Tutup Iklan
Obituarium Seniman Mbeling
Bandung Mawardi/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Jumat sebagai hari suci untuk peristiwa sudah dimengerti Jeihan Sukmantoro. Kematian. Ia sudah mengalami dan mengerti kematian sejak bocah. Ia hidup di rahim Jawa. Pengalaman yang memerlukan tafsir-tafsir kejawen dia peroleh selama menjalani masa-masa bocah dan remaja di Ngampel (Boyolali) dan Solo.

Seniman mbeling itu lahir di kaki Gunung Merbabu, menanggung nasib sial dan mendendam sejak kecil. Peristiwa-peristiwa di rumah, kampung, dan sekolah membentuk Jeihan sebagai manusia unik dan menggelitik. Pada Jumat, 29 November 2019, pelukis kondang itu pamit meninggalkan dunia “sini”.

Ia pamit bukan meninggalkan duka, tapi cerita-cerita bergelimang sindiran, tawa, dan biografi pelik. Jeihan dilahirkan pada 26 September 1938. Ia mencipta biografi di Boyolali, Solo, dan Bandung. Semula ia manusia sakit, manusia terbuang, manusia terasing, manusia bodoh, dan manusia penuh dendam.

Pada saat sanggup ”membaca” diri dan dunia, Jeihan menjadi manusia mbeling, menularkan kegilaan-kegilaan di seni rupa dan sastra. Ia seperti bersumpah akan mbeling secara sempurna. Kita bisa memulai menghormati Jeihan Sukmantoro dengan puisi berjudul Buku yang digubah pada 1973.

Di Bandung, Jeihan menjadi tokoh penggerak penulisan puisi-puisi mbeling yang menggegerkan sastra Indonesia. Mbeling atas pengeramatan sastra cap Majalah Horison, penerbit-penerbit buku sastra angkuh, dan institusi-institusi pendidikan yang berlagak mengajarkan sastra agung.

Di puisi itu Jeihan menulis dua larik saja: bukuku/ kubuku. Kini, puisi itu mungkin bisa dipilih jadi slogan gerakan keaksaraan abad XXI atau dikutip untuk iklan penerbit-penerbit buku kecil. Ia memainkan dua kata dengan pendakuan ”aku”. Ia memberi maklumat buku membentuk kubu.

Jeihan agak sombong menaruh perkara buku dalam puisi. Buku mengingatkan babak masa lalu. Jakob Sumardjo dalam buku berjudul Jeihan: Ambang Waras dan Gila (2007) mencatat Jeihan telat masuk sekolah. Pada 1952, Jeihan dolan dan mendekam di Himpunan Budaya Surakarta atau HBS. Di situ ia tekun belajar menggambar.

Mengurusi Teater

Ada teman dia yang iseng-iseng berkata,”Jeihan, kamu sekolah di mana?” Jeihan menjawab polos,”Belum sekolah.” Saat itu ia berusia 14 tahun. Ia mulai berpikiran tentang sekolah, malu melihat teman-temannya sudah duduk di bangku SMP. Jeihan mengaku malu jika memulai dari SD.

Pada masa remaja, Jeihan belum bersekolah tapi sudah mampu membaca dan menulis dalam huruf Latin dan Jawa. Ia masuk SMP persamaan. Lulus. Ia melanjutkan ke SMA 3 Margoyudan. Jeihan mulai tampil sebagai manusia penting dan mbengkaleng di sekolahan. Ia mengurusi teater dan memimpin pembuatan majalah dinding.

Episode itu penting gara-gara Jeihan sering memuat puisi-puisi gubahan Sapardi Djoko Damono di majalah dinding. Pada saat remaja, Jeihan membuktikan ”pintar” di seni dan mengerti buku itu kubu. Di SMA, Jeihan mbeling tapi bermutu. Guru-guru menganggap Jeihan itu cah edan keturutan.

Pengembaraan berlanjut ke Bandung. Ia sengaja tak ingin kuliah di Akademis Seni Rupa Indonesia atau ASRI di Jogja. Tempat yang terlalu dekat dengan Solo. Ia sudah mengerti ada alur mirip dalam sinau rupa setelah tekun di HBS. Di Institut Teknologi Bandung (ITB), Jeihan sah mbeling meski sempat melarat.

Kita bisa memahami babak ke-mbeling-an Jeihan di Bandung dengan membaca puisi-puisi gubahan Jeihan. Pada 2000, puluhan puisi lama dan baru Jeihan diterbitkan menjadi buku berjudul Mata Mbeling Jeihan. Puisi bertahun 1971 dengan judul Pesan mengejutkan umat sastra beriman di Indonesia.

Puisi mbeling dan menjengkelkan. Jeihan menulis: I mie bakso/ I es jeruk// Cepat! Puisi itu memiliki gelagat beraliran kuliner. Puisi terkeren dari masa 1974 berjudul  Nelayan. Saya menduga puisi itu digubah gara-gara Jeihan tergila-gila membaca buku atau mempelajari tasawuf.

Pada masa 1970-an, para intelektual dan seniman Indonesia lazim membaca esai-esai dan puisi-puisi gubahan Mohammad Iqbal, pujangga dan filsuf asal Pakistan. Goenawan Mohamad, Ali Audah, Taufiq Ismail, Bahrum Rangkuti, dan Abdul Hadi W.M. rajin menerjemahkan tulisan-tulisan Iqbal.

Ada gagasan Iqbal mengenai Tuhan dan kemampuan-mencipta manusia. Akal dan imajinasi dijadikan penentu manusia ”mengikuti” Tuhan dalam mencipta dan mencipta meski di kefanaan, termasuk penggunaan idiom perahu dan tanah.

Jeihan berkelakar: di tengah laut/ seorang nelayan berseru/ Tuhan bikin laut/ beta bikin perahu/ Tuhan bikin angin/ beta bikin layar/// tiba-tiba perahunya terguling// ah, beta main-main/ Tuhan sungguh-sungguh. Penciptaan kadang-kadang membuat manusia sombong mau menandingi Tuhan.

Di puisi, Jeihan mengerti dirinya memiliki kemampuan mencipta di sastra dan seni rupa. Puisi Jeihan membikin kita tertawa, ajakan kita ”menertawakan” lakon hidup dan mati Jeihan. Sekian puisi menguak religiositas Jeihan.

Berselera Solo

Mbeling dalam urusan hidup terasakan pula di puisi-puisi bernada meledek situasi zaman. Ia menulis puisi berjudul Abad Dua Puluh. Jeihan menulis 20 larik berisi tanda X sejumlah 20. Di akhir, ia masih menulis XX dengan kalimatt ledekan “kita mau ke mana?”

Jeihan di ITB pada 1960-1966. Segala konflik dan ruwet mengakibatkan ia memutuskan meninggalkan kampus itu dengan mendendam. Jakob Sumardjo mencatat bahwa hubungan Jeihan dan ITB bisa dipandang sebagai ”pasangan perseteruan” dan ”pasangan perkawinan”. Jeihan berselera Solo. ITB berkesan kubis abstrak. ITB membentuk disiplin akademis. Jeihan telanjur lama membawa watak sanggar sejak sinau menggambar di Solo.

Di Bandung, ia menikah dan menetap, tak pulang ke Ngampel atau Solo. Di sana, ia mendapat teman dan tetangga: Jakob Sumardjo. Tetangga itu pengajar dan kritikus sastra yang berasal dari Klaten. Berdua mereka masih mengangankan Jawa rasa Solo tapi memilih hidup di tanah Pasundan. Di Bandung, dua tokoh itu akrab dan mencipta kejutan-kejutan.

Konon, Jeihan Sukmantoro adalah pelukis kondang tapi pergaulan malah sering bersama orang-orang sastra. Dulu, selama di Solo, ia menjalin hubungan erat dengan Sapardi Djoko Damono. Pada saat remaja, mereka pernah sesumbar bakal jadi seniman besar. Sesumbar diucapkan saat nongkrong di kuburan Belanda (kerkhoff).

Pada masa 1950-an, Jeihan meramal kelak bakal jadi pelukis terkenal. Sapardi Djoko Damono, lelaki kalem yang selalu ditulari mbeling itu berucap ingin menjadi pujangga moncer. Omongan mereka terkabul. Di sejarah penerbitan buku sastra, kita mencatat kumpulan puisi Sapardi Djomo Damono berjudul dukaMu abadi memang diongkosi Jeihan.

Gambar di sampul buatan Jeihan. Jeihan kondang dan sugih duluan, memenuhi janji membahagiakan teman. Ikhtiar memenuhi sesumbar bersama tampak di terbitan Majalah Basis, 1964-1969. Dua orang itu rajin tampil di Basis. Jeihan memberi  vignet dan Sapardi Djoko Damono memberi puisi.

Penghormatan                                                                                  

Pada saat dua tokoh itu menikah, redaksi Basis memberi penghormatan dengan memasang pengumuman dan ucapan selamat pernikahan kepada mereka. Pada masa 1970-an, rumah Jeihan di Bandung menjadi markas untuk para sastrawan: Remy Sylado, Abdul Hadi W.M., Sutardji Calzoum Bachri, dan lain-lain.

Di situ sejarah gerakan puisi mbeling dibesarkan dan diedarkan ke pelbagai kota. Kini, orang-orang sastra berusia 20-an tahun atau 30-an tahun mungkin tak mengenali Jeihan di jagat sastra. Pengenalan Jeihan sebagai pelukis perempuan bermata hitam pun mungkin terbatas.

Pada usia tua, Jeihan terus mengurusi sastra. Ia mulai mengingat Solo dengan larik ”bukuku, kubuku”. Ia membantu penerbitan buku-buku Sapardi Djoko Damono dan terbukti turut dalam penerbitan buku Kastoyo Ramelan mengenai Paku Buwono X.

Tua mengembalikan ingatan masa lalu. Jeihan memang memiliki darah biru, ada kaitan dengan orang dalam keraton. Manusia mbeling atau manusia di ambang waras dan gila itu mencapai hal-hal mengejutkan dalam hidup. Ia pelukis kondang berlimpahan duit. Jadilah ia penderma.

Mbeling masih berlaku saat duit terus bertambah. Ia memilih berpenampilan sederhana saja. Hal itu membuat orang-orang sering meremehkan. Pada saat di restoran, ia diremehkan oleh pegawai. Jeihan ”marah” dan minta bertemu pemilik restoran. Jeihan enteng berucap ingin membeli restoran itu gara-gara disepelekan sebagai konsumen.

Di hotel, kejadian sama terjadi. Ia sodorkan uang dan mengatakan ingin membeli hotel. Jeihan tak mau diremehkan tapi mengerti situasi zaman gila. Jakob Sumardjo saja pernah bimbang saat tanah sekampung dibeli Jeihan. Kritikus sastra itu berharap agar Jeihan tak nekat membeli rumah tersisa: rumah Jakob Sumardjo.

Jeihan mesem dan menenangkan bahwa rumah Jakob Sumardjo tak bakal dibeli untuk dijadikan tetangga dan sahabat. Persahabatan itu menghasilkan buku-buku. Mereka sekubu di buku. Kini, Jeihan pamit dengan album cerita mbeling. Ia tak bermaksud membuat kehebohan mubazir.

Sejak mula, Jeihan mengerti laku di seni dan tafsir hidup berpatokan kejawen dan tasawuf Islam. Kita bisa mengartikan Jeihan mengacu ke buku berjudul Sufisme Jawa (2019) garapan Simuh. Di lakon mbeling, kata dan rupa menjadi ungkapan simbolik di keimanan dan pewartaan pesan-pesan kemanusiaaan.

Jeihan mengalami itu bermula dari kaki Gunung Merbabu sampai ke pengembaraan ke Bandung. Pembentukan diri mbeling menguak religiositas dan kepekaan zaman.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom

Pasang Baliho