Operator Seluler Kurangi Jaringan 3G, Apa Dampaknya?
Teknisi XL sedang melakukan pemeriksaan rutin terhadap perangkat BTS (BaseTransceiver Station) yang berada di daerah wisata Jalan Cihampelas, Bandung. (Foto istimewa/dokumen)

Solopos.com, JAKARTA — Operator seluler mengurangi jaringan 3G sesuai perkembangan teknologi. Pemangkasan base tranceiver station (BTS) 3G memberi dampak positif dan negatif bagi pengembangan jaringan operator seluler.

Ketua Program Studi Magister Teknik Elektro ITB, Ian Yosef M. Edward berpendapat alasan operator seluler meninggalkan teknologi 3G disebabkan oleh harga perangkat 3G yang relatif lebih mahal dibandingkan 4G. Harga perangkat 4G murah karena diproduksi secara masif, sedangkan 3G yang merupakan teknologi ‘tua’ sudah jarang diproduksi.

Fengsui Kamar Mandi: Bukan Hanya Material, Perhatikan Juga Hal Ini…

Alhasil. harga perangkat 3G terasa lebih mahal. Sayangnya Ian tidak menyebutkan biaya yang untuk mengembangkan layanan 3G dan 4G. “Selain lebih murah juga secara lebar pita juga lebih irit,” kata Ian kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Rabu (18/11/2020).

Meski lebih efisien secara penggunaan spektrum, kata Ian, teknologi 4G lebih rapuh terhadap gangguan cuaca dibandingkan dengan 3G. Secara cakupan, 3G juga lebih luas karena spektrum frekuensinya lebih rendah dibandingkan dengan 4G.

Pangkas Cakupan Layanan

Pemangkasan BTS 3G menurutnya akan memangkas cakupan layanan yang diberikan operator. Operator yang umumnya hanya memasang satu BTS 3G di satu wilayah, ketika beralih ke 4G, perlu menambah satu BTS lagi agar layanan yang diberikan lebih tangguh dan luas, investasi yang dikeluarkan pun bertambah.

"Dengan mengalihkan 3G ke 4G, maka operator dengan sendirinya perlu menambahkan BTS karena jangkauannya berkurangnya. Modulasi makin canggih makin tidak tahan gangguan,” kata Ian.

Astronom Deteksi Semburan Radio Misterius dari Galaksi Bima Sakti

Dia berpendapat bahwa alasan sejumlah operator tidak mengganti jaringan layanan 3G secara tergesa-gesa–selain karena masih ada penggunanya–disebabkan oleh waktu penggantian perangkat yang memakan waktu dan biaya. Adapun dari sisi pasar dan ekosistem, menurut Ian, masyarakat sudah siap beralih ke 4G seiring dengan penetrasi gawai 4G yang makin luas.

“Di daerah luar Jawa atau pelosok desa misalnya, kenapa tidak langsung diganti 4G? permasalahannya jauh dan ongkos kirimnya mahal,” kata Ian.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos

Sumber: Bisnis



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom