ORANG HILANG : Ini Daftar Orang Hilang Misterius di Jogja, Terkait Gafatar?
Rica Tri bersama suami dan anaknya (Facebook)

Orang hilang di Jogja bertambah. Diduga kasus orang hilang ini terkait dengan keberadaan ormas.

Solopos.com, SLEMAN - Kasus hilangnya orang secara misterius terus bertambah di wilayah DI Yogyakarta.  Sebelumnya dokter Rica Tri Handayani dan anak balitanya, Zafran Alif Wicaksono pada 30 Desember 2015 lalu. Dokter Rica dan anaknya ditemukan di Kalimantan Barat.

Eko Purnomo dan istrinya Veni Ori Nanda yang menjemput dokter Rica Tri juga ikut hilang meninggalkan rumah kontrakan di Perumahan Griya Pesona, Dusun Tangkilan, Sidoarum Godean pun ikut raib.

Seorang pelajar Sleman, Ahmad Kevin Aprilio hilang bersama ayah kandungnya, Angga, sejak 26 November 2015.

Sebelumnya, Diah Ayu Yulianingsih, 28, warga Perumahan Candi Gebang Permai IV nomor 1 Jetis RT18/RW66 Wedomartani, Ngemplak hilang bersama anak balitanya, Raina Ayranica Calya Putri. Diah meninggalkan rumah pada Jumat, 11 Desember 2015. Diah mengirim pesan SMS kepada orangtuanya dan mantan mertuanya, mengatakan akan pergi jauh dan baru akan pulang jika sudah hidup layak.

Tak hanya itu seorang PNS RSUP Sardjito bagian rekam medik  juga menghilang satu keluarga. Pegawai berinisial ES, 40, hilang sejak November 2015  bersama suami dan anak-anaknya.

Kabag Hukum dan Humas RSUP Sardjito Heru Trisno Nugroho menyatakan, hingga Senin (5/1/2016) karyawan RSUP Sardjito berinisial ES bersama keluarganya juga tak terdeteksi keberadaannya. ES tiba-tiba menghilang dari rumah pada November 2015. Awalnya PNS yang bekerja di bidang rehabilitasi medis itu sempat mengajukan cuti sepekan tetapi hingga saat ini tak diketahui keberadaannya.

"Kami sudah datangi rumah di Godean [Sleman] tapi semuanya tidak ada, sekeluarga menghilang, kami tanya ke RT juga tidak tahu pindahnya kemana," kata Heru.

Eksodus Ormas

Diduga hilangnya orang-orang tersebut terkait dengan organisasi masyarakat yang mereka ikuti. Olivia Sandra Yunita biasa disapa Nita ibu kandung Ahmad Kevin Aprilio mengatakan dia menemukan pesan berisi rencana melakukan eksodus ke suatu tempat untuk mengikuti keyakinannya.

Nita yang tinggal di Jetis, Sinduadi, Mlati, Sleman hingga saat ini terus berusaha mencari anaknya. Ia menjelaskan, Kevin tinggal bersamanya sejak bercerai dengan mantan suami, Angga. Tetapi hubungan keduanya terjalin baik, bahkan saling memberi masukan tentang pendidikan Kevin. Hingga lulus SD, oleh mantan suaminya, Kevin dimasukkan ke sekolah berbasis rumah (SBR) atau homeschooling yang berada di bawah ormas Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).

Tanpa curiga ia menyetujuinya karena ormas itu dikenalnya memiliki basis sosial. Bahkan prestasi anaknya cukup membanggakan saat ikut sekolah yang berlokasi di Minomartani, Ngaglik, Sleman itu.

"Saya juga sering antar dia ikut kegiatan bakti sosial. Sekolah itu atas saran ayahnya," ungkapnya saat dihubungi Harian Jogja melalui ponselnya, Sabtu (9/1/2016) petang.

Tetapi dalam enam bulan terakhir sebelum kepergiannya 26 Nopember 2015, tindakan Kevin banyak mengalami perubahan. Bahkan ia enggan makan daging Ayam jika tidak dipotong langsung oleh organisasi atau sekolah yang diikutinya.

Kepergian Kevin dijemput oleh ayah kandungnya pada 26 Nopember 2015 pukul 08.00 WIB menggunakan motor. Saat itu sang ayah menyampaikan, bahwa Kevin akan diajak menjenguk kakeknya di Bima, Nusa Tenggara Barat. Olivia mulai curiga, saat malam hari ponsel Angga maupun Kevin tidak bisa dihubungi meski awalnya sempat dikira tidak ada sinyal, bahkan media sosial milik juga ikut tidak aktif. "Keesokan harinya saya hubungi keluarga di Bima tapi mereka tidak ada di sana," ucapnya.

Olivia menambahkan, ia terus berupaya mencari keberadaan Kevin. Kemudian membongkar kamar Kevin dan menemukan secarik tulisan tangan tentang rencana eksodus yang akan diikutinya bersama organisasi yang diikuti. Saat itulah, ia baru sadar bahwa Kevin telah dicuci otak di sekolah tempat belajar.

Hari berikutnya, ia mendatangi tempat sekolah Kevin, tetapi kosong. Bahkan tiga hari berikutnya, rumah yang semula tempat sekolah yang didirikan organisasi itu sudah berubah menjadi tempat usaha jual beli alat pertanian milik orang lain. Dengan demikian seluruh siswanya tak diketahui keberadaannya. "Tapi saya tidak tahu teman sekolahnya ikut atau tidak, yang jelas anak saya ikut eksodus itu," ujarnya.

Olivia mengaku telah melaporkan peristiwa itu ke kepolisian, namun saat itu tidak ada respon sama sekali. Barulah, ketika heboh di media banyak orang hilang secara misterius, ia meyakini itu bagian dari eksodus besar-besaran seperti yang dituliskan Kevin dalam secarik kertas yang ia temukan. "Saya sudah lapor tapi tidak ada respon, saya berharap anak saya bisa kembali," kata dia.

Terpisah Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIY Kombes Pol. Hudit Wahyudi menegaskan, kasus itu dalam penyelidikan kepolisian. Selain di wilayah Jogja, pencarian juga dilakukan hingga ke luar Jogja. "Kami juga dibantu tim dari Bareskrim. Kalau soal keberadaan, belum bisa kami simpulkan," tegas dia.

 

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom