Penampakan Jembatan Kaca Bendung Karet Tirtonadi, Kali Anyar, Nusukan, Banjasari, Solo, Rabu (5/12/2018). (Solopos-Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO -- Mendung menggantung di Kota Solo sejak tengah hari, Minggu (27/1/2019). Di Bendung Karet Tirtonadi, sejumlah orang berkunjung menikmati pesonanya.

Jembatan inspeksi bendung dengan atap berkelok jadi daya tarik. Berfoto dengan latar belakang jembatan yang terinspirasi Bridges of Peace di Georgia itu teramat menarik.

Bendung Karet Tirtonadi yang menjadi ikon wisata baru di Kota Solo memiliki fungsi mengatur deviasi air di Kali Gajah Putih dan Kali Pepe Hulu. Bendung bermanfaat untuk menampung aliran air di dua sungai itu sekaligus bermanfaat mengendalikan banjir.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sungai dan Pantai III Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), Arlendenovega Satria Negara, mengatakan ada tiga komponen utama yang menyusun teknologi yang baru diterapkan di bendung itu, yakni gate panel (gerbang panel), air blader (kantong udara), dan protection fins (sayap pelindung).

Gate panel dan protection fins terbuat dari baja, sementara karet sintetis EPDM digunakan untuk air blader. Teknis pengoperasian bendung karet dimulai dari memompa air blader untuk mendorong gerbang panel berdiri sehingga menaikkan tinggi muka air (TMA).

Sebaliknya, air blader dapat digemboskan untuk menurunkan TMA. Gerbang panel itu dapat dijalankan secara otomatis dan manual. Sistem otomatis didesain guna menjaga ketinggian air di hulu bendung.

Baja gate panel memiliki tebal 16 milimeter dengan tinggi 305 sentimeter saat pembendungan dan 32 sentimeter saat kondisi flat. Sedangkan air blader saat dipompa ketinggiannya mencapai 160 sentimeter dari semula 32 sentimeter.

Ketika musim kemarau, bendung ditutup untuk menampung air sungai. Daya tampungnya hingga 1 juta m3 dengan panjang 1,5 kilometer.

Sementara pada musim penghujan akan dibuka dengan kapasitas pengaliran air 1.048 meter kubik per detik, atau lebih besar dari debit awal 390 meter kubik per detik.

“Kondisi buka-tutup bendung tersebut menyesuaikan situasi. Saat musim penghujan, air juga bisa dibendung untuk mencegah banjir di bagian hilir,” kata dia, saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (25/1/2019).

Vega, sapaan akrabnya, mengatakan waktu pengoperasian bendung karet kurang dari 60 menit. Selain berfungsi untuk membendung, gate panel juga dapat melindungi air blader dari material sungai, perubahan suhu yang ekstrem, serta vandalisme.

Desain juga dirancang agar sampah tak tersangkut. Hal itu tampak dari desain pilar yang membulat, bukannya kotak. Kendati begitu, aliran deras yang membawa sampah tetap membuatnya tersangkut.

“Kami menunggu airnya tidak begitu besar agar bisa dibersihkan. Pelindung baja [protection fins] juga didesain menahan sampah, tapi kami tetap waspada [agar bendung tidak rusak],” ucap Vega.

Lebih jauh dia menjelaskan Bendung Karet Tirtonadi di Kali Pepe Hulu diharapkan dapat mengurangi risiko banjir seluas kurang lebih 110 hektare di Kecamatan Banjarsari. Sementara di daerah hilir akan mengurangi risiko banjir seluas kurang lebih 80 hektare di Pasar Kliwon dan Laweyan. Di samping itu, bendung juga dapat difungsikan untuk memenuhi kebutuhan air baku.



Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten