Sekda Jateng, Sri Puryono, memakai seragam putih abu-abu saat menghadiri bedah buku biografinya berjudul Birokrat Gaul Taat Asas di Aula SMAN 1 Sragen, Minggu (25/8/2019) malam. (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah (Jateng), Sri Puryono, menghadiri acara bedah buku biografinya yang berjudul Birokrat Gaul Taat Asas di Aula SMAN 1 https://soloraya.solopos.com/read/20190821/491/1013289/video-viral-penampakan-api-misterius-di-tanon-sragen" title="Video Viral Penampakan Api Misterius di Tanon Sragen">Sragen, Minggu (25/8/2019) malam.

Pada kesempatan itu, Sri Puryono hadir mengenakan baju seragam SMA putih abu-abu. Bedah buku itu sekaligus menjadi ajang reuni bagi Sri Puryono. Sebagian besar tamu yang datang merupakan para guru dan teman sekolah di SMAN 1 Sragen angkatan 1979.

Hadir pula Bupati https://soloraya.solopos.com/read/20190821/491/1013396/sepekan-menggali-di-7-lokasi-sragen-ini-temuan-tim-arkeolog" title="Sepekan Menggali di 7 Lokasi Sragen, Ini Temuan Tim Arkeolog">Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati dan mantan Bupati Untung Wiyono. Pada kesempatan itu, Sri Puryono menjelaskan bukunya tersebut mengisahkan cerita perjalanan hidupnya.

Dia mengutip istilah jurnalistik yakni human interest untuk menyebut kisah yang dituliskan dalam buku tersebut. Buku tersebut ditulis tim wartawan di bawah koordinasi Amir Machmud.

Dalam buku itu, dikisahkan perjuangan Sri Puryono menempuh pendidikan dari SD hingga akhirnya bisa berkuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Sri Puryono merupakan anak seorang carik di Desa Gawan, Kecamatan Tanon, Sragen. Anak kesembilan dari 10 saudara itu ternyata pernah menjadi sasaran bullying teman-teman SMP-nya.

"Saya itu baru punya sepatu itu ya waktu SMP. Sebagai orang desa, penampilan saya ya ndesa. Jadi, waktu itu saya sudah sering di-bully teman-teman karena penampilan saya yang ndesa itu," kata Sri Puryono.

Setelah tamat dari SMPN 1 https://soloraya.solopos.com/read/20190821/491/1013373/ide-flintstone-dan-jurassic-park-di-sangiran-selaras-dengan-kampung-purba-ala-pemkab-sragen" title="Ide Flintstone dan Jurassic Park di Sangiran Selaras dengan Kampung Purba Ala Pemkab Sragen">Sragen, Sri Puryono melanjutkan ke SMAN 1 Sragen. Kebetulan saat belajar di jenjang SMA, Sri Puryono berada di kelas yang berisi siswa-siswa bandel.

Salah satu pengalaman konyol yang pernah dilakukan semasa SMA adalah saat dia dan teman-temannya memilih bolos sekolah hanya untuk menyaksikan pertandingan tinju yang dimainkan Mohammad Ali.

"Kebetulan satu kelas itu anaknya agak mbeling. Kami sampai kena marah guru gara-gara meninggalkan pelajaran demi nonton tinju itu," kenang Sri Puryono.

Selesai kuliah, Sri Puryono diterima bekerja di Dinas Kehutanan Provinsi Jambi pada 1984. Ia kemudian menikahi pujaan hatinya, Rini Budi Hastuti.

Sri Puryono sempat bekerja di Kementerian Kehutanan sebelum akhirnya pindah di Dinas Kehutanan Provinsi Jateng. Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2013 menjadi awal karier Sri Puryono sebagai Sekda Jateng.

Majunya Hadi Purnomo sebagai calon gubernur membuat ia mundur dari jabatan Sekda Jateng. Oleh Gubernur Bibit Waluyo, Sri Puryono kemudian dipilih sebagai Sekda Jateng menggantikan Hadi Purnomo.

"Kata kunci dalam hidup itu tekun dan dilandasi kedisiplinan. Nanti akan ada hasilnya. Entah itu bisa diraih sekarang, atau diraih anaknya di kemudian hari," papar Sri Puryono.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten