Praditia)

Solopos.com, WONOGIRIWisata Hutan Kota Kaki Gandul yang berada di Tempat Penimbunan Kayu (TPK) Perhutani Wonogiri, di Lingkungan Salak, Kelurahan Giripurwo, Kecamatan Wonogiri sudah tidak beroperasi. Wisata yang berada di tengah Kota Wonogiri itu gulung tikar sejak pandemi Covid-19.

Pantauan Solopos.com, Senin (25/7/2022), wisata yang tak jauh dari pelintasan kereta api Alas Kethu dalam kondisi memprihatinkan.

PromosiNimo Highland, Wisata Hits di Bandung yang Mirip Santorini Yunani

Berbagai wahana mancakrida yang terbuat kayu dari sudah keropos. Taman-taman sudah ditumbuhi rumput liar tak beraturan. Perahu kecil yang berada di sungai pun hanya tinggal kerangka. Sementara jembatan tak bisa lagi dilalui.

Tak hanya itu, kereta kelinci yang dulu kerap dinaiki anak-anak pun seperti tinggal menunggu untuk dikilokan. Rumah-rumah pohon yang sempat sering jadi tempat swafoto kini sudah berlumut. Kayu-kayunya tampak sudah keropos, mudah patah.

Ketika mencoba mengelilingi wisata yang sempat jaya sekitar 2017 itu, nyamuk yang ada di lingkungan sekitar seolah tak berhenti mendenging.

Baca Juga: Alas Kethu, Tempat Healing yang Sejuk dan Rindang di Wonogiri

Kepala TPK Perhutani Wonogiri, Budiono, mengatakan wisata Hutan Kota Kaki Gandul sudah berhenti sejak pandemi Covid-19. Sejak saat itu tidak ada lagi pengunjung yang datang ke sana. Hanya tiga karyawan yang saban pekan mengecek wisata meski tak ada satu pun wisatawan.

“Sebelum pandemi Covid-19 pun sebenarnya wisata ini belum menguntungkan. Selama lebih kurang empat tahun beroperasi, pengelola belum mendapatkan keuntungan. Uang yang masuk hanya cukup menggaji karyawan dan mendukung operasional wisata,” kata Budi saat ditemui Solopos.com di TPK Wonogiri, Senin (25/7/2022).

Saat pembukaan pada 2017 lalu, wisata ini belum benar-benar jadi. Kala itu, proses pengerjaan masih sekitar 50 persen.

Hal itu dilakukan agar warga mengetahui bahwa ada wisata di tengah kota. Selain itu, agar pengelola mendapat pemasukan untuk mengembangkan wisata.

Baca Juga: Hutan Paling Luas di Soloraya Berada di Wonogiri, Berapa Hektare Ya?

Wisata Hutan Kaki Gandul memang sempat ramai. Tetapi hanya saat tiga bulan pertama.

Bulan-bulan setelahnya tidak lebih dari 30 orang yang berkunjung ke sana setiap harinya. Meski harga tiket masuk hanya Rp4.000/lembar saat hari kerja dan Rp5.000/lembar saat akhir pekan, tak banyak warga kota yang bermain di lahan milik Perhutani itu.

“Yang punya wisata ini pihak ketiga, swasta. Tapi ada perjanjian kerja sama dengan Perhutani. Sebanyak 65 persen untuk pengelola dan 35 persen untuk perhutani,” ujar Budi yang juga salah satu pengelola wisata kala itu.

Saat ini sudah banyak kayu-kayu milik Perhutani yang di kawasan TPK Wonogiri. Kayu-kayu itu sudah memenuhi lahan yang mulanya menjadi wisata seluas 1,8 ha.

Baca Juga: Kisah Penamaan Alas Kethu Wonogiri

Eks Pengelola Wisata Hutan Kaki Gandul lainnya, Sutrisno, membenarkan hal tersebut. Sebelum pandemi Covid-19 pun wisata yang tak jauh dari Alas Kethu itu sudah ada tanda-tanda bangkrut.

“Sulit kalau mau menghidupkan wisata ini lagi. Butuh biaya yang tidak sedikit. Dulu waktu modal awal, mungkin Ro100 juta ada. Padahal di sini strategis. Di tengah kota, banyak sekolah juga,” tutur Trisno.

Dulu, sambung dia, wisatawan banyak dari kalangan remaja. Sayangnya, wisata alam itu masih banyak nyamuk.

Tak jarang para pengunjung menyesalkan hal itu. Hal itu pula yang menjadi salah satu penyebab para warga kota enggan datang.

Daftar dan berlangganan Espos Plus sekarang. Cukup dengan Rp99.000/tahun, Anda bisa menikmati berita yang lebih mendalam dan bebas dari iklan dan berkesempatan mendapatkan hadiah utama mobil Daihatsu Rocky, sepeda motor NMax, dan hadiah menarik lainnya. Daftar Espos Plus di sini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Solopos.com - Panduan Informasi dan Inspirasi

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Berita Terkini

      Gelar Lomba Esai, Bawaslu Sukoharjo Dorong Anak Muda Peduli Pemilu

      Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sukoharjo menggelar lomba final esai tentang Pemilu 2024 dengan peserta para pelajar tingkat sekolah menengah atas (SMA).

      LDII Ingatkan Komunisme Tak Selaras dengan Bangsa Indonesia

      Lembaga Dakwah Islam Indonesia atau LDII mengingatkan bahwa paham komunisme tidak selaras dengan ideologi bangsa Indonesia.

      Enak dan Murah, Ini Rekomendasi Warung Susu Boyolali yang Cocok untuk Nongkrong

      Rekomendasi 3 warung susu enak dan asyik buat nongkrong di Kabupaten Boyolali

      Solo Batik Music Festival di Pura Mangkunegaran, Masuk Venue Wajib Pakai Batik

      Para penonton acara Solo Batik Music Festival di Pamedan Pura Mangkunegaran Solo, 1-2 Oktober 2022, wajib mengenakan busana batik.

      Motor Vs Mobil di Jl. Jenderal Ahmad Yani Wonogiri, Seorang Pelajar Meninggal

      Kecelakaan lalu lintas melibatkan motor Honda Vario dan mobil Honda CRV terjadi di Jl. Jenderal Ahmad Yani, Lingkungan Salak, Kelurahan Giripurwo, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri, Jumat (30/9/2022) sekitar pukul 17.50 WIB.

      DPUPR Solo: Konstruksi Jembatan Sasak Beton-Gadingan Sangat Jauh dari Layak

      DPUPR Solo menyebut konstruksi jembatan sasak di Bengawan Solo yang menghubungkan Beton, Sewu, ke Gadingan, Mojolaban, Sukoharjo, sangat jauh dari layak.

      Legislator DPRD Solo Tak Setuju PKL TSTJ Dipindah ke Pasar Tradisional

      Puluhan PKL TSTJ Solo mengadakan audiensi dengan DPRD Solo untuk menyuarakan penolakan atas rencana Pemkot memindahkan mereka ke pasar tradisional.

      Ucapan Terima Kasih, Warga Tirtomoyo Wonogiri Beri Kayu Liwung ke Bupati Jekek

      Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, menerima 'jimat' dari warga asal Tirtomoyo, Saiman, berupa Kayu Liwung.

      Vaksin Meningitis Langka di RS Solo, Sebagian Jemaah Umrah Tunda Keberangkatan

      Vaksin meningitis yang langka di Kota Solo membuat sebagian jemaah umrah menunda keberangkatan sementara yang lainnya sampai berburu ke luar provinsi.

      Nikmatnya Soto Legendaris Mbok Dele Klaten, Jujukan Para Artis-Seniman Kondang

      Warung soto Mbok Dele menjadi salah satu warung legendaris di Klaten.

      Piknik ke Solo Sukoharjo Wonogiri Naik KA Batara Kresna, Hanya Rp4.000/Orang

      Perjalanan menyenangkan Solo - Sukoharjo - Wonogiri menggunakan Kereta Api (KA) Batara Kresna dengan tarif hanya Rp4.000 per penumpang.

      54 Jabatan Perangkat Desa di Karanganyar Tak akan Diisi, Ini Alasannya

      Ada beberapa sebab puluhan jabatan perangkat desa di Kabupaten Karanganyar tidak diisi. Di antaranya adalah jabatan yang kosong diisi dari mutasi perangkat desa lainnya.

      Jamu Jampi Usodo, Warisan Nusantara Menyehatkan Dunia

      Jamu, dari bahasa Jawa kuno jampi atau usodo sebagai salah satu minuman tradisional Indonesia, telah diajukan ke UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nusantara yang menyehatkan dunia.

      Tiket Presale Konser Dewa 19 Solo di Edutorium UMS Ludes, Sisa Harga Normal

      Tiket presale konser Dewa 19 di Solo yang akan diselenggarakan pada 26 November 2022 di Edutorium UMS Sukoharjo ludes dibeli Baladewa.

      Dinilai Kurang Aman, Jembatan Sasak Bengawan Solo akan Diganti Jembatan Darurat

      Pemkot Solo berencana mengganti jembatan sasak di Kampung Beton, Kelurahan Sewu, ke Mojolaban, Sukoharjo, dengan jembatan darurat yang lebih aman.