Ilustrasi menginap di hotel. (blueswandaily.com)

Solopos.com, SURABAYA -- Momentum libur Lebaran membawa dampak menggembirakan terhadap tingkat okupansi hotel di Jawa Timur (Jatim) seiring dengan adanya tren mudik di jalur darat menggunakan kendaraan pribadi.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jatim, Herry Siswanto, mengatakan umumnya selama momen Lebaran usaha hotel mengalami pertumbuhan, hanya saja untuk tahun ini bisa lebih bagus karena didorong oleh faktor hari libur yang panjang dan infrastruktur jalan tol baru.

“Dengan adanya infrastrukur baru, banyak masyarakat memilih untuk menggunakan mobil pribadi saat mudik, apalagi harga tiket pesawat juga mahal. Lalu mereka yang menempuh perjalanan jauh, membutuhkan tempat untuk istirahat atau menginap,” katanya, Jumat (14/6/2019).

Panjangnya momen libur Lebaran, tambah dia, membuat masyarakat memiliki banyak waktu untuk menikmati liburan. Kondisi tersebut terlihat dari tingginya tingkat hunian hotel di daerah kawasan wisata di Jatim.

“Peningkatan rata-rata okupansi hotel ini bahkan sudah terjadi pada H-5 Lebaran yang tembus 84%, tapi setelah Lebaran berakhir maka kembali turun atau normal yang saat ini okupansi rata-rata menjadi sekitar 58%,” imbuhnya.

Herry Siswanto menambahkan untuk kinerja okupansi hotel di sepanjang semester I/2019 ini tercatat mencapai 69%. Pengusaha hotel di Jatim pun menargetkan supaya tingkat hunian hotel sampai akhir tahun ini bisa mencapai 76%.

Berdasarkan data BPS, jauh sebelum momen Ramadan, yakni pada April 2019, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel di Jatim turun 0,46 poin menjadi 53,01% dibandingkan bulan sebelumnya. Rerata lama menginap tamu keseluruhan pada April tersebut juga turun 0,08 poin dari 1,77 hari menjadi 1,69 hari.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten