Pakar Ekonomi Ini Ramal Pertumbuhan Ekonomi 2020 Minus 2,2 Persen

Solopos.com, JAKARTA — Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi mengalami pertumbuhan negatif atau minus pada 2020. Pakar ekonomi ini bahkan meramal pertumbuhan ekonomi 2020 minus 2,2 persen.

Diberitakan sebelumnya, realisasi pertumbuhan ekonomi pada di kuartal II/2020 tercatat minus 5,32 persen secara year on year (yoy).

Peneliti Ekonomi Senior Institut Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan Republik Indonesia Eric Alexander Sugandi sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada akhir tahun akan turun 1,0 persen.

Tukang Cukur di Kartasura Sukoharjo Jadi Klaster Baru Covid-19, Begini Ceritanya

“Dengan memperhitungkan data Produk Domestik Bruto Indonesia pada triwulan II/2020, IKS merevisi proyeksi angka pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2020 ke minus 2,2 persen,” kata dia dalam kajian ekonomi yang dikutip Bisnis.com, Senin (10/8/2020).

Eric menyampaikan proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa sektor-sektor perekonomian Indonesia akan dibuka sepenuhnya mulai kuartal IV/2020. Pemerintah juga tidak lagi memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) seperti pada kuartal II/2020.

Meski demikian, menurutnya ekonomi Indonesia masih berpeluang tumbuh positif secara kuartalan pada kuartal III dan IV tahun ini. Walaupun, angka pertumbuhun ekonomi secara tahunan tetap akan minus.

Ditangkap Polisi, Begini Pengakuan Pelaku Pemerkosaan di Bintaro

Belum Resesi Secara Teknikal

Berdasarkan lapangan usaha, sektor transportasi dan pergudangan, serta sektor industri pengolahan merupakan penyumbang utama kemerosotan ekonomi pada kuartal II/2020.

Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto merupakan penyumbang utama penurunan ekonomi.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan kondisi perekonomian Indonesia belum bisa disebut mengalami resesi secara teknikal, meski minus 5,32 persen.

Jateng Valley Bakal Dilengkapi 7 Zona Wisata, Apa Saja?

Realisasi pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal II/2020 tercatat minus 5,32 persen lebih jauh lebih rendah dibanding tahun lalu dimana Indonesia tumbuh 5,05 persen. Sri Mulyani menuturkan berdasarkan indikator penilaian, kondisi tersebut belum dapat dimaknai sebagai bentuk resesi teknikal.

“Sebetulnya kalau dilihat secara year on year, belum [resesi secara teknikal] karena ini pertama kali Indonesia mengalami kontraksi. Yang disebutkan tadi pertumbuhan quarter-to-quarter biasanya yang dilihat resesi adalah secara yoy dua kuartal berturut-turut,” katanya dalam konferensi pers daring bersama KSSK, Rabu (5/8/2020).

Sumber: Bisnis.com



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom