Ombudsman: Enggak Mungkin Kepala SMPN 1 Turi Tak Tahu Susur Sungai
Warga berdatangan ke Sungai Sempor. di Turi, Sleman, lokasi tenggelamnya siswa SMPN 1 Turi, Jumat (21/2/2020). (Harian Jogja-Hafit Yudi Suprobo)

Solopos.com, JOGJA -- Kepala SMPN 1 Turi, Tutik Nurdiana, memang mengaku tidak tahu kegiatan susur Sungai Sempor, Kecamatan Turi, Sleman, pada Jumat (21/2/2020) lalu yang berujung meninggalnya 10 siswa. Namun Ombudsman tidak begitu saja percaya pengakuan Tutik.

Sebanyak 249 siswa SMPN 1 Turi mengikuti susur sungai namun kegiatan itu menjadi tragedi yang berujung meninggalnya 10 siswa karena hanyut terbawa arus. Dua orang guru pembina pramuka telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus itu.

Kepala Ombudsman RI (ORI) Perwakilan DIY, Budi Masturi, mengatakan kepala sekolah patut diduga tahu mengenai aktivitas yang dilakukan jajaran di bawahnya. Pasalnya, secara jabatan dan posisi seorang kepala sekolah harus tahu segala kegiatan di sekolahnya.

Grab dan Gojek akan Gabung?

"Dia tidak bisa bilang tidak tahu soal kegiatan susur sungai [Sempor] itu," jelasnya, Selasa (25/2/2020).

Budi menyebut dalam tata kelola sekolah, ada sistem laporan berjenjang. Jika staf ataupun anak buahnya tidak melaporkan kegiatan, kepala sekolah seharusnya bertanya.

"Kan enggak mungkin ratusan muridnya tidak ada di sekolah kok tidak dicari tahu," katanya.

Viral Lagi, Rahmat Hs Sebut Banjir Jakarta Cuma Hari Libur karena Anies Baswedan

Budi menegaskan, secara tata kelola manajemen, sekolah juga seharusnya tahu tugas anak buahnya. Namun ketika ditanya apakah kepala sekolah patut ditetapkan sebagai tersangka, dia menyerahkannya kepada kepolisian.

"Hormati proses yang sedang berlangsung walau sudah ada tiga orang yang jadi tersangka," katanya.

ORI mengapresiasi kinerja pihak terkait dalam proses pencarian dan evakuasi korban susur sungai. Hal penting lainnya adalah mendampingi dan memulihkan kondisi psikologis murid lainnya yang trauma dari kejadian itu.

Digeruduk Massa karena Dituding Biang Banjir, AEON Mall Cakung Jaktim Tutup

"Di SMPN 1 Turi sudah ada psikolog yang memberikan pendampingan terhadap murid-murid," imbuhnya.

Sebelumnya, Tutik mengatakan kegiatan Pramuka di sekolah itu bukan kali pertama. Dia beralasan kegiatan tersebut sebagai implementasi dari Kurikulum 2013. Di sekolah, kegiatan tersebut digelar setiap Jumat sebagai bagian ekstra kurikuler dan biasanya digelar di dalam lingkungan sekolah.

Kegiatan yang berakhir dengan tenggelamnya para siswa tersebut didampingi oleh tujuh guru sekaligus pembina Pramuka di sekolah. "Hanya saja pada Jumat kemarin kegiatan dialihkan ke luar sekolah. Memang ada perubahan kegiatan [dari dalam sekolah ke luar]," katanya.

Ganjar Pranowo Banjir Pesanan Kaus Gubernur Garis Lucu, Ini Asal-Usulnya

Tutik mengaku tidak diberitahu oleh para pembina perihal perubahan lokasi kegiatan Pramuka tersebut, apalagi terkait kegiatan susur Sungai Sempor. Meski demikian Tutik tidak merasa janggal dengan kegiatan susur sungai yang diikuti oleh ratusan siswa karena didampingi oleh guru-guru pembina.

Sumber: Harian Jogja


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho