Orang Tua Perlu Tahu Batasan Anak Membantu Bekerja, Agar Tak Dituding Melakukan Eksploitasi
Seorang bocah perempuan berdagang koran di seputaran Simpang Lima, Kota Semarang, Jateng. (Facebook.com-Olivia Gomez)

Solopos.com, KARANGANYAR -- Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Karanganyar membeberkan pentingnya orang tua membedakan perlakuan kepada anak saat membantu bekerja. Ini  agar tindakan mereka tidak masuk dalam kategori eksploitasi anak.

Pernyataan ini disampaikan lantaran banyak ditemui orang tua yang belum memahami batasan-batasan dalam memperbolehkan anak membantu ekonomi keluarga.

Kepala DP3AKB Karanganyar, Agam Bintoro, menjelaskan kondisi anak di bawah umur yang membantu ekonomi keluarga kerap terjadi di desa. Beberapa kasus yang ditemui, menurutnya, adanya anak yang membantu orang tua di ladang, sawah, maupun di pasar tradisional dan berjualan. Meskipun begitu, keterlibatan anak dalam membantu ekonomi orang tua tidak semua masuk dalam kategori eksploitasi anak.

SE Terbaru Wali Kota Solo: Anak 15 Tahun Ke Bawah Tak Boleh Kunjungi Tempat Publik, Kecuali PTM Di Sekolah

“Kalau di desa itu masih umum terjadi, anak membantu di pasar atau di sawah. Tapi memang ada batasan-batasannya. Jadi tidak semua anak yang membantu pekerjaan orang tua masuk kategori eksploitasi. Ada beberapa pertimbangan dalam memetakan,” kata dia kepada Espos belum lama ini.

Pelayanan Dasar

Agam menjelaskan syarat yang memperbolehkan anak membantu ekonomi keluarga antara lain hanya bersifat pelayanan dasar. Tidak terjun ke sektor formal. Selain itu, selama anak masih mendapatkan hak seperti pendidikan dan waktu bermain yang cukup, menurutnya hal tersebut tidak termasuk eksploitasi.

“Intinya secara umum sebenarnya jangan sampai anak itu kemudian tidak mendapatkan haknya. Kalau membantu orang tua setelah sekolah, dan mereka tidak terkekang dan masih bisa bermain ya tidak apa-apa. Tapi kalau ternyata mereka harus putus sekolah dan menjadi buruh di pabrik padahal masih di bawah umur ya tidak boleh. Kami harus melakukan pendekatan jika menemukan adanya kejadian tersebut,” beber dia.

Ngeri! Kekerasan Anak di Wonogiri Meningkat Saat Pandemi, Didominasi Kejahatan Seksual

Menurutnya, hingga saat ini belum ada laporan terkait eksploitasi anak di Karanganyar. Beberapa yang ditemui menurutnya justru memberikan inspirasi kepada anak sebayanya karena masih bersekolah dan bekerja membantu ekonomi keluarga.

“Contoh kemarin ada anak SMP atau SMA yang jualan cilok sepulang sekolah. Itu kan malah memberikan inspirasi dan harus mendapat dukungan stimulan. Untuk kasus seperti itu tidak apa-apa asal si anak tidak kehilangan hak mereka,” beber dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom