Ilustrasi jalan retak akibat gempa bumi (Freepik)

Solopos.com, SOLO -- Gempa 7,4 SR yang berpusat di barat daya Sumur, Pandeglang, Banten, Jumat (2/8/2019) malam, kembali mengingatkan masyarakat akan gempa besar yang mengintai selatan Indonesia, khususnya selatan Jawa. Bahkan, kini Indonesia selatan kini memasuki periode panen gempa.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Centre for Information and Development Studies (Cides) Rudi Wahyono menanggapi rentetan kejadian gempa di berbagai wilayah di Indonesia. Menurutnya, potensi gempa besar di selatan Indonesia itu sudah lama diperingatkan oleh dunia internasional, termasuk deretan lempeng mana yang akan menimbulkan gempa.

"Titik titiknya sudah diketahui, dan itu sudah dipublikasikan secara internasional. Yang belum diketahui hanya kapan itu terjadi karena teknologi kita belum sampai ke sana. Dan saat ini memang kita memasuki periode panen gempa," kata Rudi Wahyono dalam dialog yang ditayangkan live oleh Kompas TV, Jumat malam.

Sejak 2018, Indonesia bagian selatan telah mengalami beberapa gempa, mulai dari Banten hingga Lombok. Pada 23 Januari 2018, gempa 6,1 SR mengguncang Lebak, Banten, yang menyebabkan 1 orang meninggal dan 1.231 rumah rusak. Pada 19 Agustus 2018, gempa mengguncang Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat dengan magnitude 6,9. Sebanyak 555 orang meninggal dan ribuan rumah rusak. Pada 29 Juni 2019, gempa 5 SR juga menggetarkan pesisir selatan Cilacap.

Menurut Rudi periode setahun tersebut merupakan periode yang pendek. Sedangkan periode gempa besar dengan skala di atas 7 SR biasanya mencapai 30 tahun. Jika saat ini mulai kerap terjadi gempa, inilah yang disebutnya sebagai periode panen gempa.

"Yang ini [gempa 7,4 SR Pandeglang] saya kira cukup gede, tapi yang besar sekali belum muncul. Ini kan mengurangi yang kecil. Kalau megathrust Sunda [lempeng selatan Jawa] ini maksimal 8,6 lah. Ini sudah ada di referensi internasional dan mengingatkan kita agar waspada gempa."

Menurut Rudi, posisi ring selatan Jawa yang rawan gempa sudah diprediksi. "Kalau titik-titiknya tertentunya tidak, tapi ada ring di selatan Jawa. Artinya titik mana [yang akan gempa] tidak bisa dipastikan. tapi ada rangkaian gempa, lempeng mana yang gempa itu sudah diprediksi," jelasnya.

Karena itu, dia menyarankan masyarakat Indonesia mulai melakukan mitigasi bencana. Langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah tidak melakukan pembangunan yang sia-sia di kawasan rawan gempa.

"Yang paling penting itu tidak melakukan sesuatu yang sia-sia, misal membangun rumah yang bagus atau villa di pantai, pasti akan hancur. Ini peran pemda sangat kuat. Setiap pembangunan, Amdalnya harus ketat," ujarnya.

Analisis ini sejalan dengan pernyataan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Sebelumnya, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati pernah menanggapi kekhawatiran warga yang tinggal di sepanjang Pantai Cilacap Yogyakarta sampai Jawa Timur soal potensi gempa bermagnitudo 8,8 skala richter (SR) dan tsunami berketinggian 20 meter itu. BMKG butuh mitigasi antisipasi dan adaptasi.

"Oleh karena itu yang penting adalah mitigasi dan persiapan untuk menghadapi. Mitigasi antisipasi dan adaptasi," ujar Rita di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (23/7/2019), dilansir Suara.com.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten