Tutup Iklan
Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, menyalami warga yang datang di acara open house di rumah masa kecilnya, Griya Sri Soeparni, Kampung/Kelurahan/Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jumat (7/6/2019). (Solopos/Sri Sumi Handayani)

Solopos.com, KARANGANYAR -- Setelah menggelar open house dua kali yakni di Purbalingga dan Purworejo, Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, kembali menggelar open house untuk kali ketiga di tanah kelahirannya, Tawangmangu, -rekomendasi-tempat-makan-enak-di-karanganyar" title="5 Rekomendasi Tempat Makan Enak di Karanganyar">Karanganyar, Jumat (7/6/2019).

Gubernur Ganjar rutin menyelenggarakan open house di rumah orang tuanya di Kampung/Kelurahan/Kecamatan Tawangmangu, RT 003/RW 002, Karanganyar. Rumah tempat kelahirannya itu persis berada di belakang Terminal Tawangmangu.

Rumah bernama Griya Sri Soeparni itu menyimpan banyak kenangan masa kecil Ganjar. Sri Soeparni adalah nama ibunya. Menurut penuturan warga sekitar, rumah itu tidak ditempati tetapi terawat dan dimanfaatkan keluarga untuk menyelenggarakan kegiatan, seperti open house setiap -karanganyar-jadi-khatib-salat-idulfitri-apa-isi-ceramahnya" title="Bupati Karanganyar Jadi Khatib Salat Idulfitri, Apa Isi Ceramahnya?">Lebaran.

Termasuk pada Jumat (7/6/2019) itu, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, didampingi istrinya, Siti Atiqoh Supriyanti, dan anak lelaki semata wayangnya, Muhammad Zinedine Alam Ganjar, menyambut para tamu yang datang ke rumah tersebut.

Mereka mengenakan baju batik seragam. Sama seperti saat open house di dua lokasi lain, Ganjar menyampaikan tiga hal, yakni kebinekaan, budaya macet saat mudik, dan sampah. Ganjar mengingatkan seluruh warga membuang sampah pada tempatnya.

Merawat kebinekaan dilakukan dengan Pancasila dan mewaspadai hoaks. "Saya bertemu orang Suriah, Mesir, Afghanistan, Pakistan, dan mereka belajar Pancasila. Orang Suriah itu mengingatkan untuk menjaga negara. Suriah pecah karena hoaks. Di sini agama, suku, golongan banyak tetapi luar biasa rukun. Rumusnya Pancasila," kata Ganjar saat memberikan sambutan.

Dia mengingatkan agar tidak mudah terprovokasi informasi hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian. Akibat dari tiga hal itu adalah menimbulkan gesekan fisik. Hal kedua yang dibahas adalah kemacetan selama mudik.

Ganjar menukil kalimat dari media sosial tentang budaya macet selama mudik. Menurut Ganjar, netizen menyebut pemerintah zalim karena menghilangkan macet dan harga barang tidak naik selama Lebaran.

"Bahasa di medsos itu menyentil penuh perasaan. Tradisi Lebaran itu macet dan harga naik. Nah ini sekarang tidak sesuai tradisi karena infrastruktur sudah bagus. Sekarang orang dari mana pun bisa datang sewaktu-waktu ke sini lalu pulang karena lewat tol. Artinya ekonomi akan tumbuh," ungkap dia.

Pantauan Solopos.com, sejumlah pejabat datang, seperti Bupati -lokasi-wisata-candi-karanganyar-tertinggi-di-indonesia" title="3 Lokasi Wisata Candi Karanganyar Tertinggi di Indonesia">Karanganyar Juliyatmono, Wakil Bupati Karanganyar Rober Christanto, Ketua DPRD Karanganyar Sumanto, caleg DPR RI Paryono, dan sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) Kabupaten Karanganyar.

Selain itu kader, simpatisan, pengurus partai, dan warga sekitar mengikuti open house. Bupati Karanganyar, Juliyatmono, menyambut kedatangan seluruh warga pada open house itu.

Dia menyampaikan permintaan maaf mewakili seluruh warga Karanganyar kepada Gubernur Ganjar. Yuli, sapaan akrabnya, tidak lupa memamerkan keberhasilan kepemimpinan. Dia mengklaim peningkatan perekonomian di Karanganyar 35% setelah pembangunan infrastruktur jalan tol Solo-Kertosono dan flyover di Palur.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten