Oposisi Biner dan Lawan Kata

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 14 Juni 2021. Esai ini karya Joko Setiyono, pustakawan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Oposisi Biner dan Lawan Kata

SOLOPOS.COM - Joko Setiyono (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Masih ingatkah Anda dengan questions of life yang pernah menjadi sesi acara gelar wicara Hitam Putih? Sebuah acara yang cukup digemari pemirsa pada zaman itu. Questions of life yang dikemukakan Deddy Corbuzier menjadi sesi menegangkan bagi bintang tamu.

Kadang-kadang pertanyaan yang dikemukakan membuat senewen yang ditanya. Butir-butir pertanyaan questions of life sering kali mengambil pola oposisi biner. Kiat ini ternyata menjadi menarik bagi pemirsa.

Laksana masakan, pertanyaan seperti itu adalah bumbu penyedapnya. Bagi bintang tamu hal itu sebaliknya, menjadi sesi yang berat untuk dilalui. Bisa jadi karena pertanyaan yang diajukan kadang-kadang terasa sebagai jebakan.

Saat Najwa Shihab disodori pilihan ibu yang baik atau istri yang setia (Hitam-Putih yang disiarkan Trans 7 pada 9 Januari 2018) adalah salah satu contoh. Deddy Corbuzier akhirnya tidak memperoleh jawaban dari pertanyaannya itu.

Menurut Najwa, itu bukanlah pilihan, namun satu paket. Najwa mendekonstruksi oposisi biner yang dibangun oleh Deddy. Polanya benar, namun isinya kurang pas dan tidak selaras.

Semantik membangun logika keselarasan bentuk dan makna. Sesuai dengan tajuk acara, Hitam-Putih, sah-sah saja Deddy mengeksplorasi modus oposisi biner. Tentu juga perlu mencermati unsur-unsur yang hendak diperhadapkan.

Oposisi biner valid memasangkan hitam dengan putih, positif versus negatif, guru dengan murid, syukur dan kufur. Oposisi biner tak bisa mencari lawan dari abu-abu, merah, hijau, kuning; tidak tepat menghadapkan ibu dengan istri.

Sama juga absurd bila ada oposisi biner yang menghadapkan Pancasila dengan agama atau Pancasila dengan Al-Qur’an. Kesalahan dalam meramu elemen opsisi biner menimbulkan kerancuan dalam menentukan demarkasi posisi.

Modus oposisi biner ternyata memikat dan begitu berdaya. Tak mengherankan bila dalam jagat hiburan sering menyelipkan permainan kuis tersebut dalam sesi acara mereka. Dalam tes asesmen mungkin Anda juga bisa menghadapi modus ini. Siapa tahu?

Dalam bidang teknologi pengejawantahannya menjadi penanda era peradaban manusia. Era digital. Digitalisasi beroperasi dalam modus oposisi biner yang disimbolkan menjadi digit 0 dan 1. Operasi biner menghasilkan formulasi penyimpan informasi yang tiada terhingga.

Struktur

Oposisi biner berasal dari teori strukturalis Saussurean. Menurut Ferdinand de Saussure, oposisi biner adalah sarana ketika unit-unit bahasa memiliki nilai atau makna; setiap unit didefinisikan dalam penentuan timbal balik dengan istilah lain, seperti dalam kode biner.

Konsep oposisi biner mula-mula diteorikan oleh ahli bahasa Ferdinand de Saussure, tetapi Claude Levi-Strauss yang membuatnya sangat populer. Strauss yang antropolog strukturalis itu menggunakan teori-teori bahasa Saussure sebagai suatu sistem struktural.

Ia menggunakan itu sebagai pisau menganalisis semua proses kultural seperti cara memasak, cara berpakaian, sistem kekeluargaan, serta mitos dan legenda dalam masyarakat. Bagi Strauss, oposisi biner adalah the essence of sense making; struktur yang mengatur sistem pemaknaan kita terhadap budaya dan dunia tempat kita hidup.

Dalam sistem biner hanya ada dua tanda atau kata yang hanya punya arti jika masing-masing beroposisi dengan yang lain. Keberadaan mereka ditentukan oleh ketidakberadaan yang lain. Misalnya, dalam sistem biner laki-laki dan perempuan, daratan dan lautan, atau antara anak-anak dan orang dewasa.

Seseorang disebut laki-laki karena ia bukan perempuan. Sesuatu itu disebut daratan karena sesuatu itu bukan lautan. Begitu seterusnya. Secara struktur oposisi biner berhubungan satu dengan yang lain dan bisa ditransformasikan dalam sistem-sistem oposisi biner yang lain.

Seperti halnya sistem maskulin dan feminin adalah dua kategori yang saling beroposisi dan antara keduanya bisa disejajarkan dengan kategori-kategori yang berjajar di bawahnya.

Jadi, dalam sistem oposisi biner itu maskulin dan feminin sejajar dengan positif dan negatif sejajar dengan terang dan gelap sejajar dengan kultural dan natural dan seterusnya.

Oposisi biner adalah sebuah konsep menarik yang dikemukakan oleh para filsuf mengenai pola pengenalan manusia terhadap simbol dan makna kata. Bagaimana kita menentukan tolok ukur sesuatu dikarenakan oposisi biner.

Konsep ini adalah penjelasan mengenai sesuatu yang selalu memiliki lawan maka akan terbentuk nilai dan makna sesungguhnya. Seperti ada makna dan nilai kata cantik karena sesungguhnya ada kata jelek.

Oposisi biner (binary opposition) sebenarnya, secara sederhana, dapat diartikan sebagai sebuah sistem yang berusaha membagi dunia dalam dua klasifikasi yang berhubungan secara struktural.

Contoh yang sederhana, hubungan antara guru (yang memberikan pelajaran) dengan murid (yang menerima pelajaran). Guru dengan murid secara terminologi sosial memang berlawanan fungsi namun secara struktural, dalam dunia pendidikan, dua unsur ini mutlak harus ada.

Seorang guru membutuhkan murid untuk mentranformasikan ilmunya dalam sebuah pembelajaran. Di lain pihak, seorang murid membutuhkan hadirnya seorang guru sebagai tempat bertanya dan pembimbing yang mengarahkan studinya.

Begitulah realitas kehidupan yang pasti ada dua hal yang berbeda, baik keduanya positif atau negatif, atau kontradiksi (opisisi) antara positif dan kontradiksi antara negatif (Nezar: 1999).

Antonim

Oposisi biner akan lebih sederhana dilihat dengan menggunakan model antonim atau lawan kata. Berawal dari pemaknaan antonim, adhia (bahasa Arab), menurut al-Hakim at-Tirmidzi, kata bisa dipertanyakan terhadap perbuatan, bukan nama.

Lawan kata juga hanya bisa dipertanyakan kepada pokok, bukan cabang. Karena itulah mustahil seseorang bertanya apa lawan kata dari manusia? Apa lawan kata tembok?

Lawan kata itu hanya ada pada perbuatan, maka bisa ditanyakan apa lawan kata iman? Apa lawan kata syukur?  Lawan kata hanya ada pada pokok dan tidak ada pada cabang.

Contohnya, bisa ditanyakan tentang lawan kata dari putih, yaitu hitam. Tidak bisa ditanyakan lawan kata dari merah, kuning, dan hijau. Setiap kali ada sesuatu yang rancu untuk demarkasi dua buah kondisi maka carilah lawan katannya (Ahmad Abdurrahim As-Sayih, 2020: 191-192).

Tiga pilar agama, yaitu kebenaran, keadilan, dan kejujuran adalah pokok maka akan ditemukan lawan katanya, yaitu kebatilan, kezaliman, dan kebohongan. Kebenaran, keadilan, dan kejujuran adalah suatu perbuatan dan hal pokok bukan cabang.

Perbuatan adalah simbol dari setiap amal transitif atau intransitif. Aplikasi bahasa dalam ruang pulik mestinya mengindahkan kaidah-kaidah dasar semantik atau kaidah berbahasa sebab bahasa membangun keselarasan bentuk dan makna secara tertib.

Diperlukan kematangan dan kedewasan literasi berbahasa, baik kosakata dan gramatika, terlebih bahasa yang dipergunakan untuk membangun literasi kebangsaan. Tentu keparipurnaan berbahasa adalah aras yang seharusnya dipenuhi atau dicapai agar tidak melahirkan polemik dan kontroversi yang berkepanjangan.

Berita Terkait

Espos Premium

"Teater" Memperkuat Korupsi

Pengurangan hukuman eks jaksa Pinangki Sirna Malasari dan Djoko Soegiarto Tjandra di tingkat banding kontraproduktif terhadap gerakan pemberantasan korupsi.

Berita Terkini

Wacana “End Game Jokowi” Harusnya “End”

So much so, dengan kondisi saat ini, saya pikir menggulingkan pemerintahan terpilih justru akan berpeluang besar melahirkan kediktatoran baru seperti di Myanmar atau rezim Al Sisi di Mesir.

Memaksa Industri Kreatif Lebih Kreatif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 30 Juli 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI)

Negeri Melankolia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 28 Juli 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Butuh Motivasi, Banyak Pegawai Jenuh dan Kinerja Menurun Selama Pandemi Covid-19

Artikel ini ditulis Aqua Dwipayana, komunikator dan motivator.

Menerka Masa Depan Dunia Digital

Gagasan ini dimut Harian Solopos edisi Sabtu 17 Juli 2021. Esai ini karya Eko Wahyono, pengajar Media dan Budaya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Tangerang.

Korban yang Bercerita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 21 Juli 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Ivermectin dalam Filsafat Sains

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis 15 Juli 2021. Esai ini karya Satrio Wahono, alumnus Magister Filsafat Universitas Indonesia dan dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasila Jakarta.

Trust is Money

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 23 Juli 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Urgensi Kontrak Belajar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 14 Juli 2021. Esai ini karya Muhamad Arifin, guru SD Muhammadiyah Program Khusus Kota Barat, Kota Solo, Jawa Tengah.

Mewujudkan Perlindungan terhadap Hak Anak di Masa Pandemi

Artikel ini ditulis Cholida Hanum, peneliti Pusat Studi Gender dan Anak IAIN Salatiga.

Dampak Gadget pada Anak-Anak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa 13 Juli 2021. Esai ini karya Lina Nihayatun Ni'mah, mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Keadilan Elektoral

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin 12 Juli 2021. Esai ini karya Zennis Helen, dosen Hukum Tata Negara di Fakultas Hukum Universitas Ekasakti Padang dan mahasiswa program doktor di Fakultas Hukum Universitas Sultan Agung Semarang.

Televisi Digital

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 14 Juli 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

Telah Berpulang...

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 16 Juli 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Dari Mengapa ke Mengapa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu 10 Juli 2021. Esai ini karya Marhamah Aljufri, pembelajar menulis esai yang tinggal di Pasuruan, Jawa Timur, dan aktif di komunitas Mbokmbokan Malem Minggu.

Ngepit ke Kota Netral Karbon

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 9 Juli 2021. Esai ini karya Djoko Subinarto, esais dan bloger.

Menata Koridor Kapujanggan di Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis 8 Juli 2021. Esai ini karya Dhian Lestari Hastuti, dosen di Program Studi Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Surakarta.

Dilema dan Solusi Pembelajaran Bahasa Inggris Online

Artikel ini ditulis Nadira Syifa Azzahro, mahasiswa Tadris Bahasa Inggris, Program Kelas Khusus Internasional IAIN Salatiga

Jangan Bertanya Mengapa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 7 Juli 2021. Esai ini karya Ayu Primadini, guru di Jakarta Selatan dan warga komunitas Mbokmbokan Malem Minggu.

Semakin Dekat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 7 Juli 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

Tantangan Digitalisasi Kebudayaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa 6 Juli 2021. Esai ini karya Dewi Yunita, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta.

Tetaplah di Rumah demi Kemanusiaan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 2 Juli 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Menangisi Dunia Pendidikan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin 5 Juli 2021. Esai ini karya Willy Pramuda, orang tua anak yang tak bersekolah formal dan penyuka tema-tema pendidikan, tinggal di Jakarta.

Dalam Sebotol Coca-Cola

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin 28 Juni 2021. Esai ini karya Setyaningsih, esais dan pekerja buku di Penerbit Babon.

Intervensi Stigma dan Diskriminasi sebagai Upaya Indonesia Bebas HIV/AIDS 2030

Artikel ini ditulis Titik Haryanti, S.K.M., M.P.H., dosen Prodi Kesehatan Masyarakat FKM Univet Bantara Sukoharjo-Mahasiswa S3 IKM UNS

Arah Kesenian Termutakhir

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 24 Juni 2021. Esai ini karya Damar Tri Afrianto, dosen di Institut Teknologi Telkom Purwokerto dan warga Sobat Ambyar Solo.

Pansos

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 23 Juni 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute.

Skenario Sekolah Tatap Muka

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin 21 Juni 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Pabaliut Gara-Gara Pandemi

Bukan sesederhana "tidak boleh keluar rumah pada Sabtu dan Minggu" saja. Imbauan semacam itu seakan mengindikasikan pembuat kebijakan mengabaikan esensi memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Restorasi Ekosistem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 25 Juni 2021. Esai ini karya Tundjung W. Sutirto, peneliti di Pusat Lingkungan Hidup Universitas Sebelas Maret.

Generasi Pembangun Jembatan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 23 Juni 2021. Esai ini karya Tri Winarno, guru Bahasan dan Sastra Indonesia di SMKN 2 Klaten.

Partai Politik, Firli, dan KPK

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 19 Juni 2021. Esai ini karya Thontowi Jauhari, anggota Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah.

Terjebak di Kubangan Digital

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 17 Juni 2021. Esai ini karya Aris Setiawan, esais yang tinggal di Kota Solo, Jawa Tengah.

Sinergi Semua Pihak untuk Suksesnya Vaksinasi Covid-19

Artikel ini ditulis dr. Farahdila Mirshanti, MPH, Kepala UPT Puskesmas Purwodiningratan Solo-Mahasiswi S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat UNS

Bahasa Indonesia Era Industri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 16 Juni 2021. Esai ini karya Duwi Saputro, guru Bahasa Indonesia di MTsN 1 Solo.

Esensial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Juni 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Berolahraga di Tengah Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 15 Juni 2021. Esai ini karya Diksanda Savero Robiyono, mahasiswa keolahragaan di Universitas Negeri Malang.

Oposisi Biner dan Lawan Kata

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 14 Juni 2021. Esai ini karya Joko Setiyono, pustakawan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Mengenal Orang-Orang Arab di Israel

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 12 Juni 2021. Esai ini karya Ronny P. Sasmita, Direktur Eksekutif Economic Action (EconAct) Indonesia dan peminat tema-tema hubungan internasional.

Menyehatkan Lahan Sakit

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 10 Juni 2021. Esai ini karya Bambang Pujiasmanto, guru besar di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.

Guru Modis Guru Idola Masa Kini

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 9 Juni 2021. Esai ini karya Astutiati, guru di SDN 1 Brangkal, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Garuda di Dadaku

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 11 Juni 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Menjaga Kebebasan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 9 Juni 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Tantangan Feminis pada Era Kontemporer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 3 Juni 2021. Esai ini karya Ester Lianawati, penulis buku Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan, psikologi dan pendiri Hypatia Pusat Penelitian Psikologi dan Feminisme di Prancis.

Pernikahan Dini Masa Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 8 Juni 2021. Esai ini karya Dila Sulistianingsih, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang.

100 Hari Kerja Mas Wali Kota

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 7 Juni 2021. Esai ini karya Krisnanda Theo Primadita, mahasiswa pascasarjana Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Solo dan Wellness Tourism

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 5 Juni 2021. Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, dosen Marketing di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Surakarta.

Chief of Transformation Officer Itu Bernama...

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 4 Juni 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seribu Hari Masih Lama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 2 Juni 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, wartawan Solopos.

Menjaga Kebudayaan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 2 Juni 2021. Esai ini karya Yuliyanti Dewi Untari, guru Bahasa Jawa di SMAN 1 Solo.

Menggemakan Nilai-Nilai Pancasila

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 31 Mei 2021. Esai ini karya Leo Agung S., Ketua Pusat Studi Pengamalan Pancasila Universitas Sebelas Maret.

Mimpi Juara Perusahaan Teknologi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 29 Mei 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Agama dan Kemanusiaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 27 Mei 2021. Esai ini karya Joko Yuliyanto, penggagas Komunitas Seniman Nahdlatul Ulama, penulis buku dan naskah drama.

Kisah di Balik Sajian Makanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa 25 Mei 2021. Esai ini karya Adib Baroya Al Fahmi, mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia UIN Raden Mas Said Surakarta.

Memperkuat Gastro-Diplomasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 24 Mei 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universitas Sebelas Maret.

Kajian Fiskal Regional

Penulis adalah Pengawas pada KPPN Klaten. Pendidikan Magister Hukum UGM

Impelementasi Catur Gatra Tunggal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 22 Mei 2021. Esai ini karya Y. Argo Twikromo, dosen di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, antropolog, dan peneliti di MINDSET Institute.

Sinyal Pemulihan Kian Terang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 21 Mei 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Lebaran Covid-19

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 19 Mei 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

PLTA Kali Samin Simbol Kemandirian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 20 Mei 2021. Esai ini karya Eko Sulistyo, Komisaris PT PLN (Persero).

Kritik untuk Sangkar Buku Kegiatan Ramadan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 19 Mei 2021. Esai ini karya Rohmah Jimi Sholihah, guru Pendidikan Agama Islam di SDN Tasikhargo, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah.

Palestina dan Jurnalisme Islam

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 18 Mei 2021. Esai ini karya Dhima Wahyu Sejati, mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Institut Agama Islam Negeri Surakarta.

Jalan Panjang Pemulihan Ekonomi Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 17 Mei 2021. esai ini karya Anton A. Setyawan, guru besar Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Memaknai Desa Sadar Kerukunan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 10 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Ismail, anggota panitia Festival Toleransi di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Rajakaya untuk Kecukupan Daging Nasional

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 11 Mei 2021. Esai ini karya Fransiskus Raymon, mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Sebelas Maret.

Jangan Mendadak "Bagong"

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 6 Mei 2021. Esai ini karya Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda Badan Ketahanan Pangan Kementeria Pertanian.

Royalti, Radio, dan Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi sabtu, 8 Mei 2021. Esai ini karya Ariyanti Mahardina, freelancer yang pernah bekerja di radio dan kini masih aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Solo.

Kita Harus Menjadi Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 5 Mei 2021. Esai ini karya Ardian Nur Rizki, guru di Sekolah Indonesia Luar Negeri Johor Bahru, Malaysia.

Resiliensi Sektor informal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 4 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Nandito, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyan Surakarta dan aktif di Lingkar Studi Sasadara di Kleco, Kota Solo.

Mitos Kekinian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 5 Mei 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute.

Narasi Tunggal Soal Mudik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat. 7 Mei 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Hadiah Lebaran dari Mas Edi

Buat saya, di tengah pandemi seperti saat ini, orang-orang seperti Mas Edi inilah bantalan kuat bagi ketahanan ekonomi Indonesia.

Wajah Pendidikan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 3 Mei 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Musnahkan Kebebalan Kawanan!

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 30 April 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Menolak Jalan Impunitas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 29 April 2021. Esai ini karya St, Tri Guntur Naryawa, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Wantok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 28 April 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Rumah Tempat Debat dan Mufakat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 26 April 2021. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncel Bilik Literasi.

Pelajaran Dari Gawok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 23 April 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Sinergi Mencegah Perkawinan Anak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Retno Winarni, guru Bahasa Indonesia di SMAN Kerjo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Bisnis Monyet Tanaman Hias

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 20 April 2021. Esai ini karya Nadia Aliya Azki, mahasiswa Program Studi Manajamen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(Andai) Demokrasi Tanpa Oligarki

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 19 April 2021. Esai ini karya Siti Farida, Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah.

Perlawanan Perempuan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Singkong Goreng dan Segelas Wine

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 16 April 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI)

Punden-Punden Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 15 April 2021. Esai ini karya Albertus Rusputranto P.A., dosen di Institut Seni Indonesia Surakarta.

Membaca Perempuan Kini

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 24 April 2021. Esai ini karya Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Bukan Cuma Kebaya dan Sanggul

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 22 April 2021. Esai ini karya Elly Jauharah Asriani, guru Matematika di MTsN 7 Klaten, Jawa Tengah.

Menunggu Musikus Jadi Kaya Raya

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 17 April 2021. Esai ini karya Tito Setyo Budi, doktor Kajian Musik, wartawan, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Kabupaten Sragen.

UUD 1945 dan the Living Constitution

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 13 April 2021. Esai ini karya Salma Abiyya, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Menyikapi Waktu Subuh Yang Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 12 April 2021. Esai ini karya Muh. Nursalim, Ketua Komisi Kajian Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sragen.

Investasi Sosial Wakaf Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 9 April 2021. Esai ini karya Wawan Sugiyarto, analis Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan dan peraih gelar akademis PhD di Queensland University of Technology, Brisbane, Australia.

Dihantui Masa Lalu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 14 April 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

Teror dan Agama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 6 April 2021. Esai ini karya Arif Yudistira, tuan rumah Pondok Filsafat Solo.

Berolahraga di Atas Bus Berjajar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 5 April 2021. Esai ini karya Agus Kristiyanto, Guru Besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret.

Cerita dari Bontang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 7 April 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

Mencegah Terorisme Lagi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 3 April 2021. Esai ini karya Soleh Amini Yahman, psikolog dan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Catur dan Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 1 April 2021. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Film sebagai Sumber Sejarah Alternatif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 31 Maret 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Harapan Kota Solo Bebas dari Sampah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 29 Maret 2021. Esai ini karya Mochamad Syamsiro, Direktur Center for Waste Management and Bioenergy dan dosen di Jurusan Teknik Mesin Universitas Janabadra Yogyakarta.

Lupakan Saja Swasembada Gula

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 24 Maret 2021. Esai ini karya Jojo, kandidat Doktor Ilmu Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor atau IPB University.