Oposisi Biner dan Lawan Kata

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 14 Juni 2021. Esai ini karya Joko Setiyono, pustakawan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

 Joko Setiyono (Istimewa/Dokumen pribadi)

SOLOPOS.COM - Joko Setiyono (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Masih ingatkah Anda dengan questions of life yang pernah menjadi sesi acara gelar wicara Hitam Putih? Sebuah acara yang cukup digemari pemirsa pada zaman itu. Questions of life yang dikemukakan Deddy Corbuzier menjadi sesi menegangkan bagi bintang tamu.

Kadang-kadang pertanyaan yang dikemukakan membuat senewen yang ditanya. Butir-butir pertanyaan questions of life sering kali mengambil pola oposisi biner. Kiat ini ternyata menjadi menarik bagi pemirsa.

Laksana masakan, pertanyaan seperti itu adalah bumbu penyedapnya. Bagi bintang tamu hal itu sebaliknya, menjadi sesi yang berat untuk dilalui. Bisa jadi karena pertanyaan yang diajukan kadang-kadang terasa sebagai jebakan.

Saat Najwa Shihab disodori pilihan ibu yang baik atau istri yang setia (Hitam-Putih yang disiarkan Trans 7 pada 9 Januari 2018) adalah salah satu contoh. Deddy Corbuzier akhirnya tidak memperoleh jawaban dari pertanyaannya itu.

Menurut Najwa, itu bukanlah pilihan, namun satu paket. Najwa mendekonstruksi oposisi biner yang dibangun oleh Deddy. Polanya benar, namun isinya kurang pas dan tidak selaras.

Semantik membangun logika keselarasan bentuk dan makna. Sesuai dengan tajuk acara, Hitam-Putih, sah-sah saja Deddy mengeksplorasi modus oposisi biner. Tentu juga perlu mencermati unsur-unsur yang hendak diperhadapkan.

Oposisi biner valid memasangkan hitam dengan putih, positif versus negatif, guru dengan murid, syukur dan kufur. Oposisi biner tak bisa mencari lawan dari abu-abu, merah, hijau, kuning; tidak tepat menghadapkan ibu dengan istri.

Sama juga absurd bila ada oposisi biner yang menghadapkan Pancasila dengan agama atau Pancasila dengan Al-Qur’an. Kesalahan dalam meramu elemen opsisi biner menimbulkan kerancuan dalam menentukan demarkasi posisi.

Modus oposisi biner ternyata memikat dan begitu berdaya. Tak mengherankan bila dalam jagat hiburan sering menyelipkan permainan kuis tersebut dalam sesi acara mereka. Dalam tes asesmen mungkin Anda juga bisa menghadapi modus ini. Siapa tahu?

Dalam bidang teknologi pengejawantahannya menjadi penanda era peradaban manusia. Era digital. Digitalisasi beroperasi dalam modus oposisi biner yang disimbolkan menjadi digit 0 dan 1. Operasi biner menghasilkan formulasi penyimpan informasi yang tiada terhingga.

Struktur

Oposisi biner berasal dari teori strukturalis Saussurean. Menurut Ferdinand de Saussure, oposisi biner adalah sarana ketika unit-unit bahasa memiliki nilai atau makna; setiap unit didefinisikan dalam penentuan timbal balik dengan istilah lain, seperti dalam kode biner.

Konsep oposisi biner mula-mula diteorikan oleh ahli bahasa Ferdinand de Saussure, tetapi Claude Levi-Strauss yang membuatnya sangat populer. Strauss yang antropolog strukturalis itu menggunakan teori-teori bahasa Saussure sebagai suatu sistem struktural.

Ia menggunakan itu sebagai pisau menganalisis semua proses kultural seperti cara memasak, cara berpakaian, sistem kekeluargaan, serta mitos dan legenda dalam masyarakat. Bagi Strauss, oposisi biner adalah the essence of sense making; struktur yang mengatur sistem pemaknaan kita terhadap budaya dan dunia tempat kita hidup.

Dalam sistem biner hanya ada dua tanda atau kata yang hanya punya arti jika masing-masing beroposisi dengan yang lain. Keberadaan mereka ditentukan oleh ketidakberadaan yang lain. Misalnya, dalam sistem biner laki-laki dan perempuan, daratan dan lautan, atau antara anak-anak dan orang dewasa.

Seseorang disebut laki-laki karena ia bukan perempuan. Sesuatu itu disebut daratan karena sesuatu itu bukan lautan. Begitu seterusnya. Secara struktur oposisi biner berhubungan satu dengan yang lain dan bisa ditransformasikan dalam sistem-sistem oposisi biner yang lain.

Seperti halnya sistem maskulin dan feminin adalah dua kategori yang saling beroposisi dan antara keduanya bisa disejajarkan dengan kategori-kategori yang berjajar di bawahnya.

Jadi, dalam sistem oposisi biner itu maskulin dan feminin sejajar dengan positif dan negatif sejajar dengan terang dan gelap sejajar dengan kultural dan natural dan seterusnya.

Oposisi biner adalah sebuah konsep menarik yang dikemukakan oleh para filsuf mengenai pola pengenalan manusia terhadap simbol dan makna kata. Bagaimana kita menentukan tolok ukur sesuatu dikarenakan oposisi biner.

Konsep ini adalah penjelasan mengenai sesuatu yang selalu memiliki lawan maka akan terbentuk nilai dan makna sesungguhnya. Seperti ada makna dan nilai kata cantik karena sesungguhnya ada kata jelek.

Oposisi biner (binary opposition) sebenarnya, secara sederhana, dapat diartikan sebagai sebuah sistem yang berusaha membagi dunia dalam dua klasifikasi yang berhubungan secara struktural.

Contoh yang sederhana, hubungan antara guru (yang memberikan pelajaran) dengan murid (yang menerima pelajaran). Guru dengan murid secara terminologi sosial memang berlawanan fungsi namun secara struktural, dalam dunia pendidikan, dua unsur ini mutlak harus ada.

Seorang guru membutuhkan murid untuk mentranformasikan ilmunya dalam sebuah pembelajaran. Di lain pihak, seorang murid membutuhkan hadirnya seorang guru sebagai tempat bertanya dan pembimbing yang mengarahkan studinya.

Begitulah realitas kehidupan yang pasti ada dua hal yang berbeda, baik keduanya positif atau negatif, atau kontradiksi (opisisi) antara positif dan kontradiksi antara negatif (Nezar: 1999).

Antonim

Oposisi biner akan lebih sederhana dilihat dengan menggunakan model antonim atau lawan kata. Berawal dari pemaknaan antonim, adhia (bahasa Arab), menurut al-Hakim at-Tirmidzi, kata bisa dipertanyakan terhadap perbuatan, bukan nama.

Lawan kata juga hanya bisa dipertanyakan kepada pokok, bukan cabang. Karena itulah mustahil seseorang bertanya apa lawan kata dari manusia? Apa lawan kata tembok?

Lawan kata itu hanya ada pada perbuatan, maka bisa ditanyakan apa lawan kata iman? Apa lawan kata syukur?  Lawan kata hanya ada pada pokok dan tidak ada pada cabang.

Contohnya, bisa ditanyakan tentang lawan kata dari putih, yaitu hitam. Tidak bisa ditanyakan lawan kata dari merah, kuning, dan hijau. Setiap kali ada sesuatu yang rancu untuk demarkasi dua buah kondisi maka carilah lawan katannya (Ahmad Abdurrahim As-Sayih, 2020: 191-192).

Tiga pilar agama, yaitu kebenaran, keadilan, dan kejujuran adalah pokok maka akan ditemukan lawan katanya, yaitu kebatilan, kezaliman, dan kebohongan. Kebenaran, keadilan, dan kejujuran adalah suatu perbuatan dan hal pokok bukan cabang.

Perbuatan adalah simbol dari setiap amal transitif atau intransitif. Aplikasi bahasa dalam ruang pulik mestinya mengindahkan kaidah-kaidah dasar semantik atau kaidah berbahasa sebab bahasa membangun keselarasan bentuk dan makna secara tertib.

Diperlukan kematangan dan kedewasan literasi berbahasa, baik kosakata dan gramatika, terlebih bahasa yang dipergunakan untuk membangun literasi kebangsaan. Tentu keparipurnaan berbahasa adalah aras yang seharusnya dipenuhi atau dicapai agar tidak melahirkan polemik dan kontroversi yang berkepanjangan.

Berita Terkait

Berita Terkini

Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.