Kategori: Nasional

Optimisme Warga Obat Manjur Pertumbuhan Ekonomi


Solopos.com/Cahyadi Kurniawan

Solopos.com, JAKARTA—Sebuah studi menunjukkan optimisme warga di suatu negara berbanding lurus dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) negara tersebut. Optimisme yang terbentuk linier dengan keinginan berbelanja seseorang.

Optimisme ini tercermin dalam pengeluaran di sejumlah kategori. Sejak pandemi terjadi pada tahun lalu, pengeluaran orang masih berkutat pada tiga kategori, yakni kebutuhan untuk memasak di rumah, kebutuhan pribadi, dan produk kebersihan. Konsumsi ini berlangsung hingga September 2020.

Namun, optimisme yang terus menguat berhasil memperluas kategori belanja ke kebutuhan leisure atau hiburan, semisal travel. Belanja di travel mengalami tren positif kendati masih negatif. Tren serupa juga terjadi pada restoran maupun kafe. “Ini menandakan orang enggak hanya berdiam diri di rumah. Mereka juga dengan adanya PPKM, restoran buka meski kapasitas setengah. Jadi optimisme translate-nya ke daya beli,” kata Managing Director Ipsos in Indonesia, Soeprapto Tan, dalam talkshow virrtuual Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Rabu (21/4/2021).

Penerimaan 80 Persen

Pria yang akrab disapa Atok itu berpendapat gelombang lonjakan kasus seperti di India, Turki, dan Brasil harus menjadi pelajaran bagi Indonesia. Jangan sampai hal ini terjadi dan mengganggu optimisme yang terbangun selama ini.

Di sisi lain, optimisme ini makin kuat seiring meluasnya cakupan vaksinasi di Tanah Air. Studi Ipsos memperlihatkan penerimaan masyarakat terhadap vaksinasi tinggi, yakni 80 persen responden siap mendapat vaksin. Namun, edukasi masih perlu untuk menyasar 20 persen sisanya yang masih ragu-ragu atau menolak vaksin. "Ini perlu edukasi supaya mereka menerima vaksinasi. Ini menurut saya obat paling ampuh untuk herd immunity," tutur Atok.

Optimisme ini juga ada pada pelaku UMKM yang berkaitan dengam bisnis leisure dan travel. Momentum ini harus terjaga supaya menjadi angin segar bagi pelaku pariwisata. Bagi pemerintah, tren ini menjadi kesempatan untuk berkampanye pariwisata.

Belanja Leisure Belum Pulih

"Ini jadi peluru yang mumpuni. Kalau mau beri stimulus, ini saatnya. Kita kerja di kuartal II banyak prediksi terjadi 7 persen. Saya rasa ini yang harus kita perhatikan. Optimisme akan memberikan indikasi apa yang terjadi dalam enam bulan ke depan baik spending, pertumbuhan ekonomi, dan lainnya," sambung dia.

Sekretaris 1 Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN), Raden Pardede, mengatakan optimisme mendorong orang berbelanja dan berinvestasi. Mereka umumnya berasal dari kelas menengah atas dan kelompok lansia yang rentan. Dengan dukungan vaksinasi dan protokol kesehatan, kelompok ini mulai confident untuk spending uangnya.

"Indeks belanja mulai naik. Dari segi jumlah transaksi sudah di atas prakrisis. Tapi, dari sisi nilai belanja, kelompok menengah bawah sudah kembali. Untuk nonesensial seperti leisure belum pulih betul. Ini perlu dorongan," kata Pardede.

THR

Upaya pemerintah meningkatkan optimisme ini kuncinya berada pada tujuan flattening the curve. Pemerintah mempercepat penanganan pandemi dan vaksinasi. Selain itu, kebijakan perluasan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Mikro. "Jadi kami enggak mau lengah. Meski ada pergerakan, tapi protokol kesehatan tetap disiplin. Ada pelarangan mudik. Inilah yang terjadi di India. Biaya akan sangat mahal kalau terjadi lagi lockdown," tutur dia.

Pemerintah juga mendorong konsumsi tetap menggeliat di tengah kebijakan PPKM mikro dan larangan mudik. Upaya ini misalnya penerbitan kebijakan mewajibkan pembayaran tunjangan hari raya (THR) kepada karyawan. THR diberikan kepada ASN, sektor formal, sektor informal, dan lainnya.

"Ini bisa mem-boost cukup lumayan dengan nilanya hampir Rp200 triliun. Harapannya mereka akan berbelanja. Pemerintah juga menyalurkan bantuan sosial beras, perlindungan sosial lebih awal. Jangan lupa kirim oleh-oleh kepada saudara di kampung. Ada progam Kurma, kado untuk keluarga di rumah dan program Harbolnas," ujar Pardede.

Share
Dipublikasikan oleh
Ayu Prawitasari