Kategori: Jateng

PABRIK SEMEN PATI : Mahasiswa 6 Perguruan Tinggi Semarang Ini Dukung Eksploitasi Kendeng


Solopos.com/JIBI/Solopos/Antara

Pabrik semen yang bakal mengeksploitasi pegunungan karst Kendeng di eks Keresidena Pati didukung puluhan mahasiswa Semarang.

Solopos.com, SEMARANG — Puluhan mahasiswa yang tergabung Aliansi Mahasiswa Peduli Rakyat (Ampera) mendukung eksploitasi gamping pegunungan karst Kendeng di eks Keresidena Pati, Jawa Tengah (Jateng). Mereka mewakili mahasiswa-mahasiswa Universitas Islam Sultan Agung, Universitas 17 Agustus 1945, Universitas Muhammadiyah Semarang, IKIP Veteran, Universitas Negeri Semarang, dan Universitas Semarang.

Puluhan mahasiswa aktivis Ampera itu, Kamis (2/2/2017), bergabung dengan warga pendukung pabrik semen Rembang yang menyampaikan aspirasi di Kantor Badan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah di Kota Semarang. “Kami para mahasiswa menyatakan dukungan kepada pabrik semen karena kami telah melihat langsung fakta-fakta di lapangan terkait pro dan kontra pabrik semen," kata Koordinator Ampera Akbar Bustami.

Akbar Bustami mengungkapkan bahwa pada akhir Januari 2017 sejumlah mahasiswa mengumpulkan data dan melakukan survei ke daerah terdekat dengan lokasi tapak pabrik semen di Kabupaten Rembang. Menurutnya, berdasarkan hasil survei itu, diketahui bahwa warga di lima desa sekitar pabrik semen mendukung eksploitasi gamping Pegunungan Kendeng, eks Keresidena Pati.

"Hasil survei langsung di lapangan, kami melihat bahwa mayoritas warga di lima desa sekitar pabrik semen menunjukkan dukungan masif dan warga setempat justru dengan keberadaan pabrik semen karena telah membuat desa yang semula miskin serta tidak tersentuh pembangunan menjadi makmur dan akses ekonominya," ujarnya sebagaimana dipublikasikan Kantor Berita Antara.

Opini tersebut disampaikan Akbar Bustami selaku perwakilan mahasiswa yang dihadirkan dalam sidang penilaian adendum analisis mengenai dampak lingkungan serta Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL-RPL) PT Semen Indonesia. Sidang itu digelar Komisi Penilai Amdal Jawa Tengah di Kantor Badan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jateng di Semarang, Kamis (2/2/2017).

Para mahasiswa yang hadir bersama Akbar Bustami dalam sidang dan bergabung dengan warga pendukung pembangunan dan operasional pabrik semen di Pegunungan Kendeng, wilayah eks Keresidena Pati, Jawa Tengah (Jateng) itu berasal dari enam perguruan tinggi di Semarang. Mereka berasal dari Universitas Islam Sultan Agung, Universitas 17 Agustus 1945, Universitas Muhammadiyah Semarang, IKIP Veteran, Universitas Negeri Semarang, dan Universitas Semarang.

Mahasiswa enam perguruan tinggi di Kota Semarang itu mendukung eksploitasi gamping pegunungan karst Kendeng di eks Keresidena Pati, Jateng itu karena mereka melihat langsung warga yang semula menganggur kini sudah bekerja di pabrik semen setempat. "Pada sektor pendidikan, pemuda setempat yang dulu hanya maksimal lulus SMP kini telah mulai ada yang masuk perguruan tinggi, jalan-jalan bagus, warga juga hidup lebih sehat dengan jambanisasi," katanya.

Berdasarkan data-data tersebut, Akbar Taufik justru mempertanyakan motivasi dari para penolak eksploitasi Pegunungan Kendeng untuk operasional pabrik semen. "Jika mengaku membela rakyat, mengapa rakyat di Rembang justru mendukung pabrik semen? Mengapa penolak semen lebih banyak orang luar Rembang? Pak Gunretno itu warga mana? Warga di sana tidak kenal dan menolak kehadirannya," ujarnya.

Selain itu, PT Semen Indonesia merupakan badan usaha milik negara, meskipun pada kenyataannya sebagian saham dikuasai Cemex, perusahaan multinasional asal Meksiko. "Melihat pembangunan pabrik sudah mencapai 98% terus jika ditutup, maka ada potensi kerugian negara Rp4,9 triliun," imbuhnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Share