Ruby Agil Hasan (Istimewa)

Solopos.com, SOLO -- Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Ruby Agil Hasan, membuat obat herbal sebagai alternatif penyembuhan demam berdarah dengue (DBD) berbentuk permen kunyah berbahan dasar tanaman patikan kebo (euporbia hirta).

Penemuan mahasiswa Prodi Agribisnis Agrofarmaka Fakultas Pertanian UNS Solo itu berawal ketika dia menjenguk kakaknya yang sedang sakit DBD dan harus diopname selama beberapa hari di Rumah Sakit UNS Kartasura, Sukoharjo, Maret lalu.

Saat itu, dia melihat penyakit yang ditularkan nyamuk aedes aegypti itu sangat menyiksa. Penyakit ini menyebabkan kakaknya mengalami demam tinggi, lemah, bahkan pembengkakan sendi.

Sepulang dari rumah sakit, di dekat tempat tinggalnya di sekitar kampus UNS Solo, dia melihat tanaman patikan kebo yang tumbuh di halaman. Mahasiswa semester V ini melakukan studi literasi dari berbagai referesnsi tentang khasiat tanaman itu.

“Tanaman ini ternyata dipercaya turun-temurun bisa menyembuhkan demam berdarah dengue [DBD], dan malah sudah ada penelitiannya sehingga saya ingin mencoba memanfaatkan tanaman ini untuk obat,” ujarnya.

Tapi saat itu dia tidak serta-merta langsung mencoba. Dia sempat mengomparasikan bahan-bahan lain yang membantu penyembuhan DBD, antara lain sari kurma dan jambu biji.

“Menurut saya, kedua bahan ini harganya lebih mahal dan bahannya tidak selalu ada di sekitar kita. Sedangkan tanaman patikan kebo ini murah bahkan tidak perlu dibeli karena jumlahnya melimpah di sekitar kita,” ujarnya.

Berbentuk Permen

Selain itu, Ruby Agil Hasan juga berpikir untuk membuat obat yang bisa dikonsumsi semua umur, mengingat DBD juga banyak diderita anak-anak. Sehingga timbul ide untuk membuat obat dalam bentuk permen yang disukai anak-anak.

Agil pun dibimbing dosennya di Fakultas Pertanian, Mei Tri Sundari, dan pada waktu lebih lanjut juga dibimbing Bara Yudhistira dan Rita Rakhmawati, dan untuk mewujudkan rencana itu.

Mahasiswa kelahiran Cilacap, Mei 1999, tersebut juga menambahkan bahan lain yakni jahe dan madu.

“Bahan utamanya adalah tanaman patikan kebo untuk mengobati demamnya, jahe mengandung antiinflamasi untuk membantu meredakan pembengkakan pada sendi dan antimual, sedangkan madu sebagai pemanis alami dan berkhasiat meningkatkan stamina,” imbuhnya.

Selain itu, dia tambahkan pula gelatin untuk pengenyal agar permen bisa dikunyah dengan mudah oleh pasien yang masih merasa lemas.

Sementara itu, secara garis besar, pembuatan permen herbal untuk DBD ini dimulai dari perebusan tanaman patikan kebo. Semua bagian dari tanaman ini (kecuali akar) seberat 50 gram direbus dengan air sebanyak 200 ml.

Setelah mendidih, dicampur madu dan air rebusan jahe yang sudah disiapkan secara terpisah, berikut pengentalnya. Selanjutnya, cairan tersebut dituangkan ke dalam cetakan yang masing-masing sebesar bola kelereng.

“Saya pilih cetakan yang lucu-lucu seperti kepala boneka beruang agar disukai anak-anak. Satu adonan tadi bisa untuk membuat 50 buah permen,” ujarnya.

Untuk mengobati DBD, permen ini dikonsumsi tiga kali sehari masing-masing dua buah sekali makan.

Sementara itu, permen kunyah yang ia manai Oliswel ini juga diikutkan dalam pemilihan mahasiswa berprestasi 2019, dan Agil menjadi wakil UNS Solo untuk maju ke tingkat nasional Mei lalu. Meski belum masuk dalam 15 besar tingkat nasional, namun tidak mematahkan semangat Agil untuk mengembangkan produk kesehatan yang dia buat.

“Produk ini memang belum kami ujicobakan kepada pasien maupun laboratorium. Tapi setidaknya ini menjadi harapan atas adanya alternatif pengobatan DBD selain pengobatan dengan kimia,” ujar alumni SMAN 1 Cilacap tersebut.

Dia juga berencana menggali kerja sama dengan produsen permen herbal untuk pengembangannya.

Sementara itu, Rita Rakhmawati mengatakan temuan ini perlu diapresiasi sebagai alternatif pengobatan DBD. Namun dia mengakui untuk pengembangan obat ini masih harus dilakukan penelitian lebih lanjut untuk kompisisi idealnya.

“Untuk kasiat masing-masing bahan ini dasarnya studi literasi yang sudah dilaporkan, bukan diteliti sendiri oleh mahasiswa ini. Dalam penelitian disebutkan euphorbia hirta memang memiliki aktivitas anti-dengue dan terbukti meningkatkan trombosit. Tapi dalam penelitian itu yang diteliti adalah air rebusannya. Sedangkan yang dibuat sekarang adalah dalam bentuk permen dan dikombinasikan dengan bahan lain,” ujarnya.

Penelitian selanjutnya juga ditujukan untuk mengetahui kemungkinan adanya sinergisme atau antagonisme.

“ Harapan kami, bahan-bahan di dalam permen itu cocok, tidak terjadi antagonisme,” harapnya. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten