Overload, Jumlah Karamba di Waduk Cengklik Boyolali Mencapai 2.300 Unit
Petani karamba memberi makan ikan di area karamba Waduk Cengklik, Ngemplak, Boyolali, Selasa (18/12/2018). (Solopos-M. Ferri Setiawan)

Solopos.com, BOYOLALI - Salah satu penyebab utama sedimentasi di kawasan Waduk Cengklik, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, adalah jumlah karamba yang melebihi kapasitas. Pakan ikan yang mengendap di dasar waduk menjadi pemicu sedimentasi.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), Charisal Akdian Manu, menyebutkan kini di kawasan Waduk Cengklik terdapat sekitar 2.300 karamba. Padahal, menurut kajian teoritis jumlah maksimal karamba yang diperbolehkan hanya 2% dari total luas area waduk.

“Seharusnya jumlah maksimal hanya 200-300 karamba,” ujar Charisal saat berbincang dengan Solopos.com Nadia Lutfiana Mawarni di sela-sela acara tanam 1.500 pohon, Senin (17/12/2018).

Lebih jauh, Charisal menyebutkan satu-satunya jalan untuk mengurai masalah sedimentasi ini adalah dengan menghilangkan ribuan karamba yang ada. Selain itu, waduk juga mesti dikeruk dengan alat berat agar debit air kembali normal. Dia mengatakan dialog dengan sejumlah petani karamba telah berulang kali dilakukan.

Termasuk di dalamnya adalah memberi pengertian bahwa karamba akan berdampak buruk terhadap kelestarian lingkungan waduk. Namun, diakui Charisal bahwa menghilangkan karamba juga memunculkan dilema antara penghasilan nelayan dan kelestarian lingkungan. “Jalan tengahnya kami akan data terlebih dahulu karamba berizin dan tidak berizin sehingga secara perlahan-lahan jumlahnya bisa dikurangi,” kata dia.

Sementara itu, Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR, Dodi Krispratmadi, mengatakan selain sedimentasi pakan ikan juga mengandung fosfor yang berdampak pada pencemaran air. Zat-zat kimia itu membuat enceng gondok tumbuh dengan cepat. Kondisi lingkungan yang demikian memacu bakteri seperti kolera dan tifus berkembang biak.

“Jadi dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga masyarakat,” katanya.
Terpisah, petani menyatakan kini jumlah karamba di Waduk Cengklik mulai berkurang. Petani juga menolak disebut sebagai penyebab utama sedimentasi. Salah satu petani karamba di Desa Sobokerto, Jamal, 51, mengatakan para petani lebih banyak menggunakan jenis pakan apung yang terserap ke bibit ikan.

“Rata-rata dari 30 kg pakan, 20-22 kgnya akan terserap,”ungkap Jamal. Selain itu Jamal mengatakan kini jumlah petani sudah berkurang drastis. Kini petani di Waduk Cengklik hanya tersisa sekitar 20 dari sebelumnya berjumlah 60-an orang.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom