Pengunjung mengamati timbangan dan alat hitung atau kalkulator kuno koleksi PG Mojo di Pameran Inovasi Pendidikan di Gedung Sasana Manggala Sukowati, Sragen, Sabtu (27/4/2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Pameran Inovasi Pendidikan Sragen yang digelar di Gedung Sasana Manggala Sukowati, Sabtu (27/4/2019), ramai dikunjungi warga.

Di pameran ini yang berlangsung hingga Minggu (28/4/2019) ini, pengunjung bisa menyaksikan berbagai koleksi benda-benda kuno di antaranya sejumlah kalkulator kuno buatan Eropa koleksi Pabrik Gula (PG) Mojo Sragen yang berdiri pada 1834. Kalkulator itu dibuat pada era penjajahan Belanda di Tanah Air.

Kalkulator kuno yang berusia ratusan tahun itu menyerupai telepon rumah, namun berukuran lebih besar. Kalkulator kuno ini tidak menggunakan baterai, melainkan harus dengan cara diputar gagang mesinnya secara manual.

“Ini kali pertama saya melihat kalkulator kuno itu. Bentuknya masih sangat besar. Karena itu koleksi PG Mojo, mungkin dulu pernah digunakan untuk menghitung produksi gula,” jelas Aby Maulana, 14, siswa SMPN 2 Sambungmacan Sragen.

Selain itu, di Museum Masuk Sekolah yang menjadi bagian dari pameran inovasi itu ada fosil kepala buaya muara purba yang diperkirakan berusia 1,2 juta tahun menjadi daya tarik pengunjung di stan tersebut.

Beberapa pengunjung yang penasaran bisa memegang fosil kepala buaya purba yang ditemukan di Situs Sangiran, Kecamatan Kalijambe, tersebut. Beberapa gigi fosil itu sudah tanggal.

Namun, para pengunjung masih bisa membayangkan betapa garangnya buaya purba tersebut ketika masih hidup. “Ini kesempatan saya memegang fosil secara langsung. Biasanya hanya melihat dari balik lemari etalase. Ternyata kepala buaya itu begitu keras sekali karena sudah menjadi batu. Ukurannya cukup besar, bisa dibayangkan begitu garangnya dulu waktu masih hidup. Sudah pasti banyak hewan yang sudah disantap binatang buas ini,” ujar Aminah, 45, warga Sambungmacan, saat ditemui Solopos.com di lokasi.

Beberapa benda purbakala yang menarik perhatian pengunjung antara lain replika fosil tengkorak Homo Erectus lengkap dengan pecahan gigi dan tulang belulangnya. Ada pula fosil tanduk rusa, kerang, manik-manik yang menjadi bekal kubur di zaman prasejarah.

Bandul jala yang terbuat dari tanah liat yang ditemukan di Bengawan Solo, tepatnya di Situs Sambungmacan, juga dipamerkan. Bandul jala ini diperkirakan bagian dari peninggalan zaman Neolitikum.

Koleksi lain yang menjadi pusat perhatian pengunjung adalah peralatan operasi atau bedah milik dr. Soehadi Prijonegoro, dokter pertama di Kabupaten Sragen. Nama dr. Soehadi Prijonegoro kini diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sragen.

Museum Masuk Sekolah itu juga mengingatkan Sragen pernah memiliki beberapa penulis atau seniman terkenal seperti Asmaraman Sukowati atau lebih dikenal dengan Kho Ping Ho hingga Danarto.

“Semua benda kuno itu berasal dari berbagai lokasi mulai dari Situs Sangiran, Situs Miri, Situs Sambungmacan, dan lain-lain. Koleksi Museum Masuk Sekolah itu berasal dari masa prasejarah, lanjut ke pengaruh budaya Hindu dan Budha, masuknya masuknya Islam ke Sragen, hingga masa penjajah kolonial Belanda,” jelas Kasi Cagar Budaya dan Permuseuman, Bidang Pembinaan Budaya Disdikbud Sragen, Andjarwati Sri Sajekti.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten