Ony Suryono Widodo, Area Head Bank Mandiri Solo. / solopos.com - Bayu Jatmiko Adi

Sudah sekitar lima bulan ini, Ony Suryono Widodo, berada di Solo sebagai Area Head Bank Mandiri Solo. Sebelum dari Solo, seperti orang-orang perbankan lainnya, dia pun sempat ditugaskan di beberapa daerah di Indonesia. Sebut saja Tulungagung, Sampit, Kotawaringin, Dumai, dan Purwokerto. Baginya, menjalankan tugas dari satu daerah ke daerah lain bukan menjadi masalah.

"Bagi saya, di mana saja itu sama saja. Harus dinikmati, kalau tidak nanti galau," kata dia saat berbincang dengan Espos di kantornya, Kamis (7/2). Terlebih dia memiliki keluarga yang selalu setia menemaninya. Setiap pindah tugas, maka istri dan kedua anaknya turut serta. Hanya pada saat ini, salah satu anaknya, yakni si sulung Hanif Fakri Suryono, harus menyelesaikan sekolah di bangku kelas XII SMAN 5 Purwokerto. Sedangkan si bungsu Farhan Nabil Suryono ikut pindah dan kini bersekolah di SMAN 4 Solo.

Bagi Ony setiap daerah memiliki cerita menarik. "Di Sampit dulu kalau mendengar suara kapal, berarti besoknya sayur di pasar akan lengkap kembali. Jadi bisa belanja barang-barang kebutuhan rumah. Di Dumai [Riau] kalau mandi harus beli air," kata suami Yulies Happy Irawati itu. Menurutnya, hal itu menjadi pengalaman yang tidak terlupakan sekaligus menguatkan karakter diri karena sudah merasakan hal-hal berat dalam hidup. Bahkan dia menilai ada kelebihan saat hidup berpindah-pindah. Sebab akan mendapatkan teman lebih banyak. "Pernah anak pamit mau ke Jogja karena ada teman dari Dumai main ke Jogja. Sepertinya kalau bisa disikapi baik, menjadi nilai tambah," kata pria kelahiran Semarang, 16 Meret 1971 tersebut.

Ony masuk di dunia perbankan sejak September 1995 di Bank Bumi Daya yang kemudian di-merger dengan beberapa bank lain menjadi Bank Mandiri. Sebelum menjajal dunia perbankan, dia sempat bekerja di pabrik kabel selama enam bulan dan kontraktor selama setahun. Puas merasakan suka duka kerja di bidang teknik sesuai latar belakang pendidikan jenjang sarjananya, yakni di Teknik Arsitektur ITS Surabaya, dia menjajal peruntungan di sektor perbankan. Sekarang, 14 tahun sudah dia bekerja di sektor ini dan cukup puas dengan pekerjaannya.

Dia punya keyakinan apapun yang dicapai, seseorang harus tetap menginjakkan kaki di bumi. Keyakinan ini pula yang dia tularkan kepada karyawan khususnya yang terkait penanganan kredit nasabah. “Jadi saya selalu sampaikan, mulai dulu dari yang kecil, [pinjaman] Rp5 juta dibayar dan dilunasi, tambah Rp10 juta, lalu jadi Rp15 juta. Yang cukup saja. Jangan dapat pinjaman banyak untuk kebutuhan yang tidak produktif, akhirnya utang banyak [gagal bayar],” imbuh dia.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten