Tutup Iklan
Orang Tua Otoriter, Apa Dampak Positif dan Negatif bagi Anak?
Ilustrasi orang tua otoriter (Freepik)

Solopos.com, SOLO — Selama ini, pola asuh otoriter yang dilakukan orang tua kerap dianggap mengganggu perkembangan anak. Orang tua otoriter biasanya akan menentukan apa yang harus dilakukan atau dipilih anak.

Pola asah semacam itu dinilai mengganggu perkembangan anak karena disebut-sebut menjadikan anak cenderung tidak mandiri, ketergantungan, dan sulit menyelesaikan masalah tanpa bantuan orang lain.

Namun, penelitian mengungkap fakta lain tentang pola asuh otoriter. Pola ini bisa berdampak positif, bisa pula negatif terhadap perkembangan anak.

Menurut Baumrind (1968) pola asuh otoriter tepat diterapkan untuk anak usia awal. Namun tidak lagi cocok jika diterapkan kepada anak yang sudah memasuki usia remaja.

Perempuan ODP Corona Jalan-Jalan di Singosaren Solo Bikin Video Klarifikasi, Ini Pernyataannya 

Anak remaja sudah memiliki kemampuan yang lebih matang dibandingkan masa kanak-kanak. Penggunaan kekuasaan orang tua kepada anak remaja harus diimbangi dengan upaya memberikan penjelasan terkait dengan alasan dari peraturan tersebut.

Sebagaimana dilansir dari laman Sahabat Keluarga Kemendikbud, beberapa waktu lalu, menyebutkan penelitian Chao (2001) mengatakan pola asuh otoriter berdampak negatif pada anak dari keluarga Eropa-Amerika. Namun memberi dampak positif pada keluarga China-Amerika.

Chao berkeyakinan pendekatan dari orang tua, terutama ibu, memberi dampak yang lebih positif terhadap perkembangan anak apabila diasuh dengan pola asuh otoriter.

Ideologi pada Anak

Menurut Chao, pola asuh otoriter yang dijalankan di China memberi dampak positif terhadap perkembangan anak. Sebab keberhasilan ibu dalam mengajarkan ideologi pada anak.

Baumrind (1996) menyatakan orang tua menjalankan pola asuh tersebut dalam rangka memenuhi tuntutan ideologi. Orang tua sedang menerapkan aturan yang merepresentasikan aturan Tuhan. Pada tahap ini pola asuh otoriter menjadi tepat dalam konteks ini.

Ternyata Ini Foto Asli Soeharto Naik Nmax

Namun, Baumrind mengingatkan pola asuh otoriter bukanlah kondisi yang membuat anak dipaksa melakukan sesuatu tanpa tujuan atau alasan yang jelas seperti keinginan orang tua.

Pola asuh otoriter ini menempatkan orang tua sebagai orang yang paling mengerti kebutuhan anaknya. Orang tua merasa pantas untuk memaksakan peraturan tertentu pada anak untuk dijalankan.

Salah satu penelitian terkait pola asuh menunjukkan bahwa perkembangan anak menjadi lebih positif konsep dirinya dalam bidang akademik jika orang tua menjalankan pola asuh otoriter.

Kesabaran disebutkan memiliki peran signifikan bersama pola asuh otoriter terhadap kematangan emosi. Pola asuh ini tidak selalu berdampak negatif bagi perkembangan kematangan emosi anak.

Pola asuh otoriter dapat menjadi pola asuh yang bermanfaat bagi kematangan emosi anak apabila pola asuh tersebut diterapkan oleh ibu dan sebaliknya jika diterapkan oleh ayah apabila diterapkan secara bersama-sama.

Kemampuan Sabar

Kesabaran anak dapat membantu untuk mengatasi dampak negatif dari pola asuh otoriter ayah. sehingga pada saat yang sama perlu menguatkan pola asuh otoriter ibu.

Kondisi ini menjadikan orang tua tetap perlu melatihkan kemampuan sabar kepada anak. Ini dilakukan agar dampak negatif dari pola asuh otoriter dapat dihindari dan diperoleh dampak positifnya.

Patroli Social Distancing: Anak-Anak Muda Wonogiri Disuruh Pulang Saat Asyik Nongkrong di Kedai Kopi

Enung Hasanah dari Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menyatakan penerapan pola asuh otoriter akan berdampak positif pada perilaku remaja bila dipadukan dengan penerapan pola asuh otoritatif.

Orang tua perlu menerapkan pola asuh otoriter dalam menanamkan nilai agama, sosial, dan menuntut ketaatan remaja. Namun, di sisi lain, mereka juga bisa menerapkan pola asuh otoritatif.

Misalnya memberikan kebebasan, menghargai hak intelektual dan sosial remaja tanpa melepas tuntunan perilaku berdasarkan agama dan norma masyarakat yang berlaku.

”Komunikasi dua arah menjadi hal paling penting bagi para remaja. Sebab hal tersebut berkaitan dengan munculnya rasa dihargai sebagai individu. Juga perasaan mendapatkan kebebasan berpendapat,” jelas Enung di laman Sahabat Keluarga Kemendikbud.

Dia menilai gaya pengasuhan yang tidak memadukan dua gaya tersebut bisa dimaknai negatif oleh para remaja. Orang tua bisa  dianggap merampas otonomi mereka. Ini bisa menimbulkan kehilangan identitas dan kerenggangan hubungan orang tua dan anak.

Resepsi Ditunda, Pengelola Sewa Gedung Sukoharjo Rugi Puluhan Juta

Orang tua ini perlu memahami dan mau melakukan pendekatan dengan cara yang lebih cocok melalui sebuah dialog, yang sesuai dengan perkembangannya.

Orang tua yang ingin menghasilkan remaja yang bisa tumbuh dan memiliki identitas diri harus mampu menggabungkan prinsip otoriter dan otoritatif secara kontekstual.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho