Sejumlah angkot menunggu penumpang di Jl. Sunan Kudus, Jawa Tengah, Rabu (13/11/2019). (Antara-Akhmad Nazaruddin Lathif)

Solopos.com, KUDUS — Sejumlah awak angkutan kota di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mengeluhkan sepinya penumpang sejak kehadiran ojek online (ojol) atau angkutan dalam jaringan (daring) di Kota Kudus. Menurut mereka, jumlah penumpang yang terangkut kini semakin berkurang.

"Jika sebelumnya setiap pagi masih bisa mengangkut pelajar ke sekolah, kini sama sekali tidak ada pelajar yang naik angkot," kata salah seorang sopir angkutan kota jurusan Terminal Jetak-Terminal Induk Jati saat menghadiri penyuluhan pengusaha dan pengemudi angkutan orang dan barang di Aula Kantor Dinas Perhubungan Kudus, Jawa Tengah, Rabu (13/11/2019).

Menurut dia, kini banyak pelajar yang beralih menggunakan ojek online sehingga angkot tidak lagi mendapatkan penumpang pada pagi hari. Kalaupun masih ada yang mendapatkan penumpang, kata dia, hanya satu atau dua orang. Padahal, sebelumnya bisa penuh hingga 15 penumpang.

Kondisi tersebut, lanjut dia, diperparah dengan permasalahan angkutan dari luar daerah yang mengangkut pekerja pabrik rokok justru sampai ke pabrik, bukannya diturunkan di tempat pemberhentian mereka di kawasan Hypermart Kudus.

Ia berharap Dinas Perhubungan Kudus bertindak tegas terhadap pelanggar trayek tersebut, mengingat penindakan terhadap ojek daring hingga kini belum ada aturannya.

Hal senada juga diungkapkan Narto, sopir angkutan jurusan Terminal Jetak-Terminal Induk Jati, yang mengakui sejak kehadiran ojek daring jumlah penumpang yang bisa diangkut semakin berkurang. "Jika sebelumnya bisa melayani pelajar, kini hanya tersisa buruh pabrik rokok," ujarnya.

Apabila pabrik rokok tidak beroperasi, kata dia, awak angkot tidak bisa mendapatkan pemasukan karena penumpang umum sudah sangat jarang menggunakan angkot. Para sopir angkot, katanya, rela antre di setiap pabrik rokok untuk menunggu buruh pabrik pulang untuk diantar sesuai jalur trayek.

Akibatnya, lanjut dia, pemasukannya juga tidak menentu karena sehari terkadang hanya bisa membawa pulang uang Rp25.000 dan terkadang juga harus merugi karena setiap hari harus setor Rp60.000. Demi mencukupi kebutuhan, dirinya harus mencari pemasukan lain lewat jasa pengantaran orang menuju tempat tertentu.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Abdul Halil mengakui permasalahan ojek daring tidak hanya terjadi di Kudus, melainkan terjadi di semua daerah di Tanah Air. "Kami tidak bisa menindak karena memang tidak ada aturannya. Hanya saja, untuk angkutan luar daerah yang mengangkut buruh pabrik justru melanggar trayek akan kami tertibkan," ujarnya.

Dalam waktu dekat, kata dia, jajarannya akan menggelar operasi guna menertibkan angkutan luar kota yang melayani penumpang hingga ke pabrik rokok. Selain faktor merebaknya angkutan daring, kemudahan membeli sepeda motor juga semakin membuat angkutan umum terpinggirkan dan sepi penumpang.

Ia menyarankan awak angkot untuk meningkatkan kualitas pelayanannya agar kembali menjadi angkutan penumpang primadona di Kudus.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten