Rombongan Paguyuban Sejarawan Ngayogyakarta Hadiningrat pada Sabtu (15/9/2019) meninjau bagian benteng Keraton Kartasura, Sukoharjo, yang dulu bekas dibobol saat geger pecinan. (Solopos/Iskandar)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Rombongan Paguyuban Sejarawan Ngayogyakarta Hadiningrat yang diketuai Katerina Ety datang ke bekas Keraton Kartasura, Sukoharjo, Sabtu (14/9/2019).

Mereka melihat-lihat kondisi bangunan bekas keraton yang menjadi cikal bakal Kasunanan Surakarta dna Kasultanan Yogyakarta itu. Katerina prihatin dengan kondisi bekas Keraton Kartasura yang tidak terawat dengan baik.

Dia pun berharap pihak yang berkompeten merenovasi bekas Keraton Kartasura yang dinilai penuh sejarah ini. “Tahun 2014 lalu saya bersama beberapa guru dan dosen sejarah dari Jateng dan DIY menggunakan empat bus ke sini. Kami berharap dengan kedatangan teman-teman guru dan dosen itu ada gereget dari pemerintah di sini agar ada upaya mengembalikan bekas Keraton Kartasura, minimal mendekati porsi semula,” ujar dia ketika ditemui wartawan di sela-sela menghadiri Diskusi dan Blusukan Menelusuri Jejak Sejarah Karaton Kartasura yang digelar Komunitas Urub Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta di bekas Keraton Kartasura, Sukoharjo, Sabtu (14/9/2019) petang.

Salah satu hal yang perlu diperbaiki, menurut Katerina adalah sitihinggil yang merupakan bagian penting di keraton Jawa. Begitu pula bangunan-bangunan lainnya dia berharap bisa dikembalikan seperti kondisi semula.

Katerina yang penelitian tesisnya di bekas Keraton Kartasura, Sukoharjo, ini mengatakan renovasi itu paling tidak mendekati aslinya sehingga enak dipandang mata dan bisa dijadikan objek wisata. Selain itu makam di dalam bekas Keraton Kartasura juga dinilai kurang terawat dengan baik.

Dia mengungkapkan bangunan Keraton Kartasura yang masih asli saat ini sangat minim. Bagian yang masih bisa dinikmati adalah tembok benteng dari batu bata yang mengelilingi Keraton Kartasura.

Katerina mengutarakan beberapa situs di sekeliling bekas lokasi Keraton Kartasura bisa dihidupkan kembali dan menjadi objek wisata. Contohnya rumah-rumah di sekitar keraton seperti di Yogyakarta telah memenuhi standar keraton.

“Arsitektur bangunan di sekitar Keraton Kartasura memang sudah banyak yang berubah. Tapi saya melihat masih ada satu dua bangunan rumah di sekitar Keraton Kartasura ini masih mendekati standar keraton seperti di Kota Gede Yogyakarta. Kenapa hal seperti itu tidak dirawat?” ujar dia.

Terkait hal tersebut Katerina berencana mencoba meminta Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng untuk merenovasi bekas Keraton Kartasura agar mendekati fungsi semula.

Jika bisa direnovasi kembali, papar dia, minimal masyarakat Kartasura dan sekitarnya bahkan seluruh Nusantara bisa mengenal kembali Keraton Kartasura. Setidaknya mereka bisa mempunyai gambaran Keraton Kartasura tempo dulu seperti apa dan seterusnya.

“Salah satu upaya yang bisa ditampilkan adalah memajang foto-foto raja yang pernah memerintah atau mereka yang ada hubungannya dengan Keraton Kartasura. Selain itu juga bisa ditampilkan manuskrip-manuskrip dan seterusnya,” papar Katerina.

Sementara itu Juru Kunci Makam Keraton Kartasura, Surya Hastono Projonagoro, mengakui kawasan bekas Keraton Kartasura kurang terawat. Alasannya soal pengelola tak mempunyai dana untuk melakukan perawatan.

“Kami sebagai juru kunci di sini tidak mendapat bantuan dana perawatan dari mana pun sehingga sekadar merawat makam di dalam kompleks Keraton Kartasura ini saja berat,” ujar dia.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten