Kategori: Boyolali

Oven Tembakau Bikin Polusi, Warga Mengeluh


Solopos.com/Septhia Ryanthie/JIBI/SOLOPOS

Asap Tebal terlihat memenuhi lingkungan rumah salah seorang warga Dukuh/Desa Jembungan, Kabupaten Boyolali, Rabu (26/9/2012). Asap dari oven tembakau yang berlokasi di wilayah dukuh tersebut dikeluhkan warga karena mengganggu.(JIBI/SOLOPOS/Septhia Ryanthie)
BOYOLALI - Sejumlah warga Dukuh/Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, mengeluhkan polusi berupa asap dan debu abu yang berasal dari oven tembakau yang berada di wilayah dukuh setempat.

Salah seorang warga setempat yang bertempat tinggal tepat di sebelah barat oven tembakau itu, Ny Sumardi, 79, mengaku polusi asap dari oven tembakau tersebut terhirup olehnya setiap hari. Akibatnya dirinya kerap mengalami sesak nafas. Untuk menghindari asap tersebut, dirinya mengaku terpaksa meninggalkan rumahnya.

“Kalau ada asap begitu, saya biasanya keluar dari rumah. Kadang ke rumah anak saya. Tapi karena di rumah anak saya juga kena asap, seringnya saya ke kuburan [tempat pemakaman umum],” tutur Ny Sumardi, Rabu (26/9/2012). Ny Sumardi juga mengaku pernah menegur pengelola oven tembakau tersebut agar menyiram abu sisa proses pengasapan daun tembakau dengan air, sehingga tidak membuat polusi di sekitarnya. “Pernah saya sampaikan kepada pengelola di situ [oven tembakau], kalau membuang abu sisa pengasapan, sebaiknya disiram air dulu supaya tidak berdebu dan mengganggu warga sekitarnya. Tapi ya tetap saja begitu,” katanya.

Warga lainnya, Bambang Sutopo, 63, mengemukakan hal senada. Meskipun diakui Bambang, ada sebagian warga yang acuh tak acuh terhadap kondisi tersebut. Keberadaan oven tembakau, menurutnya, menimbulkan pro-kontra antarwarga. Mayoritas warga sekitar tidak setuju lantaran munculnya polusi asap dari oven tembakau dinilai sangat mengganggu mereka. Namun bagi warga yang bekerja di tempat itu, mereka tidak mempermasalahkannya.

”Kalau bagi orang yang sudah seumur saya, pastinya ya sangat mengganggu. Tidak bisa nafas kalau menghirup asap oven tembakau tersebut. Selain itu kasihan juga anak-anak kecil yang tempat tinggalnya di sekitar situ. Banyak yang batuk,” katanya.

Di sisi lain, Bambang mengatakan pemilik oven tembakau juga tidak pernah memberi tahu atau meminta izin kepada warga sekitar setiap kali akan mengoperasikan oven saat musim panen tembakau. Menurutnya, lokasi oven saat ini tidak tepat karena berada di tengah pemukiman padat penduduk. “Kalau letaknya di pinggir dukuh mungkin tidak masalah. Tapi ini tepat di tengah areal pemukiman warga,” imbuh dia.

Warga lainnya, Margono, 37, mengungkapkan, warga telah menyampaikan keluhan terkait persoalan itu kepada pekerja oven tembakau. Namun demikian, hingga kini tidak pernah ada tanggapan. Menyikapi persoalan itu, Margono mengatakan warga meminta pemilik oven tembakau bisa mengendalikan polusi asap dan debu abu dari sisa pembakaran dari oven tembakau tersebut.

“Ya misalnya dengan membuat cerobong yang tinggi, agar asap dan debunya tidak menyebar ke mana-mana. Kami hanya ingin agar polusi berkurang. Kalau mereka tetap tak mau melakukan perbaikan, dipastikan warga akan nekat bertindak,” tandasnya. Sementara saat sejumlah wartawan mendatangi lokasi oven tembakau, hanya ada beberapa pekerja yang tengah menata tembakau yang akan dioven.

Salah satu pekerja yang ditemui di lokasi, Waji, 45, menjelaskan, oven tersebut milik warga Desa Jembungan, Sugiyanto, namun disewa oleh warga Desa Kuwiran, Banyudono, Kartono. Saat diminta nomor ponselnya, Waji mengaku tidak tahu. Dijelaskan dia, dirinya hanya bertugas menunggu oven. Dia dan temannya juga memiliki kewajiban mengontrol pembakaran. Menurutnya, dalam proses pengasapan tembakau, munculnya asap dan debu sudah biasa. “Oven ini hanya beroperasi tiga bulan setiap musim tembakau,” terangnya. Waji menambahkan saat pembuangan abu, mereka juga telah menyiram dengan air agar debunya tidak beterbangan.

Share
Dipublikasikan oleh
R. Bambang Aris Sasangka