Aris Setiawan/Dokumen Solopos

Solopos.com, SOLO -- Banyak alasan ketika seseorang memutuskan berkuliah di kampus seni. Salah satunya karena terdapat sosok yang diidolakan. Namanya sering kali menjadi daya pikat dan daya tarik sekaligus garansi lahirnya karya seni unggul serta lulusan yang cerdas.

Di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Rahayu Supanggah yang akrab disapa Pak Panggah adalah bagian dari sosok itu. Selain dikenal sebagai seorang komposer kelas dunia, ilmuwan gamelan, ia adalah seorang guru dan dosen karawitan yang disegani.

Persentuhan dengan dunia gamelan justru timbul karena keterpaksaan. Ia terpaksa masuk di Konservatori Karawitan (Kokar) Surakarta, setara sekolah menengah kejuruan saat ini, karena sekolah itu dipandang paling murah bagi murid dari keluarga melarat seperti Rahayu Supanggah.

Kala itu usianya 14 tahun. Pada 1965, sebelum meletus Gerakan 30 September, ia adalah siswa termuda yang dipilih sekolahnya untuk mengikuti misi kesenian ke Tiongkok. Sejak di bangku Kokar, ia dibenci dan tak disukai guru-gurunya, kendatipun mereka adalah seorang empu andal.

Penyebabnya karena Panggah dianggap merusak tatanan tradisi gamelan–pakem--lewat kreativitasnya yang tak terkendali. Ia hampir saja tidak lulus, setiap hari mengajak guru-gurunya berdebat tentang konsep bergamelan. Bagi Panggah, pakem pada satu sisi adalah upaya mengangkat derajat musik gamelan agar tak lekas “rusak” atau hilang.

Pada sisi lain pakem adalah sebentuk pembekuan (kata lain: keterkungkungan) dari kreativitas. Ada ketakutan bila seseorang berkarnya menabrak batas-batas tradisi. Oleh karena itu Panggah selalu berontak dengan risiko besar di depan mata: dikeluarkan dari sekolah!

Di bangku kuliah, nilai tabuh gamelan juga tak ada yang bagus. Penyebabnya sama. Ia dianggap mendekonstruksi tradisi karena mencari berbagai kemungkinan formulasi musikal yang lebih baru, segar, dan unik. Oleh dosennya, hal itu dipandang sebagai wujud pembangkangan.

Beruntung, kenakalannya itu dilirik Gendhon Humardani, ketua/rektor kampus tempat ia kuliah. Anak yang nakal itu justru dibaiat menjadi Ketua Jurusan Karawitan di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta. Aneh bukan? begitulah kampus seni kala itu. Mahasiswa dengan pemikiran dan gagasan yang cemerlang diminta memimpin sebuah departemen.

Sisi Intelektual dan Kreativitas

Kenyataan yang demikian menunjukkan sisi intelektual dan kretaivitas telah melampaui mahasiswa sebaya. Pada kemudian hari, Rahayu Panggah menjadi komponis gamelan yang paling hangat diperbincangkan. Ia menjadi penata musik, tari, film, dan berkolaborasi dengan bebagai musikus terkenal dunia. Menjadi peneliti, etnomusikolog, dan tentu saja dosen yang dipuja mahasiswa.

Saat ia merampungkan studi master dan doktoral di Universite de Paris VII (Prancis), namanya semakin moncer dan pergaulannya kian lintas batas. Karya-karyanya ditampilkan di banyak benua. Ceramahnya dinanti. Buku-bukunya menjadi rujukan penting dalam ranah kekaryaan musik dan gamelan.

Karya Rahayu Supanggah, bahkan dari yang paling awal, telah mampu memberi inspirasi yang luar biasa bagi para pelaku musik. Kenakalan kreativitas yang tidak terbendung sejak belajar karawitan secara formal di konservatori banyak menawarkan perspektif kebaruan dalam dunia musik karawitan (gamelan) baik secara teori maupun praktik.

Secara teori, ia misalnya, telah membongkar konsep tentang “gatra” yang dipandang secara keliru oleh sebagian peneliti Barat. Ia juga banyak menulis buku, makalah, dan artikel tentang gamelan secara visioner.

Kehadiran sebagai pembicara di berbagai forum ilmiah di universitas-universitas ternama seperti University of California Berkley, UC Riverside, Yale University, SOAS London, TNUA Taipe, Chulalongkorn, University of Michigan, Oberlin Clollege, Victoria University Wellington, dan seterusnya jelas memberi dampak yang luar biasa bagi ranah keilmuan gamelan dan musik tradisi pada umumnya.

Pengalaman praktik bermusik yang eksploratif dan eksperimental, baik secara teknik, cara, hingga metodenya untuk penciptaan komposisi musik “baru” yang telah dia lakukan selama ini, ia tuangkan dalam dua buku berjudul Bothekan Karawitan I (2002) dan Bothekan Karawitan II (2009).

Buku ini tentu berkontribusi nyata bagi para pemusik, juga peneliti dan akademisi, terutama sebagai referensi untuk melihat perspektif baru dunia musik tradisi (gamelan). Karya musiknya banyak diapresiasi dan berulang kali mendapatkan penghargaan—di antaranya Best Composer dalam SACEM Film Festival Nantes (2006) di Prancis, Best Composer dalam Film Festival Asia di Hong Kong, Best Composer dalam Festival Film Indonesia di Jakarta 2007, World Master on Music and Culture (2008) Seoul-Korea—menjadi referensi penting bagi para kreator musik film, tari, dan teater.

Karier Dosen yang Gemilang

Ia juga mendapat Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa Bidang Seni Pertunjukan (2014). Belum lagi untuk karya-karya kolaboratifnya yang melibatkan pemusik ternama, sebutlah misalnya Kronos Kwartet (salah satu kelompok musik Barat yang paling disegani di dunia).

Suka Hardjana (kritikus musik) memberi catatan penting bahwa kolaborasi itu menjadi karya paling monumental yang pernah diciptakan komponis Indonesia dan mendapat pengakuan internasional. Karya itu menjadi tonggak bagi perkembangan musik kontemporer pada abad XXI.

Bersama kelompok Kronos Kwartet, Rahayu Panggah menandai sebuah peristiwa langka dan paling bergengsi sehingga mendapat sambutan luar biasa dan menjadi titik penting bagi tonggak perkembangan musik dunia (world music). Pada momen-momen seperti tersebut di atas, terlihat sekali kontribusi Rahayu Supanggah, berimbas pada fenomena industri kreatif yang potensial dan kondisif bagi perkembangan industri musik dunia.

Melalui hal-hal itu pula karya-karya Supanggah memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan seni pertunjukan di tingkat lokal, nasional, maupun global. Di balik itu semua, ia tetaplah seorang dosen. Guru yang humble, sederhana, dan penuh canda bagi para mahasiswa.

Akhir tahun ini ia paripurna sebagai pengajar, pensiun, setidaknya tidak lagi menyandang status pegawai negeri aktif. Tentulah ia akan tetap berkarya. Gamelan adalah napasnya, karawitan menjadi nyawa yang menghidupi. Usia boleh saja senja, tapi kreativitas, tentulah tak akan pernah sirna.

Rahayu Supanggah mengakhiri karier dosen dengan gemilang, meninggalkan berbagai warisan yang membanggakan, tidak saja untuk kampusnya, tapi untuk Indonesia dan dunia. Selamat paripurna Prof. Rahayu Supanggah. Selamat memasuki pensiun, Pak Panggah…


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten