Omzet Turun, Pedagang Takjil di UMS Solo Rata-Rata Kantongi Rp100.000/Hari
Sejumlah PKL menjajakan aneka makanan dan takjil menggelar lapak di sepanjang Jalan Garuda Mas kompleks Kampus UMS pada Jumat (8/5/2020). (Solopos/ Sri Sumi Handayani)

Solopos.com, SUKOHARJO – Omzet pedagang takjil di pasar dadakan kawasan Jl Garuda Mas kompleks kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Solo turun.

Padahal lokasi tersebut sering menjadi jujukan orang yang berburu takjil menjelang buka puasa selama Ramadan. Aneka makanan dan minuman dijajakan di tepi jalan mulai dari gapura masuk kampus UMS Solo hingga tembus Jalan Raya Adi Sucipto, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar.

Ada berbagai pilihan makanan ringan sekelas gorengan hingga makanan berat seperti nasi dengan aneka lauk pauk dan sayur. Begitu juga dengan minuman segar mulai dari es teh, es kelapa muda, jus, es kopyor, kolak, es buah, dan lain-lain.

Biasanya, jalan di kawasan kampus UMS Solo itu nyaris selalu macet akibat kegiatan jual beli di pasar dadakan tersebut. Tetapi pemandangan itu kini sirna lantaran jumlah pembeli yang sepi. Malahan jumlah pegadang takjil lebih banyak ketimbang pembeli.

Makin Ngehits, Ini Bayaran Mbah Minto Sekali Ngevlog

Kondisi Pasar

Meski demikian berdasarkan pantauan Solopos.com, masih ada sejumlah pembeli yang datang silih berganti. Mereka berburu aneka takjil yang dijajakan pedagang di sepanjang Jl Garuda Mas.

Para pedagang masih meyakini Ramadan adalah bulan pernuh berkah yang mendatangkan rezeki. Hal tersebut disampaikan pedagang tahu petis di kawasan UMS Solo, Nur Khasanah. Wanita asal Sumber, Banjarsari, Solo itu menjual tahu petis seharga Rp5.000 per paket isi lima.

Update Data Corona Indonesia 9 Mei 2020: Kasus Positif Tambah 533, Tembus 13.645

Ini merupakan Ramadan kesekian baginya berjualan takjil di pasar dadakan kawasan UMS Solo. Tetapi, kali ini dia merasa jumlah pembeli menurun drastis.

"Sudah lima atau enam kali ini saya berjualan di sini selama Ramadan. Tahun-tahun sebelumnya ramai. Jalan ini sampai tidak bisa dilewati. Orang berdesak-desakan mau jajan menjelang buka puasa. Sekarang yang jual takjil berkurang. Pembeli juga berkurang," tutur dia saat berbincang dengan Solopos.com sembari melayani pembeli, Jumat (8/5/2020).

Tutup Lebih Awal

Kondisi itu mempengaruhi omzet Nur Khasanah. Pada Ramadan tahun kemarin dia bisa meraup Rp1 juta hingga Rp2 juta per hari dengan berjualan takjil.

Tetapi pada Ramadan ini dia hanya mengumpulkan Rp500.000 hingga Rp700.000 per hari. Tahun kemarin, Nur akan berjualan hingga pukul 20.00 WIB hingga 21.00 WIB atau selepas tarawih. Tetapi tahun ini, dia menutup lapak pukul.19.00 WIB.

Hal senada disampaikan warga Gonilan, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo, Sulasmi. Saban hari dia membuka warung makan masakan Jawa Moroseneng di Jl Bangau 144 Nilasari.

Rumah Pemotongan Ayam di Nusukan Solo Dibobol Maling, Pelaku Diduga Mantan Karyawan

Jika pada Ramadan lalu, dia hanya membuka warung. Kini dia menjajal peruntungan buka lapak di pasar takjil dadakan UMS Solo. Sejak hari pertama Ramadan dia menjajakan aneka nasi bungkus, kolak, dan lauk-pauk lainnya mulai pukul 16.00 WIB.

Tetapi dagangannya tidak seramai biasanya lantaran mahasiswa indekos di sekitar kampus telah mudik. Kini, dalam sehari dia hanya mampu mengumpulkan uang maksimal Rp200.000.

"Anak indekos pulang ke rumah masing-masing. Indekos sepi. Pembeli di warung hanya warga sekitar. Solusinya jualan takjil di pinggir jalan kalau sore hari. Sehari paling banyak dapat Rp200.000 dan paling dikit Rp100.000. Penghasilan otomatis turun bisa sampai empat kali lipat dibanding kondisi normal. Satu jenis makanan saya jual Rp5.000," ujar dia.

Mengharap Berkah Ramadan

Senasib dengan Nur dan Sulasmi, Yuni Rusita, warga Desa Pucangan, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo, juga masih mengharap berkah Ramadan. Sehari-hari dia menjual aneka takjil di pasar dadakan UMS Solo.

Ini merupakan pengalaman pertamanya berjualan takjil saat Ramadan. Penghasilannya berkisar antara Rp40.000 hingga Rp100.000 per hari yang diperoleh dari berjualan es buah, es kopyor, es kolak, nasi bungkus, sayur, dan lain-lain.

4 Tips Lebaran di Rumah Aja Tanpa Perlu Mudik

Salah satu pembeli yang tinggal di Gonilan, Abdul, mengaku terkadang jajan di Jalan Garuda Mas. Biasanya dia membeli kolak dan gorengan untuk berbuka puasa. Abdul menyampaikan kondisi jalan di kompleks kampus UMS Solo itu sepi pada awal Ramadan. Tetapi berangsur-angsur ramai pada pertengahan Ramadan ini.

"Sekarang lumayan dibandingkan awal Ramadan. Tetapi kalau dibandingkan tahun sebelumnya ya sepi. Biasanya enggak bisa lewat kalau pas menjelang buka puasa. Saya pilih enggak mampir kalau dulu. Kalau sekarang relatif longgar," ujar dia saat berbincang dengan Solopos.com di sela-sela membali kolak.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom