Tutup Iklan
Pakai Barang Bekas, Bocah 15 Tahun di Klaten Berhasil Bangun Sepeda Tinggi
Pemilik sepeda setinggi tiga meter, Ihsan, 15, warga Pokak, Ceper mencoba sepeda bikinannya di halaman rumah kakeknya di daerah setempat, Selasa (7/7/2020). (Solopos.com/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN — Pandemi Covid-19 membuat para siswa sekolah yang belajar dari rumah merasa bosan. Namun, bocah 15 tahun asal Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten justru semakin kreatif saat harus diam di rumah. Bermula dari hobi berkreasi, bocah di Klaten itu berhasil membangun sepeda tinggi.

Bocah itu adalah Ihsan Nur Rohman. Sepeda angin rakitan Ihsan jauh berbeda dengan sepeda angin biasanya. Sepeda angin rakitan bikinan siswa MTs Srebegan itu memiliki tinggi hingga tiga meter.

Ihsan merakit sendiri sepedanya dengan memanfaatkan barang bekas. Ihsan membeli besi bekas, rantai bekas, dan komponen sepeda lainnya yang sudah berstatus bekas dirakit menjadi satu. Ihsan memperoleh komponen sepeda itu dengan membeli di pengepul rongsok serta toko besi di daerahnya di Pokak, Kecamatan Ceper.

Rombongan Gowes Temukan Nenek di Ngadirojo Wonogiri Meninggal Dunia di Pohon Kenanga

Ide kreatif membikin sepeda setinggi hingga tiga meter bermula saat Ihsan bermain di Jogja. Di daerah istimewa tersebut, Ihsan melihat sepeda milik temannya yang tidak biasanya.

Sepeda itu setinggi di atas dua meter. Dari situlah, Ihsan yang sudah hobi mengutak-atik barang elektronik ingin mengutak-atik sepeda anginnya.

"Saya mulai sering membikin sepeda duwur saat menjelang Lebaran lalu. Sampai sekarang, saya sudah membikin lima unit sepeda duwur. Tingginya bervariasi dua 1,5 meter-3 meter," kata Ihsan, saat ditemui wartawan di Pokak, Kecamatan Ceper, Selasa (7/7/2020).

Rata-rata, satu unit sepeda tinggi milik bocah di Ceper, Klaten itu dibangun dengan uang senilai Rp500.000.

Gara-Gara Pandemi Covid-19

Ihsan mengaku belajar dari rumah di tengah pandemi Covid-19 juga menjadi faktor yang memicunya membangun sepeda tinggi.

"Aktivitas saya saat belajar di rumah di tengah pandemi Covid-19, ya seperti ini. Kalau dijual, harga sepeda saya sekitar Rp800.000 [tergantung ukuran dan kesulitan pembuatan sepeda]," katanya.

Ihsan mengatakan tak setiap orang dapat menggunakan sepeda bikinannya. Dibutuhkan keberanian saat mengayuh sepeda angin sepeda setinggi tiga meter.

"Saya sendiri sering mengayuh sepeda ini dari Ceper-Klaten kota. Saat di Alun-alun Klaten ada yang ingin mencoba, tapi enggak jadi. Soalnya tidak berani. Sepeda saya ini sangat cocok untuk karnaval. Saya sendiri sudah pernah jatuh dua kali saat mengayuh sepeda itu. Saya sempat terluka di bagian kaki dan lutut. Ke depan, saya ingin punya bengkel dan las [agar bisa mengutak-atik apa pun]," katanya.

Gayeng Ekspor Benih Lobster, Perang di Twitter sampai Ombudsman Turun Tangan

Salah seorang teman Ihsan, yakni Yudha, 14, mengaku tak berani mengayuh sepeda bikinan Ihsan. Saat kali pertama mencoba sepeda angin hingga setinggi tiga meter pernah terjatuh di depan masjid di Pokak, Kecamatan Ceper.

"Soalnya saya ora kulina [enggak biasa] mengayuh sepeda itu," katanya.

Kepala Desa (Kades) Pokak, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Sutjiati, mengapresiasi kreativitas salah seorang warganya tersebut yang membuat sepeda tinggi. Melalui kreativitas itu, semoga Pokak dapat dikenal masyakarat secara luas.

"Tentu, dari pemdes sangat mengapresiasi kreativitas seperti itu. Kalau itu dinilai positif, semoga bisa ditiru yang lainnya," katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho