Ojek Online Ramai-Ramai Pulang Kampung
Pengemudi ojek online menunggu penumpang di depan Stasiun Sudirman, Jakarta, Senin (25/3/2019). (Antara-Indrianto Eko Suwarso)

Semarangpos.com, SEMARANG — Jaket hijau tampak mencolok di tengah panas terik jalan arteri jalur pantai utara (pantura) Pulau Jawa. Di belakangnya, ada kardus atau tas besar yang diikat dengan tali ke badan sepeda motor.

Berdasarkan pengamatan Tim Jelajah Jaringan Informasi Bisnis Indonesia di sepanjang ialur pantura Jawa Barat hingga Jawa Tengah, pengemudi ojek online atau ojek daring yang mengenakan jaket dinas khas mereka tampak beriringan mudik.

Warga perkotaan pastilah heran melihat pengendara yang biasanya sigap membelikan makanan atau mengantar-jemput via aplikasi, kini beriringan di jalan raya bersama, menuju kampung halaman. Beberapa pengemudi ojol ini pun bisa ditebak akan mudik ke arah mana, lewat awalan pelat nomor mereka yang didominasi area Jawa Tengah (Jateng) dan Jawa Timur (Jatim).

Pengamat Transportasi Universitas Katolik Soegijapranata Djoko Setijowarno sebelumnya telah memprediksi bahwa meningkatnya pemudik bersepeda motor berhubungan dengan fenomena pulang kampung para pengemudi ojol ini. "Pemudik sepeda motor tahun ini diperkirakan meningkat 10,7% dibanding tahun lalu. dari 6,1 juta unit pada 2018 menjadi 6,8 juta unit pada mudik tahun ini," ujarnya, Sabtu (1/6/2019).

Djoko, yang juga Peneliti Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), mengatakan kenaikan tersebut kemungkinan karena banyak warga luar Jakarta yang merantau ke ibu kota negara untuk menjadi pengemudi ojek. Hal ini dibenarkan Nur Haris, salah seorang pengemudi ojol dalam komunitas ojek daring Grand Duta Sangiang Tangerang, yang akan mudik ke kampung halamannya di Brebes, Jateng.

Pria yang akrab disapa Aris ini kerap mengambil order di kawasan Jabodetabek, sehingga dirinya berani menyimpulkan bahwa kawan-kawan pengemudi ojol dari Jateng, Jatim, dan Jawa Barat (Jabar) memang lebih memilih menggunakan sepeda motor untuk mudik. "Teman-teman memang banyak sih yang mudik menggunakan roda dua. Karena mereka pikir itu aset mereka, itu yang mereka punya. Jadi pulangnya ya motoran," ujarnya kepada JIBI, Jumat (31/5).

Meski berbeda asal kampung halaman, Aris menegaskan yang terpenting adalah para pengemudi ojol tersebut sanggup bersatu di medan perantauan. Sebab, walaupun saling bersaing di balik aplikasi, para pengemudi ojol mesti tetap berhubungan baik dan saling menjaga.

Dia menuturkan jalan raya tempat mereka mencari makan memang terlampau kejam bagi mereka yang tak suka berkawan.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya








Kolom